Angka Pernikahan di Jogja Turun, Anak Muda Takut Gagal Berumah Tangga

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Minggu, 04 Oktober 2026 11:17 WIB
Angka Pernikahan di Jogja Turun, Anak Muda Takut Gagal Berumah Tangga

Pernikahan - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA-- Angka pernikahan di Kota Jogja terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Selain pendidikan, karier, dan kesiapan finansial, kekhawatiran gagal membangun rumah tangga hingga ketakutan terhadap komitmen disebut ikut membuat sebagian generasi muda menunda pernikahan.

Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jogja mencatat terdapat 1.632 pernikahan pada 2023. Jumlah tersebut turun menjadi 1.546 pada 2024 dan kembali merosot menjadi 1.434 pada 2025.

Sementara itu, hingga September 2026 tercatat 1.023 pernikahan di Kota Jogja.

Kepala Kantor Kemenag Kota Jogja Ahmad Shidqi mengatakan tren penurunan angka pernikahan juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia dalam lima tahun terakhir. Kendati demikian, secara nasional angka pernikahan pada 2025 sempat mengalami sedikit kenaikan.

"Pada dasarnya dari tahun ke tahun memang mengalami penurunan. Persentasenya rata-rata sekitar 1%, meskipun ada daerah yang penurunannya sekitar 5-10%," katanya, Minggu (4/10/2026).

Angka Pernikahan Pasca Pandemi

Data Kemenag Kota Jogja menunjukkan angka pernikahan pada 2020 tercatat 248. Jumlah itu kemudian menjadi 171 pada 2021 dan 175 pada 2022.

Angka tersebut relatif rendah karena masih berada dalam periode pandemi Covid-19. Memasuki masa pascapandemi, jumlah pernikahan meningkat menjadi 1.632 pada 2023 sebelum kembali menurun dalam dua tahun berikutnya.

Menurut Ahmad, penurunan angka pernikahan dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya adalah pergeseran nilai-nilai sosial di masyarakat.

Kesempatan perempuan untuk menempuh pendidikan sekaligus membangun karier juga semakin luas. Kondisi tersebut membuat keputusan menikah tidak lagi selalu menjadi prioritas pada usia muda.

"Kesempatan bagi perempuan untuk meniti karier sekarang lebih luas sehingga ketergantungan finansial terhadap laki-laki atau pasangan tidak lagi menjadi hal yang pokok," ujarnya.

Anak Muda Makin Berhati-hati Menikah

Guru Besar sekaligus Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Jogja (UMY), Prof. Halim Purnomo, mengatakan keputusan menikah membutuhkan kesiapan personal.

Menurut dia, pernikahan merupakan keputusan untuk menjalani kehidupan bersama dalam jangka panjang. Karena itu, generasi muda kini cenderung lebih berhati-hati sebelum menentukan pasangan dan memasuki kehidupan rumah tangga.

Selain pekerjaan, karier, dan kondisi ekonomi, Halim menyebut faktor psikologis dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk menikah. Di antaranya ketakutan terhadap komitmen dan kekhawatiran salah memilih pasangan.

"Ada yang merasa takut terhadap komitmen atau dalam istilah psikologi disebut gamophobia. Ada pula yang menyaksikan perceraian orang tuanya sehingga muncul kekhawatiran akan mengulang pengalaman yang sama," katanya.

Pengalaman dalam keluarga, lanjut dia, dapat memengaruhi cara seseorang memandang hubungan dan pernikahan. Ketika muncul rasa tidak percaya atau kekhawatiran, seseorang cenderung membutuhkan waktu lebih panjang untuk memastikan pasangan yang dipilih benar-benar tepat.

Karier dan Tuntutan Ekonomi

Perubahan peran gender juga menjadi bagian dari dinamika keputusan menikah. Perempuan kini memiliki kesempatan lebih luas untuk menempuh pendidikan dan membangun karier sehingga sebagian memilih memantapkan kehidupan profesional terlebih dahulu.

Sementara itu, laki-laki masih menghadapi tuntutan untuk memiliki kestabilan ekonomi sebagai pencari nafkah. Kondisi tersebut membuat sebagian generasi muda memilih menunda pernikahan hingga merasa lebih siap menghadapi tanggung jawab rumah tangga.

Halim menilai penundaan pernikahan pada dasarnya dapat menjadi upaya untuk mengurangi risiko persoalan setelah menikah. Generasi muda ingin memastikan kebutuhan rumah tangga, termasuk kebutuhan anak di masa depan, dapat dipenuhi.

Meski demikian, kesiapan menikah tidak harus menunggu seseorang mencapai kondisi yang sepenuhnya sempurna. Kesiapan mental, pemahaman mengenai tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, serta kesiapan menghadapi perbedaan juga menjadi bagian penting.

"Menikah adalah ibadah sepanjang hayat yang melibatkan banyak pihak, sehingga keputusan itu harus diambil dengan kesiapan, bukan dengan ketakutan," katanya.

Kemenag Dorong Edukasi Kesiapan Menikah

Di sisi lain, Kemenag Kota Jogja terus mendorong edukasi mengenai kesiapan menikah melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Program tersebut memberikan pemahaman kepada remaja mengenai berbagai hal yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki pernikahan.

Ahmad mengatakan kesiapan menikah tidak hanya berkaitan dengan usia. Aspek mental, kesehatan, dan berbagai aspek kehidupan lainnya juga perlu diperhatikan.

Kemenag juga mencatat pernikahan masyarakat di bawah usia 19 tahun semakin menurun dari tahun ke tahun.

Saat ini, pasangan yang menikah di Kota Jogja mayoritas berada pada usia yang lebih matang. Rata-rata perempuan menikah pada usia 22-25 tahun, sedangkan laki-laki berada pada rentang 25-28 tahun.

"Rata-rata sudah di atas usia selesai sekolah," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online