Angka Pernikahan di Kulonprogo Terus Menurun, Kemenag Ungkap Pemicunya

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Rabu, 30 September 2026 15:47 WIB
Angka Pernikahan di Kulonprogo Terus Menurun, Kemenag Ungkap Pemicunya

Foto ilustrasi pernikahan. - Freepik

Harianjogja.com, KULONPROGO—Angka pernikahan di Kabupaten Kulonprogo terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kulonprogo mencatat jumlah pernikahan turun hingga ratusan pasangan setiap tahunnya.

Kepala Kantor Kemenag Kulonprogo Wahib Jamil mengatakan pada 2024 tercatat sebanyak 2.249 pernikahan. Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 2.012 pernikahan sepanjang 2025.

Sementara itu, pada 2022 jumlah pernikahan yang tercatat di Kulonprogo masih mencapai 2.503 pasangan.

"Sedangkan di 2026 ini dari Januari sampai September tercatat baru 1.206 pernikahan di Kulonprogo sementara di tahun kemarin 2.012. Artinya kalau untuk mencapai 800-an berikutnya, 2026 tinggal tiga bulan lagi kayaknya enggak mungkin," kata Wahib saat dikonfirmasi, Rabu (30/9/2026).

Pernikahan di Wates Paling Banyak

Wahib memperkirakan jumlah pernikahan di Kulonprogo pada 2026 akan kembali menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga September 2026, jumlah pernikahan yang tercatat baru sekitar 1.203 pernikahan.

Pada tahun ini, Kemenag Kulonprogo mencatat Kapanewon Wates menjadi wilayah dengan jumlah pernikahan terbanyak, yakni 251 pernikahan.

Sebaliknya, jumlah pernikahan terendah tercatat di Kapanewon Kalibawang dengan 122 pernikahan. Kemudian Kapanewon Samigaluh dan Temon masing-masing mencatat 127 pernikahan sepanjang 2026.

Menunggu Kesiapan Sebelum Menikah

Wahib menjelaskan penurunan angka pernikahan di Kulonprogo dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya adalah keputusan pasangan untuk menunggu kesiapan sebelum melangsungkan pernikahan.

Menurut dia, kondisi tersebut bukan berarti masyarakat tidak ingin menikah. Namun, sebagian memilih menunggu sampai memiliki kesiapan yang dinilai cukup.

"Bukan karena kemudian mereka tidak ingin menikah, tetapi karena untuk menunggu kesiapan. Selain itu, jumlah penduduk yang menurun sehingga secara usia pernikahan juga mengalami penurunan," ujarnya.

Selain itu, masyarakat dinilai semakin memahami bahwa pernikahan membutuhkan berbagai kesiapan, mulai dari ekonomi hingga mental.

"Lalu juga masyarakat semakin memahami bahwa menikah harus betul-betul siap, gitu ya. Sehingga dari aspek ekonomi, kesiapan mental, begitu lulus dari sarjana, menunggu beberapa saat setelah mereka mendapatkan pekerjaan yang dirasa tepat, baru kemudian melangsungkan pernikahan. Rata-rata seperti itu bukan karena tidak ingin menikah," imbuh Wahib.

Dengan pertimbangan tersebut, sebagian masyarakat memilih menunda pernikahan setelah menyelesaikan pendidikan hingga mendapatkan pekerjaan yang dirasa tepat.

Kemenag Beri Bimbingan Remaja Usia Sekolah

Untuk memberikan pemahaman mengenai persiapan pernikahan, Kantor Kemenag Kulonprogo juga melakukan bimbingan kepada remaja usia sekolah.

Program tersebut memberikan pendampingan dalam aspek kesehatan, psikologi hingga kejiwaan dengan melibatkan Puskesmas.

Bimbingan tersebut menjadi salah satu upaya Kemenag untuk mempersiapkan remaja agar memiliki kesiapan ketika nantinya memasuki kehidupan rumah tangga.

"Kita berikan konseling dan itu untuk memaksimalkan bahwa pada saatnya mereka menikah itu sudah memiliki kesiapan," ucap Wahib.

Bimbingan remaja usia sekolah tersebut menyasar siswa SMA atau sederajat. Program ini dilakukan sebagai bentuk sosialisasi sejak dini sekaligus pencegahan terhadap kejadian yang tidak diinginkan.

Dengan adanya pendampingan tersebut, Kemenag Kulonprogo berupaya memberikan bekal kepada remaja mengenai pentingnya kesiapan sebelum memasuki jenjang pernikahan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online