Hama Uret dan Busuk Leher Ancam Tanaman Padi Gunungkidul

Kamis, 21 November 2013 16:09 WIB
Hama Uret dan Busuk Leher Ancam Tanaman Padi Gunungkidul

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Hama uret dan penyakit busuk leher mengancam tanaman padi para petani. Langkah-langkah antisipasi harus dilakukan.

Koordinator Ikatan Petani Pemandu Hama Tani Indonesia (IPPHTI) Kabupaten Gunungkidul Suparjiyem menuturkan pengolahan tanah yang tepat menjadi kunci utama. Sebelum ditanami tanah terlebih dahulu harus diolah dan disebari pupuk kandang.

Biasanya kedua hama ini disebabkan kurangnya hujan. Ia menuturkan pemberian pupuk kandang juga harus tepat. Sebelum ditaburkan, pupuk terlebih dahulu difermentasi.

"Kalau tidak difermentasi nanti uretnya banyak. Sedangkan untuk mengantisipasi busuk leher, pemberian pupuk dengan unsur N atau nitrogen juga harus dikurangi," kata Suparjiyem, Kamis (21/11/2013).

Ketua Kelompok Tani Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari Wakiman mengamini hal tersebut. Menurutnya, para petani di Desa Kemadang harus berperang melawan hama yang susah diatasi. Hama-hama tersebut yakni mentul dan uret yang memakan akar tanaman.  Wakiman mengatakan dulu hama sudah mati ketika disemprot pestisida, namun hama-hama tersebut menjadi kebal.

“Ada satu cara tapi juga harus kompak yaitu menyuluh menggunakan obor lahan ketika hujan turun pertama kali,” papar dia.

Namun proses tersebut harus dilakukan sebelum ditanami. Wakiman menuturkan hama-hama tersebut akan keluar dari tanah usai hujan pertama. Kemudian warga menyuluh dan diambili satu-satu.

“Setelah diambil dan dikumpulkan nanti bisa digoreng untuk lauk,” lanjut dia

Wakiman menambahkan akibta ulah hama-hama tersebut para petani sempat mengalami kerugian karena gagal panen. Selain berperang dengan hama, para petani juga harus siap dengan segala musim. Pasalnya ladang para petani sangat tergantung dengan hujan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online