Karhutla Meluas, Polri Ungkap Modus Bakar Lahan untuk Buka Kebun
Polri menetapkan 72 tersangka kasus karhutla di Sumatra dan Kalimantan serta menelusuri dugaan pemodal di balik pembakaran lahan.
Harianjogja.com, KULONPROGO—Sebanyak 16 pengantin sunat di Desa Ngerstiharjo, Kecamatan Wates, diarak menggunakan tandu dan mobil pikap sebagai pembuka acara sunatan massal, Minggu (25/5/2014).
Kegiatan yang merupakan rangkaian dari Merti Desa Ngestiharjo yang jatuh pada akhir Agustus mendatang ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Perbedaannya terletak dari konsep acara yang lebih meriah dan melibatkan 500-an orang. Peserta sunatan massal bahkan ditandu saat arak-arakan.
Arak-arakan yang terdiri dari para pengantin sunat, Bergodo Jogo Karto Desa Tayuban Kecamatan Panjatan, kelompok selawatan Alikhlas Ngestiharjo dan drum band Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Ngestiharjo ini berjalan sejauh 1,5 kilometer dari simpang tiga Toyan sampai balai desa Ngestiharjo.
Kepala Desa Ngestiharjo, Aris Zulkhasanah, mengungkapkan, kegiatan sunatan massal merupakan acara rutin tahunan yang digelar Ngestiharjo sejak 10 tahun lalu. “Tapi yang menggunakan arak-arakan besar seperti ini baru tahun ini,” ujarnya.
Ia sengaja menggelar acara sunatan massal yang meriah karena jumlah peserta yang lebih banyak jika dibanding tahun sebelumnya. Biasanya, peserta sunatan massal kurang dari 10 anak, namun kali ini mencapai 16 anak.
Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Wates, Pemerintah Desa Ngestiharjo, dan Paguyuban Pengajian Malam Minggu Malam Senin Ngestiharjo.
Selain sebagai media syiar, menurut dia, tujuan Pemerintah Desa Ngestiharjo menggelar sunatan massal untuk memfasilitasi masyarakat dalam memahami pendidikan kesehatan reproduksi.
Ketua panitia sunatan massal, Sujono, menuturkan, persiapan dan sosialisasi kegiatan sunatan massal dilakukan sejak dua bulan lalu. Pesertanya tidak hanya warga Ngestiharjo, melainkan juga desa tetangga seperti, Kulwaru, dan kecamatan Panjatan serta Pengasih.
Kegiatan ini gratis dan peserta juga mendapat baju serta konsumsi. “Kami bekerjasama dengan RSUD Wates yang memberikan dukungan sehingga biaya lebih murah, sebab biasanya biaya rata-rata untuk satu anak Rp350.000,” sebut dia.
Sebagian besar peserta berumur 9 sampai 11 tahun dan hanya ada satu peserta yang masih berusia tiga tahun.
Dwi Rahayu, 31, warga Desa Cerme, Kecamatan Panjatan, mengaku putranya, Aziz Rahman, yang masih berusia tiga tahun, terdaftar sebagai peserta sunatan massal termuda. Alasan ia menyunatkan anaknya sejak dini karena pertimbangan kesehatan.
“Anak saya ada keluhan saat kencing, oleh dokter disarankan untuk disunat ketika berumur tiga tahun,” terangnya. Ia merasa senang dengan kegiatan sunatan massal karena membantu meringankan beban masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polri menetapkan 72 tersangka kasus karhutla di Sumatra dan Kalimantan serta menelusuri dugaan pemodal di balik pembakaran lahan.
Pemda DIY menekankan pentingnya membuktikan manfaat nyata keistimewaan bagi generasi muda sekaligus menjawab tantangan masa depan.
Jadwal SIM Keliling Gunungkidul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, dan syarat perpanjangan SIM A serta SIM C.
Lima jodhang berisi hasil bumi dari empat kabupaten dan satu kota di DIY diserahkan dalam Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun Undang-Undang Keistimewaan (UUK)
Jadwal KSPN Jogja 1 September 2026 tersedia untuk rute Obelix Sea View dan Pantai Drini, dengan tarif mulai Rp12.000.
Ratusan warga memadati kompleks Balai Budaya Tamanmartani, Kalasan, Sleman, untuk menyaksikan Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun Undang-Undang Keistimewaan