Kehancuran Ekologi RI di Balik Transisi Energi Disuarakan di COP30
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
BANTUL-Saat krisis ekonomi global merundung sejumlah negara di Eropa dan Amerika, ekspor produk alumunium asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sebagian diproduksi di Bantul masih tetap bertahan.
Peralatan rumah tangga dan aksesoris sepeda motor yang dibuat oleh tangan terampil perajin lokal itu menembus ke berbagai belahan dunia.
Di Bantul ada 35 Usaha Mikro Kecil (UKM) dengan tenaga kerja lebih dari 500 orang memproduksi peralatan rumah tangga dan aksesoris sepeda motor berbahan alumunium.
Sentra produksi tersebar di sejumlah kecamatan seperti Pleret dan Banguntapan. Ketua Asosiasi Pengusaha Alumunium Jogja Bambang Cahyono mengatakan, di Bantul saja perhari mampu dihasilkan hingga empat ton barang-barang berbahan aluminum. Belum termasuk di Kota Jogja.
Barang-barang itu tak hanya dijual ke berbagai provinsi di Indonesia namun juga sejumlah negara Eropa, Amerika dan Asia. Peralatan rumah tangga seperti wajan paling banyak digemari di Eropa dan Amerika.
Industri ini bahkan mampu bertahan kendati di dua benua tersebut dilanda krisis ekonomi. Wajan made in Bantul ini relatif bertahan lantaran harganya terjangkau serta kualitas yang tak kalah bersaing dengan produk dari negara lain. “Di Eropa kami jual ke Belanda, lainya ke Suriname, Kanada, Brazil,” terangnya, Sabtu (20/4).
Ekspor tersebut belum termasuk ekspor oleh pengepul yang membeli produk alumunium dari sejumlah pasar tradisional di DIY seperti Pasar Turi. Para pengepul tersebut mengekspor sendiri ke luar negeri terutama ke negara-negara Asia seperti Thailand, Vietnam dan Kamboja. Total alumunium yang diekspor ke luar negeri diperkirakan mencapai 10-15% dari total produksi.
Kerajinan alumunium menurutnya sangat membantu warga yang tak memiliki lahan pekerjaan. Di Bantul, sebagian pekerja alumunium merupakan anak-anak muda. Mereka biasanya anak-anak muda yang tak mampu bersekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi dan tak berhasil mencari lapangan pekerjaan lain.
Bambang berharap pemerintah serius menangani industri alumunium. “Karena kalau benar-benar diseriusi sebenarnya potensinya besar. Penghasilanya juga lumayan untuk mengurangi pengangguran,” tuturnya.
Sayang kata dia, intervensi pemerintah selama ini tak seperti di negara lain. Ia menyontohkan, kalangan pengusaha industri di Indonesia masih harus menanggung beban bunga tinggi kredit di bank saat hendak mendapatkan modal.
Di negara lain, pemerintah dapat menghapuskan bunga kredit hingga nol persen untuk kalangan UKM yang menciptakan lapangan kerja. “Bahkan sejumlah negara memberi insentif. Misalnya pengririman barang lewat pelabuhan harusnya bayar seratus dapat potongan empat belas persen,” imbuh Bambang.
Belum lagi kepedulianl soal kemajuan teknologi dan penelitian. Sejauh ini yang dilakukan pemeirntah terutama daerah hanya memberi pelatihan kepada para perajin, itupun baru di Kota. Bantul sendiri menurut Bambang belum banyak memberi sumbangsih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Penemuan jasad Pariman terkubur di dapur rumah di Boyolali gegerkan warga. Polisi masih selidiki penyebab kematian.
Kulonprogo gabungkan OPD akibat kekurangan ASN. Sebanyak 345 PNS pensiun, rekrutmen minim, birokrasi dirampingkan.
Dosen UNISA Jogja jadi dosen tamu di UKM Malaysia, kupas kesehatan mental, otak, hingga isu bunuh diri lintas disiplin.
Indonesia jadi target baru sindikat judi online dan scam internasional. 320 WNA ditangkap di Jakarta, DPR minta pengawasan diperketat.
Google menghadirkan Quick Share yang bisa terhubung ke AirDrop. Cek daftar HP Android yang kebagian fitur ini dan cara kerjanya.