Wartawan Kukuhkan Udin sebagai Pahlawan Pers

Sabtu, 17 Agustus 2013 22:06 WIB
Wartawan Kukuhkan Udin sebagai Pahlawan Pers

JIBI/Desi Suryanto Sejumlah wartawan melaksanakan upacara bendera memperingati 17 tahun dibunuhnya wartawan Harian Bernas Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin di halaman Makam Udin di Desa Trirenggo, Bantul, DI.Yogyakarta, Sabtu (17/08/2013). Dalam aksi itu para wartawan mengkuhkan Udin sebagai Pahlawan Pers Nasional. Kasus Udin akan memasuki masa kedaluwarsa secara yuridis formal pada 2014, oleh karena itu aksi solidaritas terhadap kasus Udin terus dikumandangankan agar pihak kepolisian segera menuntaskan

Harianjogja.com, BANTUL-Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-68 Kemerdekaan RI puluhan wartawan Bantul menggelar upacara di makam wartawan almarhum Fuad Mohamad Syafrudin atau Udin di pemakaman umum Trirenggo, Bantul Sabtu (17/8/2013).

Dalam upacara itu mereka mengukuhkan Udin sebagai pahlawan pers. Mereka mendesak pemerintah dan kepolisian dapat mengungkap kasus hukum pembunuhan wartawan yang selamat 17 tahun belum tertuntaskan. Kasus ini akan dianggap kedaluarsa pada 2014 nanti.

Nampak hadir di tengah upacara berlangsung istri mendiang Udin, Marsiyem. Pengukuhan Udin sebagai pahlawan pers ditandai diserahkannya bendera merah putih inspektur upacara yang diterima Marsiyem.

Koordinator wartawan Bantul Judiman mengatakan tidak ada yang sulit dari pengusutan kasus pembunuhan Udin yang 17 tahun tidak terselesaikan. Judiman menilai bukti dan saksi masih sangat memungkinkan untuk melengkapi kebutuhan penegak hukum. "Jadi harus dituntaskan," ujar Judiman.

Kepada Harian Jogja, Marsiyem istri Udin mengaku pesimistis pemerintah dan kepolisian akan menuntaskas kasus terbunuhnya suami. Ia yakin suaminya meninggal karena pemberitaan.

Di mata Marsiyem, suaminya sosok wartawan yang memang 'blak-blakan' mengungkap ketidakberesan. Di usianya 33 tahun aktif meliput kebijakan yang tidak berpihak masyarakat luas.

"Jadi saya yakin mas Udin meninggal karena pekerjaannya wartawan," ungkap istri Udin dengan mata berkaca-kaca.

Selama mendampingi almarhum Marsiyen sendiri kerap menemui adanya teror orang tak dikenal. Hanya saja, mendiang Udin selalu meyakinkan istri tidak perlu takut apabila memang yang dilakukan untuk kebenaran dan fakta. Upacara wartawan Bantul ditutup dengan doa dan tabur bunga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online