ULANG TAHUN NAIK TAKHTA : Proses Tingalan Jumenengan Dirayakan Internal Keluarga Kraton
JIBI/Desi Suryanto Sejumlah istri kerabat Keraton Ngayogyakarta dibantu abdi dalem keparak melaksanakan tradisi membuat kue apem dalam rangka Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X (peringatan naik tahta) di Bangsal Sekar Kedaton, Kompleks Keputren, Keraton Ngayogyakarta, Yogyakarta, Jumat (07/06/2013). Sultan HB X naik tahta sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 7 Maret 1989. Sedikitnya 2500 kue apem dibuat untuk sesaji dan sebagian lagi akan dibagikan kepada seluruh abdi dalem Ker
Harianjogja.com, JOGJA- Menurut Penghageng Tepas Dwarapura Kanjeng Raden Tumenggung Jatiningrat, prosesi tingalan jumenengan atau hari ulang tahun naik takhta yang ke-25 tahun pada Kamis (29/5) dirayakan internal keluarga Kraton. Apeman dilakukan di Bangsal Kedaton Sekar Kedhaton.
Sri Sultan Hamengku Buwono X memperingati tingalan jumenengan atau hari ulang tahun naik takhta yang ke-25 tahun pada Kamis (29/5/2014) atau 29 Rejeb Tahun Alip 1947. HB X naik tahta pada 7 Maret 1989 atau bertepatan dengan 29 Rejeb 1921.
“Apem berasal dari bahasa Arab Affum yang berarti mohon ampun,” kata Kanjeng Raden Tumenggung Jatiningrat,, Kamis (29/5/2014).
Pada Ruwah, apem diwujudkan sebagai simbol mohon ampunan kepada Tuhan sebelum masuk Ramadan. Begitu pula pada tingalan dalem, apem disimbolkan sebagai permohonan ampunan untuk Sultan selama memimpin sekaligus permohonan keselamatan bagi Sultan.
Apem Sultan dibuat berukuran besar atau disebut apem mustaka yang ukurannya lebih dari lima kali besar apem biasa. Apem-apem mustaka itu ditumpuk sehingga bisa setara dengan tinggi badan Sultan.
“Jadi jumlahnya mengikuti tinggi Sultan. Beliau itu tinggi lha, bayangkan saja berapa jumlahnya,” ujar dia.
Seusai proses apeman, digelar doa emperan Bangsal Kencana pada 29 Mei. Doa dilakukan dari pagi sekitar jam 09.00 WIB. Saat itu Kraton akan ditutup untuk umum. “Ya kira-kira memakan waktu dua jam untuk doa,” katanya.
Menurut dia, tak ada yang spesial dalam ritual tingalan jumenengan ini. Seperti yang sudah-sudah, prosesi itu berlanjut dengan labuhan pada 30 Mei di Gunung Merapi, Parangkusumo dan Gunung Lawu.
Karena selalu bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, sebelum prosesi tingalan itu Kraton menggelar prosesi Yasa Peksi Buraq. Ritual itu disimbolkan dengan dua ekor burung sebagai buraq jantan dan betina yang bertengger di taman surga.
Buraq adalah kendaraan Nabi Muhammad SAW saat melakukan perjalanan gaib dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina lalu ke Langit Ketujuh untuk menerima perintah salat lima waktu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share