Kisah Timbul Sopir Becak Jadi Korban Carut Marut Data BPS, Desil 1 Berubah Jadi 9
Desil keluarga warga Kulon Progo naik dari 1 ke 9. BPS DIY menjelaskan cara penentuan desil dan mengapa desil bukan ukuran mutlak kemiskinan.
Aksi turun ke bawah demi meraih simpati terus dilakukan para calon legislator. Tak terkecuali putri mantan Presiden Soeharto, Siti Hediyati Haryadi alias Titiek Soeharto. Baginya dukungan masyarakat adalah kunci utama menuju kursi wakil rakyat. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Switzy Sabandar.
Iring-iringan kendaraan roda empat yang didominasi warna kuning itu masih berjarak sekitar 50 meter dari Pasar Wates, ketika puluhan pedagang berhamburan keluar meninggalkan dagangannya yang berada di lapak masing-masing.
Perempuan dengan kulit wajah bak pualam turun dari salah satu kendaraan dan hiruk pikuk manusia semakin terasa.
Sebagian maju dan mengulurkan tangan, berebutan, supaya dapat bersalaman dengan anak salah satu tokoh paling berpengaruh di Indonesia itu. Sementara, pedagang lain, memilih untuk berkasak-kusuk dengan temannya. “Kuwi anak e Pak Harto lho,” bisik salah satu pedagang kepada orang yang berdiri di sebelahnya.
Tak lama, perempuan yang mengenakan baju berwarna senada dengan kendaraannya itu melangkah masuk ke dalam pasar.
“Saya pernah ketemu, fotonya besar sekali di tempat saya, ini Mbak Tutut ya?” tanya seorang ibu setengah baya dengan polosnya.
“Sanes, bu, saya Titik, adiknya Mbak Tutut,” jawab pemilik nama lengkap Siti Hediyati Haryadi tersebut sembari tersenyum.
Hari itu, Jumat (20/1/2014) sekitar pukul 08.00 WIB, menjadi jadwal putri keempat mantan Presiden ke-2 RI menggelar kampanye. Kehadirannya di tengah-tengah masyarakat dengan sambutan yang demikian meriah seolah menjadi penanda kebesaran Soeharto masih terasa.
Dalam suatu kesempatan yang lalu, Titik Soeharto, pernah bilang, “Rakyat menghendaki zaman Bapak [Soeharto], terbukti dengan banyaknya jargon 'piye, le? enak jamanku tho?'.”
Perempuan kelahiran Semarang, 14 April 1959, ini memilih blusukan ke pasar untuk bercengkerama langsung dengan para pedagang, sekaligus memohon doa restu, melenggang ke kursi dewan, mengingat ia tercatat sebagai Caleg DPR RI dari partai berlambang pohon beringin.
Seketika uneg-uneg pedagang pun terlontar, mereka terkenang dengan masa pemerintahan Soeharto, sandang pangan terpenuhi, bahan bakar minyak melimpah, dan biaya pendidikan pun murah. Kesempatan ini digunakannya untuk mengambil hari rakyat dan mengembalikan kejayaan partainya.
“Semua pedagang mengeluhkan harga sembako, sandang pangan, dan sebagainya yang harus impor, kalau rakyat memberi kepercayaan kepada saya dengan mendukung melalui Golkar, semoga kejayaan Soeharto dapat kembali dan rakyat tidak lagi menderita,” janjinya dengan berapi-api.
Janji manis yang meluncur dari bibirnya direspon salah seorang pedagang. “Insyaallah, saya dukung Bu Titik, orangnya supel dan tidak membeda-bedakan orang, orang seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat agar tidak terus menderita,” ucap Martini senang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Desil keluarga warga Kulon Progo naik dari 1 ke 9. BPS DIY menjelaskan cara penentuan desil dan mengapa desil bukan ukuran mutlak kemiskinan.
Labuan Bajo ditargetkan pulih dan makin tangguh pascagempa M7,7 melalui penguatan keselamatan, manajemen risiko, dan destinasi wisata darat
Luhut menyebut integrasi AI dalam E-Katalog dapat menghemat anggaran 20%-30% serta meningkatkan transparansi pengadaan pemerintah.
Festival Mustika Rasa resmi dibuka di Alun-Alun Selatan Jogja, Sabtu (29/8/2026). Festival kuliner yang melibatkan ratusan UMKM lokal ini membawa pesan tentang
Bala Mataram Rescue yang tumbuh dari suporter PSIM kini memiliki ambulans sendiri berkat bantuan Brajamusti Rantau untuk misi kemanusiaan
Ribuan warga mengikuti senam di Alun-Alun Selatan Jogja dan menggalang donasi lebih dari Rp10 juta untuk korban gempa NTT.