Peredaran Dekstrometorfan Makin Banyak Penyimpangan
Ilustrasi obat-obatan (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Harianjogja.com, JOGJA- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Yogyakarta akan menggencarkan pengawasan terhadap peredaran obat batuk dekstrometorfan yang belakangan banyak disalahgunakan kalangan remaja untuk mendapatkan efek seperti narkoba.
"Kami akan melakukan pengawasan terus agar batas penjualannya juga sesuai aturan. Distribusi obat jenis ini mulai banyak yang menyimpang," kata Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BBPOM DIY Dyah Sulistyorini, Rabu (18/12/2013)/
Menurut Dyah, dekstrometorfan yang sebelumnya banyak dijumpai sebagai obat batuk, saat ini banyak disalahgunakan. Obat itu kini banyak dipakai oleh kalangan remaja untuk mendapatkan efek seperti yang dihasilkan narkoba.
"Dekstrometorfan banyak digunakan dengan dosis yang tinggi sebagai penenang dan menimbulkan efek halusinasi. Efek ini yang sering disalahgunakan,"kata dia.
Padahal, kata dia, konsumsi dekstrometorfan dengan dosis yang berlebihan dapat membahayakan pengguna bahkan dapat berujung pada kematian.
Ia menilai obat itu banyak digunakan sebagai pengganti narkoba karena harganya yang murah dan banyak ditemukan dengan mudah di apotek maupun kios.
"Saya juga heran mengapa remaja bisa kreatif menyalahgunakan fungsi-fungsi kimiawi dari obat saat ini. Menurut saya ada orang-orang dewasa yang mengajarinya," katanya.
Selanjutnya,menurut dia, BBPOM Yogyakarta juga tetap memantau peredaran obat-obat lainnya yang dijual di apotik atau kios. Sebab, secara umum, seluruh obat memiliki kerawanan disalahgunakan.
BBPOM,kata dia, akan memberikan batas waktu penjualan obat dekstrometorfan hingga Juni 2014.
"Kami menyosialisasikan dan memberi batas waktu penarikan dekstrometorfan hingga 2014. Kami harap yang menarik peredarannya pabrik pembuatnya sendiri. Sekarang kami masih memberikan masa tenggang,"kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share