Smart Batik Olah Turunan Sawit Jadi Batik Bernilai Tinggi, Agrinas Beri Apresiasi

Sunartono
Sunartono Jum'at, 23 Oktober 2026 22:47 WIB
Smart Batik Olah Turunan Sawit Jadi Batik Bernilai Tinggi, Agrinas Beri Apresiasi

Agrinas Palma Nusantara menggandeng Smart Batik Indonesia di Sleman untuk mengembangkan batik berbahan turunan kelapa sawit yang lebih ramah lingkungan.

Harianjogja.com, SLEMAN—Kelapa sawit tak hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan dan produk kebutuhan sehari-hari. Di Maguwoharjo, Depok, Sleman, bahan turunan komoditas tersebut dikembangkan menjadi inovasi batik yang menawarkan alternatif bahan malam sekaligus peluang ekonomi bagi perajin.

Inovasi itu dikembangkan Smart Batik Indonesia, perajin batik asal Kabupaten Sleman yang menggandeng PT Agrinas Palma Nusantara (Persero). Kerja sama kedua pihak ditandai dengan penandatanganan perjanjian di tempat usaha Smart Batik Indonesia, Maguwoharjo, Sleman, Jumat (23/10/2026).

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Agrinas Palma Nusantara, Gatut Mukti, mengapresiasi inovasi pemanfaatan turunan sawit untuk industri batik. Menurutnya, pengembangan tersebut membuka kemungkinan pemanfaatan komoditas sawit di luar produk yang selama ini dikenal masyarakat.

"Ini inovasi yang unik, karena biasanya sawit itu dikonsumsi atau digunakan oleh masyarakat untuk bahan tambahan seperti cokelat, margarin, sampo, sabun, hingga pasta gigi. Ternyata Smart Batik Indonesia menemukan sebuah inovasi dan konsisten menggunakan bahan dasar malam dari sawit, bahkan ke depannya merambah ke cangkang sawit," ujar Gatut Mukti.

Berawal dari Riset Sejak Akhir 2023

Founder Smart Batik Indonesia, Miftahudin Nur Ihsan, menjelaskan pengembangan batik sawit bermula dari riset kolaboratif pada akhir 2023. Dalam prosesnya, Smart Batik Indonesia bekerja sama dengan perajin dari sejumlah daerah, termasuk Jogja, Pekalongan, dan Cirebon, untuk merumuskan bahan malam yang sesuai dengan kebutuhan pembatik.

Perumusan tersebut mempertimbangkan karakteristik perajin di setiap daerah. Formula yang cocok digunakan di satu wilayah belum tentu memberikan hasil serupa ketika diterapkan di wilayah lain.

"Setiap wilayah punya karakteristik masing-masing. Formula yang cocok dipakai di Jogja belum tentu cocok untuk perajin di Pekalongan atau Cirebon. Jadi kami mencoba memposisikan diri dan merumuskan komposisi yang pas," ujar Ihsan saat ditemui belum lama ini.

Dalam pengembangannya, Smart Batik Indonesia menggunakan fraksi padat minyak sawit atau palm stearin, yang berasal dari hasil samping pengolahan minyak sawit, sebagai bahan baku malam batik.

Menurut Ihsan, inovasi tersebut memiliki sejumlah keunggulan dalam proses produksi. Penggunaan malam berbahan turunan sawit diklaim membuat pernapasan pembatik lebih nyaman, pengerjaan lebih lancar, serta menghasilkan lebih sedikit sisa limbah dari proses pelunturan malam atau lilit batik.

Dari sisi hasil akhir, Ihsan memastikan batik sawit tetap mampu bersaing dengan batik konvensional. Selain kualitas produk, kenyamanan selama proses produksi dan cerita di balik inovasi menjadi nilai tambah yang ditawarkan.

Kembangkan Motif dari Berbagai Bagian Sawit

Kolaborasi Agrinas Palma Nusantara dan Smart Batik Indonesia tidak berhenti pada pemanfaatan turunan sawit sebagai bahan malam. Pengembangan juga diarahkan pada penggunaan bagian lain dari pohon sawit, termasuk daun dan lidi, untuk menciptakan motif batik baru.

Gatut menilai inovasi tersebut berpotensi menambah nilai ekonomi industri batik. Semakin banyak perajin yang mengembangkan produk berbasis sawit, semakin terbuka pula peluang diversifikasi produk dan pengembangan pasar.

"Bagaimana 16 juta pekerja batik, kalau ke depannya pengrajin batik makin luas, makin banyak yang berinovasi dari batik sawit ini, tentu akan semakin menambah nilai ekonomi. Ini adalah pahlawan devisa yang dilakukan melalui elemen sawit yang berdampak dan berkelanjutan," tambahnya.

Sebagai tindak lanjut kerja sama, Agrinas Palma Nusantara juga merencanakan program edukasi ke sekolah-sekolah di sekitar perkebunan serta pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai wilayah Indonesia.

Melalui program tersebut, perajin di sekitar perkebunan yang selama ini menggunakan bahan konvensional akan diperkenalkan dengan alternatif bahan berbasis sawit. Pendekatan ini diharapkan membuka ruang kolaborasi antara sektor perkebunan dan industri kreatif.

Inovasi batik sawit juga diklaim memiliki keunggulan dari sisi kenyamanan pembatik saat proses pewarnaan, selain kualitas warna dan motif yang dapat bersaing dengan batik pada umumnya.

Batik Tulis Sawit Dibanderol hingga Rp1,5 Juta

Produk batik sawit Smart Batik Indonesia telah menjangkau berbagai pasar. Menurut Ihsan, permintaan datang dari beragam pihak, mulai dari instansi pemerintah, lembaga pengelola perkebunan, perusahaan besar di sektor sawit, hingga asosiasi pengusaha kelapa sawit.

Harga produk bervariasi mengikuti jenis dan tingkat kerumitan pengerjaan. Untuk batik tulis sawit, harga yang ditawarkan berkisar Rp500.000 hingga Rp1.500.000 per lembar kain.

Ihsan berharap inovasi tersebut dapat mempertemukan warisan budaya batik dengan perkembangan industri modern. Dengan pemanfaatan bahan turunan sawit, batik diharapkan tetap berkembang sekaligus memberikan nilai tambah bagi perajin lokal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online