Kasus Diare di Sleman Naik Jadi 1.337, Dinkes Ingatkan Risiko Keterbatasan Air

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Kamis, 08 Oktober 2026 14:27 WIB
Kasus Diare di Sleman Naik Jadi 1.337, Dinkes Ingatkan Risiko Keterbatasan Air

Sakit perut, diare, maag - Ilustrasi

 

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinkes Sleman mencatat sebanyak 1.337 kasus diare pada September 2026, meningkat 167 kasus atau sekitar 14,3% dibandingkan 1.170 kasus pada Agustus tahun yang sama. Menurunnya debit air meningkatkan potensi diare.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Sleman, Raditya Kusuma Tejamurti, mengatakan kasus diare rata-rata mengalami peningkatan pada musim kemarau. Kondisi tersebut berkaitan dengan akses dan ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

Menurut dia, pada musim kemarau terdapat sejumlah wilayah yang sumber airnya mulai terbatas. Sumur yang menjadi sumber air warga berpotensi mengering sehingga kebutuhan air bersih semakin sulit dipenuhi. "Di beberapa area mungkin sumur mulai kering," kata Raditya kepada Harianjogja.com, Rabu (8/10/2026).

Risiko peningkatan kasus diare juga dapat terjadi pada masyarakat yang masih mengandalkan sumber air dari sungai. Air sungai yang digunakan setelah diendapkan dalam kolam tetap memiliki risiko terhadap kesehatan apabila kualitas air tidak terjamin.

Selain keterbatasan sumber air, perilaku masyarakat dalam menggunakan air juga berpotensi berubah ketika ketersediaannya menurun. Warga dapat menghemat penggunaan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Atau bisa juga sumber air bersih masih ada tapi terbatas sehingga warga harus ngirit air, salah satunya dengan mengurangi frekuensi cuci tangan," ucapnya.

Kondisi kemarau dan keterbatasan air bersih, dia menegaskan kembali menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam pencegahan penyakit berbasis lingkungan seperti diare.

Di lain pihak, Kepala Puskesmas Depok III, Erna Sofiana, mengatakan jumlah pasien diare di wilayah kerjanya memang lebih tinggi pada September dibandingkan Agustus. Meski demikian, jika melihat tren bulanan, peningkatan tersebut belum menunjukkan pola yang secara khusus disebabkan oleh kemarau.

Puskesmas Depok III mencatat 62 kasus pada Januari, 54 kasus pada Februari, 41 kasus pada Maret, 72 kasus pada April, 47 kasus pada Mei, 45 kasus pada Juni, 73 kasus pada Juli, 55 kasus pada Agustus, dan 77 kasus pada September.

"Memang lebih tinggi angka di September, tetapi kalau dilihat rata-rata dari kasus per bulan sepertinya tidak bisa dikatakan terjadi peningkatan karena kemarau," kata Erna.

Data tersebut menunjukkan kasus diare di Depok III pada September memang menjadi yang tertinggi sejak awal tahun, tetapi selisihnya dengan Juli hanya empat kasus. Bahkan, kasus pada April dan Juli juga telah mencapai lebih dari 70 kasus ketika memasuki periode sebelum September.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online