Tinggalkan Hiruk Pikuk Jogja, Warga Gondomanan Ini Ikut Transmigrasi Demi Bertani

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Selasa, 13 Oktober 2026 15:57 WIB
Tinggalkan Hiruk Pikuk Jogja, Warga Gondomanan Ini Ikut Transmigrasi Demi Bertani

Foto ilustrasi transmigrasi. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan kerja di Kota Jogja menjadi salah satu alasan Andri Surya Kusuma memilih mengikuti program transmigrasi. Warga Prawirodirjan, Kemantren Gondomanan, itu ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan usaha pertanian di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Andri menilai Konawe Utara memiliki potensi pertanian yang menjanjikan, terutama dari sisi kesuburan tanah dan ketersediaan air. Dia berharap bisa mengelola lahan sendiri dan membangun usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

“Kalau menurut saya, lahannya lebih subur dan lebih bagus di Sulawesi kalau dibandingkan Kalimantan dan Sumatera untuk beberapa komoditi pertanian,” kata Andri di sela-sela pelatihan di PKBM Wijaya Kusuma Jogja, Selasa (13/10/2026).

Berbekal Pendidikan Teknologi Pertanian

Ketertarikan Andri terhadap pertanian tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya. Dia pernah menempuh pendidikan di Institut Pertanian Jogja (INTAN) dengan mengambil bidang teknologi pertanian. Selain itu, Andri juga pernah mengikuti bimbingan sekolah penyuluh lapangan.

Meski berasal dari keluarga nonpetani dan tumbuh di lingkungan perkotaan, Andri ingin mencoba mengembangkan usaha pertanian di daerah transmigrasi. Dia belum menentukan secara pasti komoditas yang akan dibudidayakan karena masih mempertimbangkan potensi lahan di lokasi penempatan.

Namun, dia telah memiliki gambaran mengenai tanaman yang ingin dikembangkan, yakni serai dan nilam. Kedua komoditas tersebut dipertimbangkan karena dinilai memiliki peluang ekonomi dari pengolahan hasil panen.

“Hanya saya sudah punya bayangan, sepertinya akan mengarah ke sereh dan nilam. Pengolahan pasca panen dan perputaran ekonominya cukup tinggi,” katanya.

Keputusan mengikuti transmigrasi juga dipengaruhi ketatnya persaingan mendapatkan pekerjaan di Kota Jogja. Andri melihat kepadatan penduduk menjadi salah satu faktor yang membuat persaingan kerja semakin ketat.

Melalui program tersebut, dia berharap memperoleh kesempatan untuk mengelola lahan dan menjalankan usaha secara mandiri, bukan terus bekerja sebagai karyawan.

Andri diperkirakan berangkat pada November. Dia akan membawa istri dan ketiga anaknya yang masing-masing berusia 13 tahun, 11 tahun, dan tiga tahun. Dua dari ketiga anaknya masih bersekolah.

Konawe Utara Punya Potensi Pertanian

Pilihan Andri untuk mengembangkan usaha pertanian di Konawe Utara sejalan dengan potensi ekonomi daerah tersebut. Berdasarkan dokumen Statistik Tanaman Pangan Kabupaten Konawe Utara 2020-2024, Badan Pusat Statistik (BPS) Konawe Utara mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kabupaten tersebut selama lima tahun terakhir.

Konawe Utara juga memiliki lahan pertanian seluas 286.161 hektare. Potensi ini dapat mendukung upaya mewujudkan swasembada pangan, terutama untuk komoditas beras dan jagung.

Meski demikian, pengembangan lahan pertanian menghadapi tantangan berupa alih fungsi lahan untuk kegiatan pertambangan, industri, dan perumahan. Perubahan penggunaan lahan tersebut menghambat upaya pemerintah setempat memperluas area pertanian.

Karena itu, peningkatan produktivitas lahan yang sudah tersedia atau intensifikasi dinilai lebih menjanjikan dibandingkan hanya mengandalkan perluasan lahan atau ekstensifikasi.

Pemkot Jogja Pantau Kesiapan Lokasi

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja, Patricia Heny Dian Anitasari, mengatakan pemerintah terus memantau kondisi transmigran asal Kota Jogja, termasuk kesiapan lokasi penempatan.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan sejumlah kebutuhan di lokasi tujuan dapat diperiksa sebelum peserta diberangkatkan.

“Oktober ini juga kami akan pergi ke lokasi penempatan untuk cek beberapa hal termasuk kesiapan lahan dan sebagainya,” kata Heny.

Menurut Heny, transmigrasi masih menjadi salah satu pilihan bagi warga Kota Jogja untuk meningkatkan taraf kesejahteraan. Melalui program ini, peserta mendapatkan lahan dan pembekalan sebelum berangkat ke daerah tujuan.

“Prinsipnya transmigrasi itu untuk mensejahterakan. Caranya peserta akan diberikan lahan. Sebelum berangkat, ada pembekalan juga,” katanya.

Bagi Andri, kesempatan tersebut menjadi langkah untuk memulai usaha pertanian bersama keluarga di daerah yang dinilainya memiliki potensi. Dengan bekal pendidikan pertanian dan rencana mengembangkan komoditas tertentu, dia berharap dapat membangun sumber penghidupan baru di Konawe Utara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online