Kisah Siswa SD Penyambut Rombongan Presiden, Mending Pulang Daripada Panas

Selasa, 25 Maret 2014 11:05 WIB
Kisah Siswa SD Penyambut Rombongan Presiden, Mending Pulang Daripada Panas

Matahari tepat di atas kepala para bocah berseragam putih merah yang sudah satu jam berdiri di tepi jalan raya. Teriknya mencubit kulit hanya bisa dibalas wajah memelas sembari sesekali menengok ke arah timur dari posisi mereka menunggu. Apa yang dilakukan anak-anak itu, berikut laporan wartawan Harian Jogja Switzy A Sabandar.

“Suwe banget,” seloroh salah satu siswa perempuan yang mengenakan kerudung kepada teman di sampingnya, diayun-ayunkannya bendera merah putih dari plastik yang berada dalam genggamannya.

Sebagai murid SDN Gadingan Wates yang berlokasi tidak jauh dari Jalan Nasional, mereka diharuskan melaksanakan instruksi dadakan. Seperti halnya pada Senin (24/3/2014), menjelang jam pulang sekolah, guru kelas IV dan V mengumumkan kepada mereka untuk tidak langsung pulang ke rumah.

Para murid diminta berdiri di tepi jalan menunggu rombongan Presiden SBY melintas dan melambaikan bendera. Perintah ini, mau tidak mau, harus dilaksanakan.
“Mending pulang sebenarnya, tapi ya gimana lagi,” keluh Hanum Resti, siswa kelas IV.

Gadis cilik dengan potongan rambut bob sebahu ini mengaku sudah dua kali mengikuti perintah semacam ini. Pertama kali, sewaktu rombongan SBY melintasi ruas jalan yang sama menuju Purworejo beberapa waktu lalu.

“Mudah-mudahan saja nunggu Presiden lewat enggak selama dulu, waktu itu katanya mau lewat jam 13.30 WIB ternyata baru lewat 15.30 WIB,” jelasnya yang mengaku sama sekali tidak tertarik melihat Presiden lewat.

Kendati demikian, perempuan kelahiran sepuluh tahun silam itu mencoba menikmati dari sisi lain. Kata dia, “Untungnya sama teman-teman, jadi dianggap saja main-main.”

Seorang bocah laki-laki memilih duduk di selasar rumah warga ketimbang berdiri di pinggir jalan raya. “Ya, begitulah,” ujar bocah bernama Waskito Kuncoro itu.

Ia tidak terlalu tertarik dengan kegiatan ini dan memilih pulang ke rumah setelah jam sekolah usai. Tapi, niat itu urung dilakukan siswa kelas V ini mengingat sekolahnya diminta menyambut Presiden lewat.

Sumilah, Guru Pendidikan Jasmani SDN Gadingan, membenarkan adanya instruksi dadakan yang diterima sekolah untuk mengajak siswa-siswanya berdiri di pinggir jalan raya sebagai bentuk penyambutan kepada orang nomor satu di Indonesia saat melintas di Jalan Nasional.

Sekitar pukul 12.00 WIB, sekolah mendapat permintaan dari Kodim serta surat edaran dari Dinas Pendidikan untuk melibatkan siswa, menyambut Presiden yang hendak melintas. “Kalau bendera yang dibawa anak-anak pemberian dari Kodim 0271 Kulonprogo,” ungkapnya.

Sekitar 70 siswa kelas IV dan V yang mengikuti instruksi ini, sementara siswa kelas VI dibebastugaskan karena harus mengikuti les persiapan ujian nasional. Sebenarnya, ia kasihan dengan siswa yang kepanasan menunggu Presiden lewat. Tapi, bagaimana lagi, baginya, instruksi harus dihargai dan dijalankan.

Selain SDN Gadingan, terdapat beberapa sekolah tingkat SD sampai SMA yang melakukan hal serupa. Sekolah-sekolah yang berdekatan dengan Jalan Nasional diwajibkan menyiapkan para muridnya di tepi jalan raya menanti rombongan Presiden lewat dan menyambut dengan melambaikan bendera.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online