Jelang Musim Hujan, DPUPKP Jogja Soroti Genangan di XT Square hingga Jogokaryan

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Selasa, 20 Oktober 2026 17:37 WIB
Jelang Musim Hujan, DPUPKP Jogja Soroti Genangan di XT Square hingga Jogokaryan

Ilustrasi, kendaraan menerobos genangan air./Antara

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja memetakan sejumlah titik rawan genangan menjelang peningkatan intensitas hujan pada akhir tahun ini. Kawasan Jalan Jambon dekat Sindu Kusuma Edupark (SKE), XT Square, Giwangan, Tegalgendu, hingga Jalan Parangtritis menjadi perhatian dalam evaluasi dan penanganan drainase.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPKP Kota Jogja, Rahmawan Kurniadi, mengatakan genangan di sejumlah lokasi dipengaruhi berbagai faktor. Di antaranya tingginya aliran air dari wilayah hulu, kapasitas saluran yang belum memadai, serta kondisi jaringan drainase yang belum optimal.

Menurut Kurniadi, penanganan genangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan saluran, tetapi juga kemampuan jaringan drainase menampung dan mengalirkan air ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Jalan Jambon Rawan Genangan akibat Aliran dari Sleman

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian DPUPKP adalah Jalan Jambon, di perbatasan Kota Jogja dengan Kabupaten Sleman. Genangan di kawasan tersebut berpotensi terjadi karena tingginya aliran air dari wilayah hulu.

Perubahan penggunaan lahan di Sleman juga dinilai membuat air hujan lebih cepat mengalir ke wilayah selatan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan beban saluran drainase di kawasan perbatasan.

“Dari Sleman itu airnya cukup tinggi. Apalagi sudah banyak konversi lahan, sehingga air langsung lari ke selatan. Kapasitasnya mungkin masih kurang atau alirannya kurang lancar. Kalau intensitas hujannya tinggi, biasanya terjadi genangan,” kata Kurniadi saat ditemui di kantornya, Selasa (20/10/2026).

Ia menjelaskan saluran drainase di kawasan tersebut sebenarnya sudah tersedia dan terhubung dengan sungai. Namun, kapasitas saluran dan kelancaran aliran air masih menjadi persoalan ketika debit air meningkat akibat hujan deras.

XT Square dan Giwangan Masuk Pemetaan

Selain Jalan Jambon, DPUPKP menyoroti kawasan XT Square dan Giwangan. Peningkatan volume air secara tiba-tiba berpotensi menyebabkan luapan, terutama pada bagian saluran yang memiliki belokan.

Untuk mengurangi risiko tersebut, DPUPKP masih mengkaji kemungkinan pembangunan sudetan atau perubahan jalur aliran di titik tertentu. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi limpasan air yang berpotensi menggenangi jalan.

Sementara itu, di sekitar Tegalgendu, percabangan saluran yang relatif kecil dan keberadaan sampah dapat menghambat aliran air. Kondisi tersebut berpotensi memicu genangan ketika debit air meningkat.

DPUPKP telah membangun sejumlah saluran crossing atau saluran melintang untuk membantu mengatasi luapan. Infrastruktur ini diharapkan dapat mengalirkan kembali air yang terlanjur meluap agar lebih cepat masuk ke jaringan drainase.

“Kalaupun terpaksa meluap, air tidak terus menggenang di jalan, tetapi bisa masuk lagi ke saluran. Sebab, genangan itu terjadi karena air mengantre untuk mengalir ke bagian bawah,” ujarnya.

Penanganan Genangan di Jalan Parangtritis Dievaluasi

DPUPKP juga akan mengevaluasi penanganan genangan di Jalan Parangtritis, khususnya kawasan Jogokaryan. Pada tahun sebelumnya, dinas telah melakukan pembersihan dan perbaikan saluran di sisi kiri dan kanan jalan tersebut.

Evaluasi pada musim hujan tahun ini diperlukan untuk mengetahui efektivitas penanganan yang telah dilakukan sekaligus mengidentifikasi persoalan yang masih terjadi.

Salah satu kendala berada di kawasan perbatasan Kota Jogja dan Kabupaten Bantul. Menurut Kurniadi, belum tersedianya saluran di wilayah Bantul membatasi penanganan drainase yang dapat dilakukan pemerintah kota.

“Di sisi Bantul tidak ada saluran. Kami ya berhenti penanganan di wilayah Kota,” kata Kurniadi.

Selain kondisi saluran, permukaan jalan turut memengaruhi terbentuknya genangan. Permukaan aspal yang tidak rata atau kurang optimal mengarahkan air ke tepi jalan dapat membuat air terkumpul di badan jalan meskipun saluran drainase tersedia.

Pada titik yang membutuhkan, DPUPKP dapat menambah inlet atau lubang masuk air menuju saluran untuk membantu mempercepat aliran air dari permukaan jalan.

Tim Drainase Siaga Sepanjang Tahun

Untuk mengantisipasi peningkatan genangan selama musim hujan, DPUPKP mengandalkan tim swakelola yang bekerja sepanjang tahun. Tim tersebut terdiri dari tiga kelompok dengan tugas menangani drainase, talut, dan irigasi.

Apabila jumlah titik genangan meningkat, personel dari kelompok lain dapat dialihkan untuk memprioritaskan penanganan drainase. Dengan pengaturan tersebut, sumber daya yang tersedia dapat difokuskan pada lokasi yang membutuhkan penanganan lebih intensif.

“Penanganan memang dilakukan sepanjang tahun. Jadi tidak hanya musim hujan, tetapi memang kalau musim hujan lebih intensif,” ujarnya.

Melalui kesiapsiagaan personel, evaluasi saluran, dan pemetaan titik rawan, DPUPKP Kota Jogja berupaya mengidentifikasi hambatan aliran air serta mengurangi dampak genangan. Upaya tersebut terutama diarahkan pada kawasan yang berpotensi terdampak ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online