Begal Bokong Teror Wonogiri, Pelaku Ditangkap, Beraksi 4 Kali
Begal bokong di Wonogiri ditangkap kurang dari 5 jam. Pelaku mengaku sudah empat kali beraksi di jalur sepi.
SLEMAN—Sepinya kondisi terminal tak hanya terjadi di Condongcatur, Tempel dan Jombor, Sleman. Kondisi yang tak kalah sepi juga terlihat di Terminal Pakem. Di terminal yang ada di lereng Gunung Merapi ini, hampir tak ada satu calon penumpang yang mau menunggu angkutan umum di dalam terminal. Mereka memilih menunggu di depan Pasar Pakem atau portal keluar terminal.
Lebih mirisnya lagi, penumpang yang menggunakan angkutan jurusan Condongcatur – Kaliurang juga semakin minim. Setiap berhenti di terminal, sopir hanya bisa mengangkut tiga orang penumpang jika beruntung, namun lebih sering kosong.
Menurut salah satu orang yang tinggal di Terminal Pakem, Wantini, Terminal Pakem hanya ramai saat pasaran saja, yakni pada Pon dan Legi. Selain dua hari itu terminal akan lengang, bahkan pada hari libur sekalipun.
“Dulu Terminal Pakem ini ramai sekali, tapi sekarang sangat sepi. Bahkan sopir saja enggak mau ngetem [menunggu penumpang] di sini. Semua memilih melanjutkan perjalanan dan mencari penumpang di jalan saja,” kata Wantini saat ditemui di Terminal Pakem, Minggu (21/4).
Wantini mengatakan, keadaan terminal yang sepi ini terjadi sejak lama. Pasalnya kondisi angkudes yang sudah tidak layak membuat calon penumpang enggan naik angkudes. Selain itu sudah banyak orang yang memiliki kendaraan pribadi.
Salah satu sopir angkudes jurusan Condongcatur–Kaliurang, Wakijo, jumlah penumpang kini semakin berkurang. Dia mengaku, setiap kali jalan, bisa mengangkut enam orang penumpang sudah sangat beruntung, minimal bisa memutar uang untuk membeli solar.
“Kalau mengangkut enam orang saja sudah baik. Tapi kalau dari terminal, baik di Pakem maupun di Condongcatur sama saja. Tidak bakal ada penumpang yang naik dari terminal,” kata Wakijo.
Wakijo mengatakan meskipun nama trayeknya Kota [Jogja]–Kaliurang, namun dirinya mengaku jarang mengantarkan penumpang sampai Kaliurang. Sebab jika sampai ke Kaliurang, ongkos untuk naik lebih mahal.
“Kalau yang naik dari Condongcatur ke Kaliurang ada enam orang, kami berani langsung menuju ke Kaliurang, kalau kurang, saya tekor. Itu sudah impas untuk beli solar. Nanti saya ambil untung dengan menaikkan orang lain di jalan,” jelas Wakijo.
Dia mengaku untuk tarif tergantung jauh dekatnya tujuan. Jika dari Condongcatur ke Kaliurang dia biasanya menarik Rp10.000 untuk satu penumpang. Dan untuk sehari, Wakijo biasanya bisa dua kali perjalanan pergi pulang.
“Kami hanya mengandalkan orang yang naik dari Mirota Kampus menuju ke Banteng. Di sini banyak sekali penumpang. Kalau di sini tidak ada penumpang alamat kami akan tekor untuk perjalanan,” jelas Wakijo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Begal bokong di Wonogiri ditangkap kurang dari 5 jam. Pelaku mengaku sudah empat kali beraksi di jalur sepi.
Penelitian terbaru ungkap pola tulisan tangan bisa jadi indikator awal penurunan fungsi kognitif pada lansia.
Rupiah melemah ke Rp17.800, DPR tegaskan kondisi bukan krisis 1998. Sektor perbankan dinilai masih stabil.
Tren wisata 2026 berubah, turis kini cari pengalaman emosional, healing, dan perjalanan bermakna ke Jepang, Korea, hingga China.
Peringatan 20 tahun gempa Jogja jadi momentum penguatan kesiapsiagaan bencana berbasis teknologi, kolaborasi, dan edukasi masyarakat.
Potong hewan kurban berisiko picu infeksi kulit. Simak tips dokter agar tetap aman saat Iduladha.