Era AI, Arsitek Dituntut Adaptif dan Tak Terjebak Perang Harga

Newswire
Newswire Selasa, 22 September 2026 05:17 WIB
Era AI, Arsitek Dituntut Adaptif dan Tak Terjebak Perang Harga

AI mengubah bisnis arsitektur. Pendiri Aboday menyebut biaya setiap presentasi bisa dihemat sekitar Rp25 juta berkat teknologi tersebut. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN—Perkembangan Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara biro arsitektur menjalankan bisnis. Selain mempercepat proses kerja dan menekan biaya, pemanfaatan teknologi tersebut juga mengubah peta persaingan serta menuntut pelaku industri arsitektur semakin fleksibel.

Perubahan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Karya & Pameran Arsitektur Indonesia (Sakapari) yang diselenggarakan Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat (19/9/2026).

Pendiri biro arsitektur Aboday, Rafael David, mengatakan pemanfaatan AI memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi pengeluaran, terutama dalam proses presentasi dan pembuatan materi visual.

Menurutnya, integrasi AI pada setiap tahapan presentasi dan pengerjaan materi visual memungkinkan biro menghemat biaya hingga puluhan juta rupiah.

"Ternyata menggunakan AI secara metriksasi, untuk setiap presentasi yang saya hasilkan dengan teman, saya meng-save sekitar 25 juta untuk setiap presentasi," ujar Rafael David dalam acara tersebut.

Penghematan tersebut terjadi karena pekerjaan visualisasi yang sebelumnya menggunakan jasa pihak luar atau sub-contractor, termasuk spesialis artist impression, kini dapat dikerjakan secara internal.

Selain dapat menekan biaya, proses pengerjaan juga menjadi lebih cepat. Perubahan tersebut secara langsung berdampak terhadap efisiensi belanja operasional biro arsitektur.

AI Ubah Peta Pekerjaan Arsitektur

Di sisi lain, efisiensi yang dihasilkan AI turut memberikan tekanan terhadap sejumlah pekerjaan konvensional. Penyedia jasa visualisasi dan materi promosi arsitektur yang selama ini menjadi bagian dari kebutuhan para pengembang atau developer mulai menghadapi perubahan pasar.

Kondisi tersebut membuat penyedia jasa harus melakukan perubahan strategi bisnis atau pivoting agar dapat mempertahankan keberlangsungan usaha.

Tidak hanya pekerjaan visual, otomatisasi workflow juga semakin berkembang dalam praktik arsitektur. Sejumlah platform digital kini dapat diintegrasikan sehingga proses kerja yang sebelumnya dilakukan secara manual dapat dipangkas.

Salah satu contohnya adalah integrasi model tiga dimensi ke dalam perangkat lunak Building Information Modeling (BIM), seperti Revit. Perkembangan otomatisasi tersebut kemudian menjadi kemampuan yang perlu dikuasai calon lulusan arsitektur.

Arsitek Muda Diminta Tak Terjebak Perang Harga

Di tengah perkembangan teknologi dan persaingan pasar yang semakin dinamis, Rafael mengingatkan calon arsitek agar tidak terjebak dalam perang harga atau price war.

Menurutnya, orientasi mengejar keuntungan finansial dengan mengorbankan kualitas desain dapat menjadi persoalan bagi profesi arsitektur. Hal serupa juga berlaku pada praktik menggabungkan desain dan pengerjaan fisik atau design and build apabila dilakukan dengan mengesampingkan nilai estetika serta idealisme desain.

Praktik tersebut dinilai berisiko mendiskreditkan profesi arsitektur itu sendiri.

Sementara itu, dosen Program Studi Arsitektur UII, Agus Setiawan, mengatakan karakter desain yang unik, portofolio yang jelas, serta pemahaman mendalam mengenai fungsi teknologi menjadi sejumlah bekal penting bagi arsitek muda.

Kemampuan tersebut dibutuhkan agar para arsitek muda dapat tampil menonjol dan tidak terjebak dalam keseragaman karya yang berpotensi muncul di tengah penggunaan AI.

Tema Sakapari kali ini mengangkat perubahan dan tantangan profesi arsitek di tengah perkembangan teknologi, perubahan struktur ekonomi, tuntutan keberlanjutan, serta perubahan kebutuhan dan ekspektasi masyarakat.

"Kehadiran teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Building Information Modeling (BIM), fabrikasi digital, desain berbasis data, serta perkembangan ekonomi berbasis platform telah membawa perubahan terhadap cara arsitektur dirancang, diproduksi, dan disampaikan kepada masyarakat," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online