Kehancuran Ekologi RI di Balik Transisi Energi Disuarakan di COP30
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Kondisi salah satu sudut rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Semanggi, Pasar Kliwon, Solo. (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)
Harianjogja.com, BANTUL-Kabupaten Bantul masih membutuhkan tiga hingga empat unit Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) lantaran tingginya permintaan rumah susun. Saat ini warga harus mengantre berbulan-bulan agar bisa tinggal di Rusunawa.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul Tri Saktiyana menyatakan, saat ini baru ada tiga lokasi Rusunawa di Bantul. Lokasi tersebut di Kecamatan Kasihan, Sewon dan Banguntapan.
Bantul, menurut dia, masih membutuhkan tiga hingga empat unit Rusunawa baru yang dibangun di daerah aglomerasi atau berbatasan dengan kota.
Sebab rumah tinggal layak huni dengan harga sewa murah semakin dibutuhkan di tahun-tahun mendatang. “Kalau sekarang mungkin kebutuhannya tidak terlalu mendesak, tapi perlu diantisipasi untuk sepuluh hingga lima belas tahun mendatang, pasti kebutuhan Rusunawa semakin meningkat,” terangnya Rabu (12/2/2014).
Keberadaan Rusunawa tersebut sangat membantu warga tidak mampu yang ingin tinggal di rumah layak huni. Selain itu, menurut dia, juga mencegah munculnya wilayah kumuh di perbatasa kota. Karenanya keberadaan Rusunawa perlu diperbanyak sejak dini.
Anggota Tim Pengelola Rusunawa Dinas Pekerjaan Umum Bantul Anang Suryo membenarkan tingginya kebutuhan Rusunawa saat ini hingga pembangunannya perlu diperbanyak. Anang menyebut, sedikitnya 20 warga mengantre untuk tinggal di satu lokasi Rusunawa.
Lama antrean rata-rata 3-6 bulan. “Cepat atau lambat mengantre tergantung ada penghuni yang pindah atau tidak. Kadang ada penghuni baru namun tidak betah tinggal lama karena alasan ketatnya aturan dan sebagainya lalu keluar, maka diberikan ke warga yang mengantre. Kadang ada anak tinggal di Rusunawa, tapi tidak betah meninggalkan orang tua lalu keluar,” imbuh Anang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Polresta Jogja melengkapi berkas kasus dugaan kekerasan anak di daycare Little Aresha dengan 147 saksi dan 13 tersangka.
Pemkab Gunungkidul meminta dispensasi penggunaan solar untuk bus sekolah akibat kenaikan BBM nonsubsidi yang membebani anggaran operasional.
Debarkasi haji di YIA mulai disiapkan menyambut kepulangan jemaah pada 2 Juni 2026 dengan sistem tanpa asrama pertama di Indonesia.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
MR.D.I.Y. Art Competition 2026 hadir di Jogja lewat workshop seni. Seniman muda diajak berkarya dan tembus panggung internasional.