WJNC 2026 di Titik Nol Jogja, Bukan Sekadar Pertunjukan Budaya
WJNC 2026 dinilai bukan sekadar karnaval, tetapi ruang kebersamaan warga. Tahun ini WJNC mengusung tema Gana Kalajaya dan masuk Top 10 KEN.
Hasil karya Lomba Mural Pelajar untuk memeriahkan HUT ke-270 Kota Jogja, pada Sabtu (10/10/2026). Dok. Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Tokoh wayang, Tugu Jogja, Sungai Code, hingga gambaran orang membersihkan sampah menjadi bagian dari pesan yang disampaikan pelajar melalui mural. Di balik warna-warni gambar yang menghiasi tembok, mereka menuangkan pandangan tentang identitas budaya sekaligus harapan agar Kota Jogja tetap bersih dan nyaman.
Gagasan itu terlihat dalam Lomba Mural Pelajar untuk memeriahkan HUT ke-270 Kota Jogja yang berlangsung pada Jumat (9/10/2026) hingga Sabtu (10/10/2026). Kompetisi yang diikuti pelajar SMP, SMA, dan SMK tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk menerjemahkan tema kota ke dalam karya seni.
Bagi Muhammad Nur Bawa, salah satu juri lomba, karya peserta tahun ini menunjukkan perkembangan kemampuan seni rupa yang menarik, terutama di kalangan pelajar SMP. Kreativitas mereka terlihat dari cara mengembangkan karakter, memadukan warna, dan menyusun elemen gambar menjadi satu kesatuan.
Persaingan antarkarya bahkan membuat juri kesulitan menentukan peserta yang masuk 10 besar. Setiap tim dinilai memiliki karakter tersendiri dalam menerjemahkan tema lomba.
"Jujur, untuk menentukan 10 besar pun juri juga sangat susah dan debatnya agak sedikit alot. Masing-masing karya sudah mempunyai ciri khas masing-masing," kata Bawa, Selasa (13/10/2026).
Menurut Bawa, kemampuan peserta tidak hanya terlihat dari hasil akhir mural, tetapi juga dari proses mereka menerjemahkan rancangan menjadi gambar di tembok. Para pelajar dinilai telah memahami dasar pembuatan sketsa, pemilihan warna, hingga penyampaian gagasan melalui visual.
Kemampuan tersebut menjadi perkembangan positif bagi seni rupa di kalangan pelajar. Bawa berharap lomba serupa terus diselenggarakan agar bakat yang tumbuh sejak sekolah dapat berkembang ketika peserta melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Meski demikian, pengerjaan mural di ruang terbuka memiliki tantangan tersendiri. Cuaca panas di Jogja menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi peserta selama menyelesaikan karya mereka.
Di tengah tantangan tersebut, pesan mengenai lingkungan menjadi salah satu tema yang menonjol. Sejumlah karya mengangkat persoalan sampah dan kebersihan sungai, termasuk harapan agar sungai tetap bersih sehingga kehidupan masyarakat di sekitarnya menjadi lebih baik.
Lomba Mural Pelajar diikuti 74 tim dari jenjang SMP/MTs dan SMA/SMK/MA negeri maupun swasta se-Kota Jogja. Pemerintah Kota Jogja melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menggelar kompetisi tersebut sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-270 Kota Jogja.
Tema yang diusung adalah Otentik Budayanya, Konkret Bersihnya. Melalui tema itu, pelajar diberi ruang untuk menampilkan identitas budaya sekaligus menyampaikan gagasan mengenai kebersihan lingkungan.
Sekretaris Daerah Kota Jogja, Budi Santosa Asrori, mengatakan lomba mural menjadi sarana bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan seni sekaligus menyampaikan pesan tentang masa depan kota.
"Kenapa lomba mural? Ya, untuk melatih anak-anak mengekspresikan kemampuan seninya sekaligus menyampaikan pesan-pesan yang bagus, bagaimana Kota Yogyakarta ke depan bisa lebih baik lagi. Budaya yang kuat, Kota Jogja yang bersih, kota yang berbudaya, dan sebagainya," ujar Budi.
Menurut Budi, karya mural tidak hanya dinilai dari sisi kreativitas visual. Setiap gambar juga dapat membawa pesan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan perilaku sehari-hari.
"Ini kan aksi nyata pelajar. Sekaligus pembangunan moral, sekaligus ada pesan-pesannya di setiap gambar mereka," katanya.
Pesan tersebut terlihat dalam karya peserta yang memadukan simbol budaya dengan gambaran kepedulian terhadap lingkungan. Dua di antaranya adalah mural karya Antonius Andro Putra dari SMP Yohanes Bosco Yogyakarta dan Zulfa Konita dari SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta.
Antonius Andro Putra memilih sosok dalang sebagai elemen utama dalam muralnya. Melalui tokoh tersebut, ia ingin menceritakan Jogja dengan memasukkan wayang dan sejumlah simbol budaya ke dalam gambar.
"Temanya ada dalang, bercerita tentang Jogja. Di dalamnya ada wayang, ceritanya di dalam gunungan," jelas Antonius.
Di dalam gunungan, Antonius menggambarkan seseorang yang sedang membersihkan kawasan Pantai Parangtritis sambil bermain layang-layang. Ia juga memasukkan aktivitas bermain gamelan dan tokoh Hanoman yang digambarkan sedang membersihkan Jalan Malioboro serta kawasan di depan kantor.
Berbagai elemen tersebut mempertemukan tradisi dan kepedulian terhadap lingkungan dalam satu karya. Bagi Antonius, cerita tentang Jogja tidak hanya ditampilkan melalui tokoh wayang, tetapi juga melalui gambaran aktivitas menjaga kebersihan kawasan yang dikenal masyarakat.
Pantai Parangtritis dan Jalan Malioboro menjadi bagian dari visual yang ia pilih untuk menyampaikan pesan tersebut. Sementara itu, unsur gamelan dan wayang memperkuat gambaran mengenai budaya yang menjadi bagian dari identitas kota.
Pendekatan berbeda ditampilkan Zulfa Konita dari SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta. Ia menggambarkan wajah seseorang dengan berbagai hal tentang Jogja yang seolah memenuhi pikirannya, mulai dari ikon kota hingga persoalan lingkungan.
"Kami menggambarkan wajah seseorang dengan menampilkan isi pikirannya, kami gambar ada tugu, ada Sungai Code, kemudian sampah-sampah dan beberapa yang berusaha membersihkan sampah tersebut," kata Zulfa.
Dalam mural tersebut, Tugu Jogja dan Sungai Code hadir berdampingan dengan gambaran sampah serta orang-orang yang berusaha membersihkannya. Perpaduan itu menempatkan simbol kota dan persoalan kebersihan dalam satu ruang visual.
Karya Zulfa menunjukkan bagaimana pelajar dapat menggunakan simbol yang akrab bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan lingkungan. Sungai dan sampah bukan sekadar elemen gambar, melainkan bagian dari gagasan yang ingin disampaikan melalui mural.
Berbeda dengan Antonius yang menonjolkan cerita melalui dalang dan wayang, Zulfa memilih gambaran wajah dan isi pikiran sebagai cara untuk merangkai berbagai persoalan tentang Jogja.
Bagi Pemerintah Kota Jogja, lomba mural menjadi salah satu sarana untuk mendorong pelajar mengembangkan kreativitas sekaligus membangun karakter. Pesan tentang budaya dan kebersihan yang dituangkan dalam gambar diharapkan dapat mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Budi berharap pelajar di Kota Jogja tumbuh menjadi generasi yang sehat dan mampu meraih prestasi.
"Harapannya anak-anak sekolah di Kota Yogyakarta itu bersih, sehat. Itu yang paling penting. Berprestasi," tegasnya.
Melalui karya-karya tersebut, para pelajar memperlihatkan cara mereka memandang kota tempat mereka tumbuh. Wayang, gamelan, Tugu Jogja, Pantai Parangtritis, Jalan Malioboro, dan Sungai Code menjadi bagian dari cerita yang menghubungkan kecintaan terhadap budaya dengan harapan akan lingkungan yang lebih bersih.
Di tembok-tembok yang dipenuhi warna, pesan itu hadir dalam beragam bentuk. Bukan hanya tentang bagaimana Jogja dikenali melalui budaya, melainkan juga tentang bagaimana kota tersebut dirawat bersama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WJNC 2026 dinilai bukan sekadar karnaval, tetapi ruang kebersamaan warga. Tahun ini WJNC mengusung tema Gana Kalajaya dan masuk Top 10 KEN.
Hujan meteor Orionid mencapai puncak 21–22 Oktober 2026. Simak waktu terbaik, pengaruh cahaya Bulan, dan cara mengamatinya.
Kim Kurniawan mencetak dua asis saat PSS Sleman menang 3-0 atas PSM Makassar. Ia mengungkap ucapan “sekarang giliranmu” kepada Matheus Fornazari.
Jorge Martin kembali memimpin klasemen MotoGP 2026 setelah finis ketiga di Mandalika. Ia unggul dua poin atas Marc Marquez dan menyoroti tekanan ban.
Mural pelajar Jogja dalam HUT ke-270 Kota Jogja mengangkat budaya, kebersihan sungai, dan persoalan sampah melalui karya penuh pesan.
Speedtest Global Index Agustus 2026 menempatkan Indonesia di peringkat ke-70 untuk internet mobile dan ke-113 untuk fixed broadband