KEISTIMEWAAN DIY : Seniman di Bantul Tak Tahu Cara Akses Danais

Senin, 14 Oktober 2013 14:25 WIB
KEISTIMEWAAN DIY : Seniman di Bantul Tak Tahu Cara Akses Danais

JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Kaum muda asal Desa Banaran, Galur, Kulonprogo yang tergabung dalam Paguyuban Seni Reog Sekar Mudho Sembodo dengan apik menampilkan pertunjukan kesenian Reog di halaman gedung DPRD Provinsi DIY di Jalan Malioboro, Jogja, Jumat (19/10). Pesta Rakyat Seni Tradisi yang digelar dua hari ini menampilkan beragam kesenian tradisi dari barbagai daerah di DIY sebagai wujud syukur atas Keistimewaan Yogyakarta.

Harianjogja.com, BANTUL – Dana Keistimewaan DIY (danais) sedianya akan mengalir beberapa persen untuk mendorong kegiatan kelompok seni masih dirasa membingungkan.

Mardilah salah satu aktivis seni budaya reog pemuda Krido Prabowo Dusun Samen Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipura adalah tokoh perempuan yang paling tahu jatuh bangunnya kelompok reog pemuda di dusunnya. Ia belum mengetahui adanya danais yang adapat diakses kelompok seni yang kini perlahan tengah digerakkan kembali sejak vakum karena gempa.

Mardilah selalu diposisikkan terdepan oleh kawula muda Kampung Dodotan untuk mengalang dana iuran warga tiga RT masing-masing Rp20.000 untuk membiayai reog kebanggaan mereka bisa tampil dalam peristiwa penting di dusunnya.

“Kalau tidak begitu kelompok reog ini sudah bubar sedari dulu. Tidak ada bantuan, pakaian dan peralatan semua rusak sewaktu bencana gempa. Akhirnya kami merengkak pelan-pelan membangun lagi kelompok reog warisan seni orang tua sejak 1988 lalu,” katanya ditemui Harian Jogja di rumahnya belum lama kemarin.

Setiap tampil reog pemuda Krido Prabowo harus mengeluarkan paling tidak Rp2 juta khusus hanya untuk kebutuhan sewa seragam pemain dan sewa peralatan karena hilang karena gempa lalu.

“Itu belum kami urusi makan para pemainnya harus iuran beras, lauk dan gula untuk minum dan tamu. Kami yang mengumpulkan warga untuk wajib mendukung pelestarian seni budaya satu-satunya ini dengan iuran,” ungkap Mardilah mengaku bangga kiprah semangat pemuda Dodotan.

Murtopo yang juga perintis Reog Krido Prabowo membenarkan kiprah Mardilah yang memang cukup menentukan berdirinya kembali reog pemuda. Ia bahkan merintis para pemuda untuk tidak pantang menyerah menggali bantuan dana seperti para perantau dusun yangberada diluar daerah.

Ia berharap bantuan danais nanti dapat dijelaskan sampai masyarakat tingkat bawah agar kelompok seni di pinggiran seperti ini tahu mekanisme memperoleh danais untuk pelentarian seni reog,” ujar Murtopo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online