Jaring Nasabah di Pasar Bring Harjo, Bank Bersaing dengan Rentenir

Selasa, 25 Maret 2014 14:31 WIB
Jaring Nasabah di Pasar Bring Harjo, Bank Bersaing dengan Rentenir

Harianjogja.com, JOGJA—Di pasar tradisional, sejumlah lembaga keuangan seperti BMT dan bank berlomba dengan rentenir untuk mendapatkan nasabah. Tak mudah meraih kepercayaan, namun dengan edukasi, pelan-pelan pedagang mulai memilih lembaga keuangan resmi.

Research and Publising BMT Beringharjo, Bey Arifin menyampaikan rentenir masih dengan mudah ditemui di pasar tradisional. Rentenir setiap hari berkeliling pasar dengan sistem operasi yang rapi dan terkoordinasi.

“Bunga berbunga yang tidak disadari ini akhirnya disesali setelah berjalan beberapa saat. Biasanya pola ini masih diakses orang yang ingin kemudahaan dan kecepatan,” ujarnya, saat ditemui di Kantor Pusat BMT Beringharjo di Ring Road Barat Gamping, Sleman, belum lama ini.

Meski masih didapati masyarakat yang terjebak rentenir, tetapi pola pembiayaan yang kini beredar di masyarakat mulai berubah. Warga pasar kini lebih memilih kredit yang memberikan margin paling rendah dan tidak memperdulikan pihak yang memberikan. Bey mengaku perubahan pola ini merupakan riset yang dilakukannya saat berhadapan dengan mitra.

Bey menilai persoalaan ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap ekonomi syariah masih rendah. Sedangkan BMT Beringharjo merupakan lembaga keuangan berbentuk koperasi yang mengembangkan sistem ekonomi Islam.

“Tahun 1994 kami berdiri, tetapi 1995 beberapa BMT resmi menjadi satu. Waktu itu, pendiri kami memiliki kegalauan melihat rentenir yang merajalela. Sesuai tujuan utama kami akan tetap berdiri untuk membantu usaha mikro atau wong cilik,” ungkapnya.

Pembiayaan yang disediakan BMT Beringharjo relatif banyak. Produk tersebut dapat dipilih sesuai kemampuan pembayaran mitra, baik secara harian, mingguan maupun bulanan. Sementara besaran pembiayaan mulai dari Rp1 juta-Rp200 juta.

Dari 12 cabang yang dimiliki BMT Beringharjo di Jawa, lembaga keuangan ini memiliki total 28.000 anggota. Sekitar 10.000-15.000 anggota di antaranya ada di Jogja.

Secara umum pencapaian neraca konsolidasi seluruh cabang untuk pembiayaan Rp50 miliar. Nilai tersebut baru mencapai 85% dari total target 2013. Faktor penyebab target belum dapat tercapai disebutnya beragam. Satu di antaranya ialah semakin banyak lembaga keuangan yang masuk ke pasar tradisional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online