OJK Ungkap 19 Pinjol Bermasalah, Kredit Macet
OJK mencatat 19 pinjaman online memiliki kredit macet di atas 5 persen per April 2026. Outstanding pembiayaan pindar mencapai Rp102,07 triliun.
Harianjogja.com, BANTUL—Sepuluh perempuan mengenakan kostum baju hitam, celana pendek hitam berhias bordiran benang emas lengkap dengan topi pet, berbaris di Pendapa Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis, Senin (4/11/2013) malam.
Dengan diiringi beragam alat musik seperti terbang, kendang, bedug, para penari bergerak sangat sederhana tak banyak variasi.
Lenggang kanan, lenggang kiri, tepuk-tepuk, sorong kanan, sorong kiri, membungkuk-bungkuk, bersedekap, dan berdiri, begitu seterusnya.
Tak lama kemudian, salah seorang penari mendadak kesurupan. Kali ini, penari itu menari dengan gerakan yang lebih luwes dan dinamis, mengikuti lantunan syair campuran Indonesia, Jawa dan Arab.
Inilah gambaran pentas tari angguk yang dilakukan kelompok kesenian Rukun Sida Lancar asal Purworejo, Jawa Tengah, saat tampil di Tembi Rumah Budaya. Kelompok itu tampil di hadapan ratusan penonton, turut meramaikan perayaan Tahun Baru Islam 1435 Hijriah atau Malam 1 Sura.
"Seperti halnya keris yang dikeluarkan saat Malam 1 Sura, kami sebagai pelaku seni juga harus tampil pada 1 Sura," kata Sumirun, pimpinan kelompok seni Rukun Sida Lancar, Senin malam seusai pentas.
Menurut Sumirun, tarian Angguk diilhami dari gerak baris-berbaris prajurit Belanda. Tak heran jika kostum yang dikenakan para penari mirip dengan seragam serdadu Belanda.
"Walaupun kostum mirip serdadu Belanda, tapi sebenarnya tari ini mengusung pesan penuh sindiran terhadap penjajah Belanda," ujar Sumirun.
Tari Angguk sebenarnya dimainkan sebagai tarian pergaulan para remaja dan biasa digelar setelah musim panen tiba, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.
Tarian ini pada mulanya dimainkan oleh kaum laki-laki namun seiring perjalanan waktu tepatnya pada dekade 1970-an, terjadi pergeseran, sehingga angguk dimainkan kaum perempuan. Nama tari angguk sendiri diambil dari gerakan para penari yang selalu mengangguk-anggukkan kepala.
Selain tari angguk, dipentaskan pula kesenian jaran kepang oleh kelompok Turangga Jati Agung Budaya asal Purworejo, Jawa Tengah, pimpinan Slamet Sumitro. Usut punya usut, kedua kelompok seni tersebut memang sengaja dihadirkan secara berbarengan karena sama-sama berasal dari Desa Sumberagung, Kecamatan Grabag, Purworejo.
Kedua kelompok seni ini berada di bawah naungan Paguyuban Trah Prabu Brawijaya V dan Brayat Ageng Majapahit (PTBM) pimpinan Y. Agus Setianto atau KRT Mangun Werdaya, abdi dalem Keprajan Kraton Jogja.
"Dua kelompok ini masih eksis mempertahankan kesenian warisan leluhur. Maka pada malam 1 Sura kesenian itu harus disuguhkan kepada publik,” ungkap Agus Setianto, pimpinan Paguyuban Trah Prabu Brawijaya V kepada wartawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
OJK mencatat 19 pinjaman online memiliki kredit macet di atas 5 persen per April 2026. Outstanding pembiayaan pindar mencapai Rp102,07 triliun.
Kokola menghadirkan produk eksklusif baru di Jakarta Fair 2026 dengan promo hemat, permainan berhadiah, dan grand prize bersama Mamah Dedeh.
Tradisi Mubeng Beteng 1 Sura 2026 kembali digelar di Keraton Jogja. Simak jadwal, titik keberangkatan, aturan peserta, dan rangkaian acaranya.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Minggu 15 Juni 2026 tersedia sejak pagi hingga malam. Simak jadwal lengkap keberangkatan terbaru.
Piala Dunia 2026 memicu polemik setelah 13 federasi sepak bola dunia mengecam komentar Presiden UEFA Aleksander Ceferin soal format baru turnamen.
Penguatan IHSG dan rupiah dinilai Danantara mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan kinerja BUMN.