KPK Sita Aset Rp150 Miliar dalam Kasus Pemerasan WNA
KPK menyita aset Rp150 miliar dalam kasus dugaan pemerasan izin tinggal WNA yang menjerat eks Wamen Imipas Silmy Karim dan 7 tersangka.
Harianjogja.com-Peringatan HUT ke 68 Kemerdekaan RI bakal menjadi sejarah yang tak mungkin mudah dilupakan bagi keluarga Warjiyah. Anak sulungnya, Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Kus Hendratno meninggal ditembak oleh orang tak dikenal saat menjalankan patroli di wilayah Pondok Aren, Jakarta Jumat (16/8/2013) malam. Keluarga berharap nyawa Aiptu Kus akan menjadi akhir dari serangkaian teror yang dilakukan kepada anggota kepolisian dan masyarakat sipil.
"Anak saya salah apa? Mengapa dia dibunuh?" Kalimat ini keluar dari mulut perempuan berumur 60 tahun bernama Warjiyah. Air mata mengucur dari kedua kelopak matanya. Sedih. Itu yang tergambar di raut wajahnya yang terlihat menua.
Yah, dialah wanita yang melahirkan Aiptu Kus. Warjiyah tidak menyangka ada orang yang tega menghabisi nyawa anak sulungnya itu.
Warjiyah sama sekali tidak menduga, kedatangan Kus bersama anak dan istri pada Juni lalu adalah pertemuan terakhir. "Dia mampir ke sini sehabis dari rumah keluarga istrinya di Madiun. Kebetulan juga di sini ada tradisi ruwahan," kata Warjiyah saat ditemui di Dusun Duwet, Desa Triharjo, Kecamatan Wates, Kulonprogo. Sabtu (17/8/2013).
Kus juga tidak bercerita ada masalah saat bersilaturahmi di rumah orangtuanya itu. Di kalangan keluarga dan para tetangga, Kus dikenal sebagai orang baik.
Lebaran lalu, Kus tidak pulang lantaran bertugas. Ungkapan mohon lahir batin dari seorang anak kepada kedua orangtua dan sanak keluarga lain pun hanya lewat sambungan telepon.
"Saat hari H Lebaran dia telepon. Ya, itu terakhir kali saya mendengar suaranya karena selepas itu dia tidak pernah telepon lagi sampai akhirnya kemarin ada berita dari istrinya kalau dia meninggal ditembak orang," ujar Warjiyah sedih.
Keluarga berharap dalang penembak Aiptu Kus segera tertangkap.
"Teror pembunuhan seperti ini harus segera berakhir. Cukup kakak saya (Aiptu Kus Hendratno) yang menjadi korban pembunuhan. Setelah ini jangan sampai berjatuhan korban lagi," tutur Ahmadi, 45, adik ipar dari Aiptu Kus kepada Harian Jogja jelang pemakaman almarhum.
Bagi Ahmadi, kakak iparnya merupakan sosok teladan. Dia sempat syok ketika mendapat kabar Aiptu Kus tewas setelah ditembak orang misterius. Kabar itu dia dapat dari keluarga di Triharjo, Jumat (16/8/2013) pukul 23.30 WIB. Kebetulan pula beberapa saluran televisi menginformasikan seputar peristiwa itu.
Masih ingat betul di benaknya semasa hidup, kakak iparnya selalu mengajarkan kebaikan dan keberanian menjadi seorang polisi.
Dia berbesar hati mengetahui anggota Polsek Pondok Aren, Tangerang itu terbunuh ketika akan melakukan kewajiban apel cipta kondisi pengamanan hari ulang tahun ke-68 Republik Indonesia dari instansinya.
"Kakak ipar meninggal dalam tugas. Dia polisi yang baik. Saya hanya ingin ada pelajaran berharga di balik peristiwa ini," tandasnya. Pelajaran berharga tersebut tida lain adalah keseriusan dari kepolisian untuk segera menangkap pelaku sehingga teror terhadap anggota polisi sehingga teror terhadap polisi segera berakhir.
"Jangan ada Kus-Kus lain lagi yang sebenarnya tidak salah, tapi justru menjadi korban pembunuhan," lanjutnya.
Tak Trauma
Menjadi anak tertua dari empat bersaudara, Aiptu Kus benar-benar menjadi panutan bagi adik-adik kandungnya. Ayahnya, Suratman, 70, merupakan anggota Tentara Nasional (TNI)Indonesia yang kini sudah purna tugas.
Kendati berasal dari keluarga militer, orangtuanya tak pernah memaksakan dirinya menjadi seorang polisi atau TNI.
"Keinginan jadi polisi murni dari dia sendiri," tutur Warjiyah sembari menyeka kelopak matanya dengan tisue.
Setelah menamatkan pendidikannya di SMA Bopkri Wates, almarhum akhirnya memutuskan mengikuti seleksi anggota Polri hingga akhirnya diterima dan ditempatkan di Tangerang hingga saat ini.
Beberapa tahun kemudian, adiknya, Nugroho Tri Handoyo, 35, mengikuti jejak dia untuk berkarier di kepolisian. Kini Nugroho bertugas di Polsek Gondokusuman, Kota Jogja.
"Selama ini saya sering kontak dengan dia. Kak Kus lah yang mendidik mental saya agar berani mengambil risiko berprofesi sebagai polisi," papar Nugroho terpisah.
Bagi Nugroho, peristiwa pembunuhan terhadap kakaknya itu tidak akan menyiutkan nyalinya. Kendati serangkaian teror terhadap anggota polisi sedang marak terjadi, dia tak gentar untuk menghadapinya.
"Saya tidak takut, meninggal dalam tugas itu risiko," ujarnya tegas.
Nugroho mengetahui kabar penembakan terhadap kakaknya dari foto yang di-share melalui BlackBerry.
Saat piket di Posko Mudik, teman-temannya memperlihatkan foto anggota Polsek Pondok Aren yang tertembak. Sementara kakaknya bertugas di situ. Rasa cemas kontan saja menyerbu. Nugroho segera meminjam ponsel milik teman.
"Ternyata korban yang difoto itu benar-benar kakak saya," paparnya.
Aiptu Kus Hendratno lahir 1 Desember 1969 dan meninggalkan seorang istri dan tiga anak.
Istrinya, Ana Sunarigati, 37, berasal dari Madiun, Jawa Timur. Sementara tiga anaknya, Adrian Wibisono,18, baru masuk kuliah, Adam Anggoroseno,15, duduk di bangku SMA dan Cesta Kirani, 7, masih SD.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPK menyita aset Rp150 miliar dalam kasus dugaan pemerasan izin tinggal WNA yang menjerat eks Wamen Imipas Silmy Karim dan 7 tersangka.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya 26 Agustus 2026 berdasarkan data resmi KAI Access.
Jadwal Kereta Bandara YIA 26 Agustus 2026 tersedia untuk layanan Reguler dan Xpress dari Tugu Jogja maupun YIA.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo 26 Agustus 2026 dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 26 Agustus 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Studi 1.350 pengemudi di Inggris mengungkap banyak fitur canggih mobil jarang digunakan, termasuk teknologi keselamatan dan kenyamanan.