Kisah Timbul Sopir Becak Jadi Korban Carut Marut Data BPS, Desil 1 Berubah Jadi 9
Desil keluarga warga Kulon Progo naik dari 1 ke 9. BPS DIY menjelaskan cara penentuan desil dan mengapa desil bukan ukuran mutlak kemiskinan.
Harianjogja.com, BANTUL–Sebanyak 167 seniman grafis (pegrafis) dari Indonesia dan mancanegera tampil dalam pameran grafis bertajuk Jogja International Mini Print Festival (JIMPF) 2013 yang berlangsung di Galeri Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul, 15 hingga 30 November 2013.
Pameran ini menjadi pemanasan sebelum even Jogja International Biennale Mini Print (JIBMP) yang akan berlangsung 2014.
Para pegrafis yang berpameran, 30 di antaranya merupakan seniman asal Filipina, Australia, Mexico dan Serbia Montenegro. Sisanya merupakan seniman dari beberapa kota di Indonesia seperti Makassar, Jakarta, Bali, Jogja dan Bandung.
Syahrizal Pahlevi, salah satu pegrafis terkemuka Jogja yang juga merangkap sebagai koordinator pameran JIMPF menjelaskan, pameran digagas sebagai salah satu upaya untuk mengangkat seni grafis yang selama ini kalah populer jika dibandingkan dengan seni lukis.
“Kami juga ingin memberi ruang bagi pegrafis muda dalam memamerkan karya, mengingat event grafis di Jogja masih kurang. Harapannya, bisa memancing pegrafis lainnya untuk menggelar acara serupa,” katanya kepada Harianjogja.com, Selasa (19/11/2013) di sela-sela pameran.
JIPMF 2013 juga menjadi “pemanasan” untuk mengetahui sampai sejauh mana respons publik terhadap pameran grafis, mengingat pada 2014, Syahrizal juga bakal menggelar festival serupa dengan format yang lebih besar bertajuk Jogja International Biennale Mini Print (JIBMP).
“JIBM akan kami buat event dua tahunan dengan skala internasional,” ucap pegrafis asal Palembang, Sumatera Selatan itu.
Sebanyak 167 pegrafis yang berpameran JIMPF di Galeri ISI merupakan seniman yang berpameran tanpa melalui seleksi. Siapapun diperbolehkan untuk mengikuti pameran. Panitia hanya memberikan aturan jika karya yang harus dikirimkan tidak lebih dari 20x25 centimeter. Lebih dari itu karya akan dikembalikan.
Karya yang dipamerkan juga beragam, dengan berbagai teknik grafis seperti cukil kayu, edsa, kolase, stensil, screen sablon dan masih banyak lagi. “Hampir sebagian besar karya yang dipamerkan cukup berkualitas terutama karya yang dimiliki pegrafis muda,” beber Pahlevi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Desil keluarga warga Kulon Progo naik dari 1 ke 9. BPS DIY menjelaskan cara penentuan desil dan mengapa desil bukan ukuran mutlak kemiskinan.
CKG Lansia digelar tiap tiga bulan di 45 kelurahan Kota Jogja untuk mendeteksi dini penyakit dan memperkuat kesehatan lansia.
MK menggelar sidang pengucapan putusan atau ketetapan 17 perkara pada Jumat pukul 14.00 WIB, termasuk uji KUHP dan UU Polri.
BPH Migas menyebut distribusi B50 sejak 1 Juli 2026 berjalan lancar dan kendaraan dapat menggunakannya secara normal.
Studi Formasi Nanggulan di Kulonprogo mengungkap keunikan batuan endapan badai purba yang menarik untuk terus diteliti.
DPRD Kulonprogo mendorong pemutakhiran data desil secara berkala dengan melibatkan kalurahan dan verifikasi langsung di lapangan.