Transmigran Jogja ke Konawe Utara Berangkat Tanpa Jatah Hidup

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Selasa, 13 Oktober 2026 21:17 WIB
Transmigran Jogja ke Konawe Utara Berangkat Tanpa Jatah Hidup

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja, Patricia Heny Dian Anitasari, sedang membuka pelatihan kepada calon transmigran di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Wijaya Kusuma Yogyakarta, Selasa (13/10/2026). /Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono.

Harianjogja.com, JOGJA—Seorang kepala keluarga asal Kota Jogja yang mengikuti program transmigrasi ke Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, harus bersiap memulai kehidupan baru tanpa jatah hidup dari pemerintah daerah tujuan. Meski telah mengetahui kondisi tersebut, Andri Surya Kusuma tetap bersedia berangkat karena melihat peluang mengembangkan lahan di daerah penempatan.

Ketua Tim Kerja (Katimja) Kelompok Rumpun PP Nakertrans Dinsosnakertrans Kota Jogja, Mohammad Soko Marhendi, menjelaskan Andri merupakan peserta transmigrasi pengganti. Jatah hidup yang sebelumnya dialokasikan untuk kelompok transmigran di lokasi tersebut telah habis karena sudah termasuk dalam alokasi peserta yang digantikan.

Dinsosnakertrans Kota Jogja berencana menjalin kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) untuk mengupayakan dukungan jatah hidup bagi keluarga Andri. Namun, rencana tersebut masih dalam tahap pengupayaan sehingga belum ada kepastian mengenai bantuan yang akan diterima.

“Karena pengganti, maka jatah hidupnya include ke yang digantikan. Kami sudah sampaikan situasinya, dan catrans mau,” kata Soko saat ditemui di PKBM Wijaya Kusuma Yogyakarta, Selasa (13/10/2026).

Diberangkatkan pada 2026

Pada 2026, Pemkot Jogja memberangkatkan dua kepala keluarga (KK) peserta transmigrasi dengan jumlah keseluruhan delapan jiwa. Kedua keluarga tersebut akan menempati wilayah berbeda, yakni Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dan Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Keluarga yang ditempatkan di Poso terdiri atas tiga jiwa, sedangkan keluarga Andri yang menuju Konawe Utara beranggotakan lima jiwa. Perbedaan status kepesertaan membuat keduanya menerima dukungan yang tidak sama setelah tiba di daerah tujuan.

Peserta yang ditempatkan di Poso merupakan transmigran murni sehingga masih memperoleh jatah hidup dari pemerintah daerah setempat. Sementara itu, keluarga Andri tidak mendapatkan fasilitas serupa karena berangkat sebagai peserta pengganti.

Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang harus dipertimbangkan keluarga Andri sebelum memulai kehidupan di lokasi transmigrasi. Meski demikian, Andri telah mengetahui konsekuensi tersebut dan menyatakan kesediaannya untuk tetap mengikuti program.

Uang Saku Rp13 Juta

Sebelum diberangkatkan, kedua keluarga transmigran asal Jogja tersebut telah mengikuti pelatihan sebanyak tiga kali. Kegiatan itu diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan Dinsosnakertrans Kota Jogja.

Materi pelatihan disesuaikan dengan potensi wilayah penempatan masing-masing peserta. Pembekalan mencakup pengolahan lahan hingga pengelolaan hasil pertanian dan perkebunan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan di daerah transmigrasi.

Selain pelatihan, peserta juga memperoleh uang saku sekitar Rp13 juta dari Pemkot Jogja. Dana tersebut disiapkan sebagai bekal awal untuk memulai kehidupan di daerah tujuan, sedangkan hunian telah tersedia di lokasi penempatan.

Bagi keluarga Andri, uang saku tersebut menjadi salah satu bekal untuk menjalani masa awal kehidupan di Konawe Utara. Namun, kebutuhan hidup sehari-hari tetap menjadi hal yang harus diperhitungkan karena keluarga tersebut tidak memperoleh jatah hidup dari pemerintah daerah setempat.

Kuota Menurun

Di tengah keberangkatan dua keluarga pada 2026, kuota transmigrasi asal Kota Jogja tercatat terus menyusut selama tiga tahun terakhir. Jumlah keluarga yang diberangkatkan turun dari enam KK pada 2024 menjadi empat KK pada 2025, kemudian kembali berkurang menjadi dua KK pada 2026.

Penurunan jumlah pemberangkatan tersebut terjadi ketika minat warga untuk mengikuti program transmigrasi masih cukup besar. Menurut Soko, jumlah warga yang berminat mencapai hampir 20 KK.

Sebagian besar calon transmigran memilih wilayah Kalimantan sebagai tujuan. Selain itu, terdapat pula warga yang berminat mengikuti program transmigrasi ke sejumlah lokasi di Sulawesi.

Dengan jumlah peminat yang masih mencapai hampir 20 KK, kuota pemberangkatan menjadi salah satu hal yang membatasi jumlah keluarga yang dapat mengikuti program tersebut setiap tahun. Pada 2026, Pemkot Jogja hanya memberangkatkan dua keluarga dengan total delapan jiwa.

Tetap Berangkat meski Tanpa Jatah Hidup

Andri Surya Kusuma merupakan warga Prawirodirjan, Kemantren Gondomanan, Kota Jogja. Ia mengaku telah menerima penjelasan dari dinas mengenai kondisi jatah hidup yang tidak tersedia bagi keluarganya selama menjalani program transmigrasi di Konawe Utara.

“Dinas sudah memberi tahu dan saya bersedia,” kata Andri.

Keputusan tersebut diambil setelah Andri mempertimbangkan potensi lahan di daerah tujuan. Ia menilai lahan di Konawe Utara memiliki peluang untuk dikembangkan dan dapat memberikan imbal hasil apabila dikelola dengan tekun.

Meski melihat peluang tersebut, Andri menyadari kebutuhan makan sehari-hari tetap menjadi persoalan yang harus diatasi ketika mulai tinggal di daerah penempatan. Ia pun telah menyiapkan upaya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“PR nya itu tinggal nanti bagaimana bisa makan. Nanti saya upayakan juga,” katanya.

Sementara itu, Dinsosnakertrans Kota Jogja masih berencana menjalin kerja sama dengan Baznas untuk mengupayakan dukungan bagi keluarga Andri. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai bantuan tambahan yang dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga tersebut di Konawe Utara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online