IPK di Bawah 3, Mahasiswa Penerima Beasiswa Sukoharjo Terancam Gugur
Dua penerima beasiswa Sukoharjo terancam gugur karena IPK rendah. Pemkab longgarkan syarat seleksi 2026.
Harianjogja.com, JOGJA – Hanya dalam hitungan jam sejak pembukaan, karya seni rupa yang dipamerkan, Artjog menjadi buruan kolektor dalam dan luar negeri. Pameran ini berlangsung pada 7-22 Juni 2014 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
Communication & Publication Manager ArtJog, Hamada Adzani membenarkan jika sudah mengatakan sebelumnya, panitia sempat mengadakana private previews dan private dinner. Dalam private previews tersebut, sudah ada beberapa karya yang terjual atau minimal sudah ada uang muka perjanjian pembelian dengan pihak calon pembeli.
“Memang sudah ada yang terjual beberapa karya namun kami tidak bisa sebutkan karya apa saja itu. Kami masih membuka penjualan hingga akhir pameran ini,” kata Hamada yang menjelaskan ada puluhan calon pembeli yang ikut dalam private preview baik dari Indonesia maupun dari luar negeri.
Hamada mengaku pada hari pembukaan ini, Sabtu (7/6/2014) setidaknya panitia masih memberikan kesempatan lebih lanjut penawaran pada karya seni. Namun ada salah satu karya yang tidak bisa dijual, karena pemiliknya memang tidak menghendaki.
“Itu karya Mas Mahendrayasa yang tidak ingin dijual. Meskipun ada beberapa penawar dengan harga tinggi namun orangnya tetap tidak mau menjual. Kemarin ada tiga orang, namun dua lagi masih mempertimbangkan jadi yang tidak dijual hanya milik Mas Mahendrayasa,” jelas Hamada.
Pemburu karya seni rupa asal Singapura, Willy mengaku tertarik dengan ajang pameran seni rupa terbesar di DIY ini. Dia sangat tertarik karena ArtJog selalu memberikan ide-ide baru dalam dunia seni rupa.
“Saya sudah mengincar beberapa karya yang siap untuk melengkapi galeri kami di Singapura. Namun untuk pembelian kami masih terus melakukan penawaran,” jelas Willy yang tidak ingin menyebutkan nama galerinya.
Selain Willy, ternyata panitia juga mengundang calon pembeli dalam pameran Art Jog ini, mulai dari Hong Kong, Taiwan, Amerika Serikat dan galeri-galeri di Eropa. Setidaknya ada puluhan pemilik galeri yang berburu lukisan di pameran kali ini.
Pengelola galeri di Inggris yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku tertarik untuk datang ke Jogja bukan hanya karena ada ArtJog. Dia mengaku kedatangannya di Jogja memang selalu bertepatan dengan ArtJog, namun tujuannya juga mendatangi sejumlah seniman lokal.
“Kami ingin mendapatkan karya seni kontemporer baru di Jogja. Salah satunya memang lewat ArtJog. Tapi setelah datang di DIY tidak lengkap jika tidak datang ke beberapa seniman,” kata pria yang mengenakan topi bulat itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua penerima beasiswa Sukoharjo terancam gugur karena IPK rendah. Pemkab longgarkan syarat seleksi 2026.
Ingin anak lebih mandiri? Simak enam kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan orangtua setiap hari untuk menumbuhkan tanggung jawab dan rasa percaya diri anak.
Kelompok Wanita Tani (KWT) Tangguh di Padukuhan Kadipiro, Margodadi, Seyegan telah menerapkan metode bebas sangkar untuk ternak ayam mereka (cage free farm).
Pemkab Batang memperluas program seragam gratis ke SD dan SMP swasta. Anggaran Rp3,8 miliar disiapkan untuk menjangkau sekitar 23.000 siswa baru.
Media Vietnam memuji kenaikan ranking FIFA Timnas Indonesia ke posisi 118 dunia. Garuda meraih tambahan 12,25 poin usai mengalahkan Oman dan Mozambik.
Sebanyak 84 siswa-siswi kelas VI SD Negeri Keputran "A" dinyatakan lulus. Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) meraih peringkat terbaik ke-5 se-Kota Yogyakarta.