Mengenal Flores Thrust, Sesar Pemicu Gempa M 7,7 di NTT
Gempa M 7,7 NTT berkaitan dengan Flores Back Arc Thrust. Sesar ini berpotensi memicu gempa besar dan memiliki sejarah gempa merusak.
JOGJA—Temuan baru buah mengandung formalin setelah mi kuning, tentu makin membuat konsumen begitu riskan posisinya. Sebenarnya untuk apa formalin yang sehari-hari digunakan untuk pengawet mayat diterapkan pada buah?
Ahli Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Kedokteran UGM, Iwan Dwi Prahasto mengatakan FK UGM pernah mencoba melakukan riset kecil mengenai kandungan formalin dalam buah. Dalam penelitian itu diketahui buah lokal maupun impor di Jogja ada yang berpengawet.
Penggunaan formalin pada buah selama ini dimaksudkan untuk mengawetkan dan mempercantik penampilan. Sebab formalin dapat membuat buah menjadi mengkilap.
Agar menjadi mengkilap, awalnya buah hanya dicelupkan sebentar ke dalam cairan formalin. Namun saat ini, justru perendaman dilakukan berlebihan karena dilakukan sepanjang pengiriman buah ke lokasi penjualan.
Dia menjelaskan efek penggunaan formalin tidak tergantung pada kadar tetapi dosis secara kumulatif.
“Kalau dikonsumsi secara kumulatif, risiko dari efek formalin pasti terjadi. Diawali dengan mual-mual, muntah, nyeri kepala sampai pingsan. Yang terberat bisa sebabkan kanker,” jelas Dosen Fakultas Kedokteran (FK) UGM ini kepada Harian Jogja, akhir pekan lalu.
“Walau sedikit, kalau proses perendalam lama, tidak akan butuh waktu lama bagi manusia merasakan dampaknya. Mungkin sekitar seminggu gejala seperti yang saya sebutkan tadi akan terasa,” terangnya.
Adapun ciri-ciri buah berformalin tersebut seperti tampak mengkilap, tidak mudah kusut dan bertahan lebih dari lima hari. Bila sudah seperti ini, Iwan mengimbau masyarakat untuk mengupas buah sebelum mengkonsumsi.
Seperti yang dikatakan Yanti, Iwan juga mengatakan pencucian buah pada air keran tidak berguna, karena air hanya berfungsi menghilangkan debu atau kotoran. Akan lebih membantu, jika buah dicuci menggunakan air hangat. Hanya, cara seperti ini masih jarang dilakukan.
Namun, tegas dia, jika warna daging pada buah terlihat berubah dan ada bau pasir, sebaiknya buah tersebut tidak dikonsumsi. Sebab formalin sudah masuk ke dalam daging buah.
Sampai saat ini, ia belum mendengar adanya pasien yang dirawat karena buah berformalin. Pasalnya gejala yang ditujukan orang yang mengkonsumsi buah berformalin sama dengan sakit lain. Kendati demikian masyarakat diminta untuk berhati-hati atau cermat saat mengkonsumsi buah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gempa M 7,7 NTT berkaitan dengan Flores Back Arc Thrust. Sesar ini berpotensi memicu gempa besar dan memiliki sejarah gempa merusak.
Kokap Kulonprogo mengandalkan potensi lokal, Kopi Roro, Waduk Sermo, dan padat karya untuk membuka peluang ekonomi masyarakat.
Impor tanaman hias Indonesia mencapai Rp18 triliun pada 2025. ASA Indonesia mendorong petani lokal meningkatkan produksi aglaonema.
KAI menghadapi persoalan pembebasan lahan dalam pembangunan jalur kereta baru di Sumatra, Kalimantan, dan Bali.
Pelajar di Kota Jogja didorong tak hanya menggunakan hak pilih, tetapi ikut mengawasi kinerja wakil rakyat dan kebijakan pemerintah.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih melantik 80 pejabat baru. Ia menegaskan pengisian jabatan berdasarkan kinerja dan meritokrasi.