MBG Prasmanan di Sleman Libatkan Siswa Jadi Pelayan

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Kamis, 08 Oktober 2026 06:57 WIB
MBG Prasmanan di Sleman Libatkan Siswa Jadi Pelayan

Siswa SDN Soprayan sedang antre untuk menerima program Makan Bergizi Gratis di SDN Soprayan, Kalurahan Girikerto, Turi, Sleman, Rabu (7/10/2026). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono.

Harianjogja.com, SLEMAN—Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di SD Negeri (SDN) Soprayan, Kalurahan Bangunkerto, Turi, Sleman, melibatkan siswa dalam proses distribusi makanan. Siswa kelas V dan VI ditugaskan secara bergiliran menjadi pelayan bagi teman-temannya.

Kepala SPPG Sleman Turi Bangunkerto 2, Deri Yusni Elsa Mahendra, mengatakan pelibatan siswa dilakukan agar mereka dapat mengetahui secara langsung proses dan tahapan distribusi makanan dalam program MBG.

“Kami briefing, kami ajarkan ke anak-anak [cara menjadi pelayan]. Kami tanya anak-anak dan tidak keberatan. Sistemnya kami gilir. Kelas lima tiga orang dan kelas enam tiga orang,” kata Deri ditemui di SDN Soprayan, Rabu.

Enam siswa bertugas dalam sistem prasmanan

Menurut Deri, keterlibatan langsung dalam distribusi membuat anak-anak lebih percaya terhadap program andalan Prabowo Subianto tersebut. Uji coba sistem prasmanan itu berlangsung hingga sepekan ke depan.

Jumlah sasaran MBG di SDN Soprayan mencapai 59 orang. Proses distribusi makanan hingga selesai membutuhkan waktu sekitar 21 menit hingga 25 menit.

Makanan tiba di sekolah antara pukul 08.30 WIB hingga 09.00 WIB. Sementara itu, waktu istirahat siswa dimulai pukul 09.30 WIB.

Berdasarkan pengamatan Harianjogja.com, persiapan MBG dengan sistem prasmanan pada Rabu dimulai pukul 09.41 WIB. Enam siswa yang ditugaskan sebagai pelayan mengenakan apron, karet penutup rambut, masker, serta sarung tangan.

Keenam siswa tersebut kemudian menempati pos masing-masing, mulai dari bagian nasi hingga buah. Siswa penerima MBG mengantre untuk mendapatkan makanan sesuai kebutuhannya.

Salah satu siswa yang bertugas sebagai pelayan beberapa kali menanyakan kepada siswa lain apakah porsi nasi yang diberikan sudah sesuai. Ada siswa yang meminta tambahan nasi, sementara sebagian lainnya memilih porsi lebih sedikit.

“Siswa tetap diperbolehkan menyesuaikan jumlah makanan yang diambil berdasarkan kebutuhan masing-masing,” kata Deri.

Siswa pelayan dipilih secara acak

Risa, Rara, dan Fitri merupakan tiga siswa yang ikut bertugas sebagai pelayan dalam uji coba MBG prasmanan tersebut. Mereka mengatakan selalu menanyakan kepada siswa lain mengenai kebutuhan porsi makanan.

Pemilihan siswa yang bertugas sebagai pelayan dilakukan secara acak. Dalam menjalankan tugasnya, mereka juga mengaku merasa pengap ketika harus mengenakan masker.

Ketika ditanya mengenai keberlanjutan keterlibatan siswa sebagai pelayan dalam program MBG, Deri mengatakan pihaknya masih mengikuti arahan Badan Gizi Nasional (BGN).

SPPG, kata dia, hanya bertugas sebagai pelaksana teknis di lapangan. Selain itu, pihaknya masih melakukan penyesuaian terhadap gramasi pemberian makanan.

“Kami juga masih menyesuaikan gramasi pemberian makanan,” ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online