Masyarakat Kota Jogja Rindu Gotong Royong

Uli Febriarni
Uli Febriarni Senin, 26 Mei 2014 11:23 WIB
Masyarakat Kota Jogja Rindu Gotong Royong

Harianjogja.com, JOGJA-Budaya gotong-royong dan kebersamaan yang hampir punah coba diangkat lagi melalui budaya Merti Kampung dan gelar budaya Rejeban di Kelurahan Terban. Kegiatan tersebut menyatukan seluruh elemen masyarakat Kelurahan Terban.

Merti kampung yang disandingkan dengan gelar budaya Rejeban biasanya diadakan pada bulan Rajab, dilaksanakan sekaligus untuk menyambut Isra Mi’raj, sebuah bulan suci menurut umat muslim. Sementara itu, di Kelurahan Terban, gelaran merti kampung adalah kegiatan budaya yang telah puluhan tahun tenggelam dan tak terlaksana.

Merti kampung berarti bersih-bersih desa. Dilakukan dengan cara membersihkan tiga makam di area kelurahan Terban, antara lain: makam Purbonegaran, Bendo, dan makam Carangsoko.

Keunikan salah satu makam, yakni makam Bendo, diyakini merupakan kompleks makam yang didalamnya terdapat makam leluhur kampung Sagan, Ki Sag dan Nyi Sag.

“Dengan agama, hidup menjadi pasti. Dengan budaya, hidup menjadi indah,” ucap Nana Karsana, pada Minggu (25/5/2014) dalam Sarasehan Kajian Rejeban Dari Sudut Pandang Agama dan Budaya.

Agama, berasal dari keyakinan. Yang menjadi urusan pribadi masing-masing penganutnya, meyakini pentingnya beribadah kepada Tuhan.

Namun, kajian Rejeban dalam budaya, mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Dari kalangan apapun, tanpa melihat perbedaan agama, kepemilikan harta, suku.

Acara diawali dengan membersihkan tiga makam di wilayah Kelurahan Terban pada Sabtu (24/5), kirab gunungan lanang wadon Minggu (25/5) yang diikuti ratusan orang dari berbagai kalangan dan usia, sarasehan budaya pada sore, kenduri, serta gelar budaya pada malam hari.

“Kami mencoba membangkitkan kembali budaya yang telah hilang sejak 1968 ini. Pemaknaan kegiatan merti kampung ini sebenarnya lebih pada gotong-royong dan kerja sama antar warga. Ketika membersihkan makam, dan menyiapkan acara ini, orang kampung bersama-sama bergerak,” tutur Antonius Yulianto, Ketua Paguyuban Kesenian Saputra Budaya, Terban.

Ia cukup takjub melihat masyarakat kelurahan Terban yang notabene merupakan masyarakat perkotaan, mau dan mampu mengerahkan kemampuan mereka untuk menyiapkan dan melaksanakan kegiatan tersebut.

“Biasanya orang kota itu sulit diajak gotong-royong, sulit dikumpulkan. Tapi ini kok responnya bagus. Seperti ada kerinduan akan budaya masa lalu. Tak lupa ini juga merupakan bentuk Segoro Amarto yang sejak dulu sudah ada, dan perwujudan betapa istimewanya Jogja,” lanjut pria yang kerap disapa Lilik itu.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online