Influenza Merebak, Disdikpora Jogja Minta Sekolah Perkuat Deteksi
Disdikpora Jogja meminta sekolah meningkatkan kewaspadaan influenza, pemantauan kesehatan, PHBS, dan deteksi dini untuk mencegah penularan.
Ilustrasi orang memuluk kentungan/Antara
Harianjogja.com, JOGJA— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja mendorong pengaktifan kembali kentungan sebagai alat peringatan dini bencana berbasis masyarakat. Alat komunikasi tradisional tersebut dinilai masih dibutuhkan sebagai sistem peringatan sederhana ketika jaringan listrik maupun perangkat komunikasi mengalami gangguan saat bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja, Nur Hidayat, mengatakan kentungan merupakan salah satu bentuk early warning system (EWS) sederhana yang masih relevan. Sebab, kentungan umumnya sudah tersedia di lingkungan masyarakat, terutama di pos-pos ronda.
"Kentongan di setiap masyarakat punya sendiri. Sudah ada seperti pos ronda juga ada semua. Kita ingin mengoptimalkan pemanfaatan kentongan itu secara baik dan membudayakan karena itu yang dekat dengan masyarakat dan simpel," katanya, Minggu (4/10/2026).
Jadi Alternatif Saat Komunikasi Terganggu
Menurut Nur, keberadaan kentongan penting untuk mengantisipasi kondisi ketika fasilitas komunikasi modern tidak dapat digunakan. Saat bencana terjadi, jaringan listrik, radio, maupun perangkat komunikasi lainnya berpotensi mengalami gangguan.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat membutuhkan alternatif penyampaian informasi yang dapat berfungsi secara manual. Kentungan dinilai dapat menjadi salah satu sarana yang digunakan untuk menyampaikan peringatan kepada warga.
Namun, penggunaan kentungan saat ini mulai berkurang. Kentungan yang sebelumnya rutin digunakan dalam kegiatan ronda kini semakin jarang dibunyikan.
Karena itu, BPBD Kota Jogja mendorong edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai jenis pukulan kentungan sekaligus makna dari setiap tanda. Dengan pemahaman tersebut, kentongan tidak hanya menjadi perlengkapan pos ronda, tetapi juga dapat kembali dimanfaatkan sebagai sarana penyampaian peringatan bencana.
Pos Ronda Masih Memiliki Kentungan
Perwakilan KTB Sindurejan, Kelurahan Patangpuluhan, Antok, menuturkan sejumlah pos ronda masih memiliki kentungan lengkap dengan tanda-tanda pukulannya. Meski demikian, penggunaannya sudah mulai jarang.
"Kalau kentungan, karena setiap pos ronda kita juga sudah ada tanda-tanda pukulannya. Monggo kalau mau diaktifkan lagi bagus juga karena ketika nanti ada bencana, semua fasilitas mati, dengan tanda-tanda kentungan mungkin bisa dihidupkan kembali," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengaktifan kembali kentungan didorong sebagai bagian dari sistem peringatan dini berbasis masyarakat. Sarana yang sudah tersedia di lingkungan warga dapat kembali dimanfaatkan untuk menghadapi kondisi darurat.
BPBD Juga Kembangkan Jogja Connect
Selain mengaktifkan kembali kentungan, BPBD Kota Jogja dalam Bulan PRB 2026 juga meluncurkan Jogja Connect (Jonet).
Sistem tersebut mengintegrasikan berbagai kanal komunikasi kebencanaan. Integrasi itu mencakup radio rig melalui Sistem Integrasi Alat Komunikasi Penanggulangan Bencana di Wilayah (Sigapil), podcast Jonet, integrasi IP paging Pemkot Jogja dengan komunikasi kegempaan BPBD, serta simulasi EWS serentak.
Penguatan sistem peringatan dini tersebut dilakukan dengan menggabungkan teknologi komunikasi modern dan sistem yang berbasis masyarakat. Dengan cara itu, informasi kebencanaan diharapkan tetap dapat disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai saluran.
"Intinya bagaimana Jonet itu membangun konektivitas secara terintegrasi," ujarnya.
Pengaktifan kembali kentongan dan pengembangan Jonet menjadi bagian dari upaya memperkuat penyampaian informasi kebencanaan di Kota Jogja. Sistem sederhana yang dekat dengan masyarakat berjalan berdampingan dengan pemanfaatan teknologi komunikasi untuk menghadapi kemungkinan gangguan saat bencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disdikpora Jogja meminta sekolah meningkatkan kewaspadaan influenza, pemantauan kesehatan, PHBS, dan deteksi dini untuk mencegah penularan.
Paus Leo XIV mengingatkan bahaya AI dalam seni dan mendesak karya manusia dibedakan dari hasil mesin yang diproses algoritma.
Harga iPhone 15 dan iPhone 16 turun Rp1,5 juta pada awal Oktober 2026. Simak daftar harga iPhone 15, 16, 17 dan kabar iPhone 18.
Eksim dapat berlangsung lama dan berulang. Kenali pemicu serta perubahan kondisi kulit untuk membantu mencegah kekambuhan.
Bolt.new mengakuisisi startup AI asal San Francisco, Dokai, untuk memperkuat agen AI dan kemampuan platform menangani workflow enterprise.
Sejarah dan budaya dinilai memperkuat wisata gastronomi Indonesia. Kuliner Jogja menjadi contoh makanan yang memiliki cerita dan filosofi.