Partisipasi Pilur Bantul 73,7 Persen, DPMK Siapkan Evaluasi Jelang 2028
Partisipasi Pilur Serentak 2026 Bantul mencapai 73,7%. DPMK menyiapkan evaluasi dan sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi pada 2028.
Petugas BPBD Bantul meninjau lokasi api yang keluar dari dalam tanah, Kamis (22/10/2026). Harian Jogja/Kiki Luqman\r\n
Harianjogja.com, BANTUL—Kemunculan api yang menyerupai bara dari bawah tumpukan material di Muntuk RT 01, Kalurahan Muntuk, Kapanewon Dlingo, Bantul, membuat warga khawatir. Peristiwa yang viral di media sosial itu disertai asap tebal dan bau menyengat yang masih tercium selama beberapa hari.
Api dilaporkan terlihat pada pagi dan malam hari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul telah mengecek lokasi dan menduga titik kemunculan api berkaitan dengan material di bekas tempat pembuangan sampah.
Pemicu pastinya belum diketahui. BPBD masih memantau kondisi di lapangan untuk memastikan tidak ada potensi kebakaran lanjutan.
Warga Sempat Menyiram Titik Kemunculan Api
Samsiyah, pemilik rumah di sekitar lokasi, mengatakan pertama kali mengetahui kejadian tersebut ketika menyapu halaman pada pagi hari. Saat itu, ia melihat asap mengepul dalam jumlah banyak dari bawah tumpukan material yang diduga sampah.
“Awalnya itu pagi, bangun pagi to, nyapu di sini. Terus di atas itu muncul asap banyak banget,” kata Samsiyah saat ditemui, Kamis (22/10).
Terkejut melihat kejadian tersebut, Samsiyah berusaha memadamkan api dengan menyiramkan air ke titik kemunculannya. Namun, upaya itu tidak langsung berhasil karena asap justru kembali mengepul.
“Terus saya siram air, eh malah asapnya itu tambah banyak gak padam-padam,” ujarnya.
Menurut Samsiyah, api tampak menyala pada malam hari seperti bara arang. Sementara itu, asap dan bau sangit masih muncul setelah api terlihat, sehingga menimbulkan kekhawatiran selama sekitar satu pekan.
“Apinya itu malam kelihatan, Apinya kayak bara arang gitu,”tuturnya.
Bau menyengat dari material yang diduga terbakar juga dirasakan setiap hari. Selain mengganggu kenyamanan, kondisi tersebut membuat Samsiyah khawatir karena bau sangit dapat memicu batuk.
“Iya, sangit-sangit gimana tuh kan ya bikin batuk,” katanya.
Samsiyah menjelaskan, lokasi tersebut sebelumnya digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Namun, menurut dia, aktivitas membuang atau membakar sampah di tempat itu sudah lama tidak dilakukan.
Ia memperkirakan material sampah di lokasi tersebut telah menumpuk selama kurang lebih tiga tahun.
“Ya dulu-dulunya itu 3 tahun dijadiin tempat buang sampah,” jelasnya.
BPBD Bantul Duga Api Berkaitan dengan Bekas Sampah
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Peralatan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan pihaknya telah menerima informasi tentang kejadian tersebut melalui petugas Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops).
Setelah menerima laporan, BPBD melakukan pengecekan langsung untuk melihat kondisi lokasi sekaligus mencari kemungkinan penyebab munculnya api.
Berdasarkan pengamatan awal, titik kejadian berada di bekas tempat pembuangan sampah yang berisi beragam material, termasuk plastik dan botol. Karena itu, dugaan sementara mengarah pada pembakaran sampah, bukan kemunculan sumber energi dari dalam tanah.
“Nah, itu kalau terjadi api itu memang ada kemungkinan ada yang nggak sadar mungkin membakar gitu,” kata Antoni.
Meski demikian, Antoni menegaskan pemicu api masih harus dipastikan. Cuaca panas pada musim kemarau dinilai bisa menjadi faktor pendukung, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan penyebab kejadian.
Kemungkinan adanya sumber api dari aktivitas manusia, termasuk puntung rokok, juga belum dapat dikesampingkan.
“Saya kira karena memang sampah yang sudah sampai lama, mungkin panas juga kan lembab juga tapi mungkin pasti ada pemicunya. Ya itu ada mungkin enggak sadar mungkin di sini ada yang bakar atau apa,” ujarnya.
Keberadaan Septic Tank Ikut Menjadi Perhatian
Selain kondisi bekas tumpukan sampah, Antoni menyinggung keberadaan septic tank di sekitar lokasi. Menurut dia, kondisi tersebut perlu diperhatikan selama proses pemantauan berlangsung.
Namun, keberadaan septic tank belum dapat dipastikan sebagai penyebab munculnya api. BPBD masih perlu mengamati perkembangan kondisi di lapangan sebelum menarik kesimpulan.
“Nah, septic tank juga itu kayaknya memicu juga menambah energi lagi untuk terjadi kebakaran. Makanya kita sama-sama kita pantau dulu pergerakannya gimana,” katanya.
BPBD Bantul berencana memantau lokasi selama beberapa hari ke depan. Pemantauan dilakukan untuk memastikan apakah masih terdapat asap atau tanda-tanda kebakaran yang berpotensi muncul kembali.
Antoni meminta warga segera melaporkan kepada aparat setempat jika melihat asap kembali mengepul. Laporan tersebut diperlukan agar petugas dapat menindaklanjuti kondisi di lokasi.
“Makanya paling bagus ini kita pantau dulu berapa hari ke depan, masih ada asap apa tidak. Kalau ada asap itu segera dilapor karena kemungkinan masih ada aktivitas lagi kalau ada ada kebul lagi nanti,” kata Antoni.
BPBD Siaga Antisipasi Kebakaran Lebih Besar
Antoni menegaskan BPBD tetap bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran yang lebih besar. Apabila situasi berkembang dan membutuhkan penanganan lanjutan, pihaknya akan berkoordinasi dengan petugas pemadam kebakaran.
“Iya, kita standby. Kalau memang terjadi kebakaran yang besar ya kita kita segera antisipasi dengan Damkar, Pak,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak hanya menyebarkan informasi mengenai kejadian tersebut, tetapi turut berkoordinasi dengan aparat setempat jika menemukan kondisi serupa.
Pemantauan secara langsung tetap diperlukan untuk memastikan titik kemunculan api di bekas tumpukan sampah tersebut benar-benar aman. Warga juga diminta tidak mengabaikan kemunculan asap kembali dan segera melaporkannya kepada petugas.
Hingga penyebabnya dapat dipastikan, dugaan mengenai asal api masih bersifat sementara. BPBD Bantul akan terus memantau perkembangan kondisi di lokasi untuk mengantisipasi potensi kebakaran lanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Partisipasi Pilur Serentak 2026 Bantul mencapai 73,7%. DPMK menyiapkan evaluasi dan sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi pada 2028.
Kelurahan Tegalpanggung mengembangkan delapan kelompok kesenian untuk mencegah kenakalan remaja, memberdayakan warga, dan mendukung kampung wisata.
Persik Kediri unggul 2-1 atas PSS Sleman pada babak pertama pekan keenam Super League 2026/2027 berkat brace Ernesto Gomez.
Survei Voxpol mencatat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran sebesar 63,1 persen, sementara Poltracking mencatat 64,8 persen.
Pemerintah menyebut penanganan karhutla terus dilakukan dengan anggaran Rp1,235 triliun. El Nino dan aktivitas manusia disebut menjadi faktor pemicu.
Api dan asap muncul dari bekas tumpukan sampah di Dlingo, Bantul, selama sekitar sepekan. BPBD menyelidiki pemicu dan memantau lokasi.