PASAR PERCONTOHAN SENTOLO : Relokasi, Pedagang Pasar Sentolo Pecah Kubu

Kamis, 02 Januari 2014 12:24 WIB
PASAR PERCONTOHAN SENTOLO : Relokasi, Pedagang Pasar Sentolo Pecah Kubu

Harianjogja.com, KULONPROGO— Pedagang Pasar Sentolo terpecah. Pedagang yang bersedia pindah ke pasar percontohan mendapat tekanan dari pedagang yang menolak relokasi. Tekanan tersebut berupa olok-olok hingga melarang petani menyetor hasil bumi kepada pedagang di pasar yang baru.

Daliyah, 48, salah seorang pedagang sayur, menyayangkan relokasi pasar membuat pedagang pecah jadi dua kubu, pedagang yang setuju dan menolak. Dampaknya, pedagang yang sudah pindah ke pasar percontohan dikucilkan saat datang ke pasar lama untuk mengambil dagangan dari para petani.

Tidak hanya itu, petani juga dilarang menjual hasil panen kepada pedagang yang bersedia pindah. "Padahal semua hasil panen disetor petani di pasar lama, jadi kami di pasar baru sering kesulitan mendapat barang dagangan," ujarnya kepada Harianjogja.com, Rabu (1/1/2014).

Diakuinya, sejak awal ia setuju dengan relokasi pasar Sentolo karena tempat yang lebih teratur. Ia tidak merasa masalah walaupun harus memulai dari nol karena kehilangan pelanggan.

Hal senada juga diungkapkan Supri, 54, pedagang sayur di pasar percontohan Sentolo. Para petani memasok hasil panen di pasar lama, sehingga pedagang yang sudah pindah menjadi kesulitan mengakses hasil panen untuk dijual kembali.

"Daun melinjo, terong, dan sejenisnya seringkali tidak ada di pasar yang baru karena semua petani memasok semua bahan ke pasar lama," urainya.

Supri mengungkapkan, perpecahan pedagang juga dipicu oleh orang-orang yang memanfaatkan relokasi untuk kepentingannya sendiri. "Jadi tidak murni dari pedagang," tukasnya.

Beberapa waktu sebelumnya, Kepala Paguyuban Pedagang Pasar Sentolo (P3S) Tuminah, juga mengatakan penolakan relokasi pasar sarat nuansa politis. Kendati demikian, ia mengatakan bertambahnya jumlah spanduk yang berisi penentangan pemindahan pasar tidak mengganggu rencana relokasi pasar.

"Silakan saja banyak orang mengatasnamakan parpol atau organisasi apapun, tetapi yang jelas sebagian besar pedagang sudah menempati pasar baru sejak diresmikannya [Minggu (22/12/2013)] kemarin," ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online