BPPTKG Tegaskan Pendakian Gunung Merapi Belum Aman Dilakukan

Nimatul Faizah
Nimatul Faizah Kamis, 16 Juli 2026 20:17 WIB
BPPTKG Tegaskan Pendakian Gunung Merapi Belum Aman Dilakukan

Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso saat memaparkan aktivitas Gunung Merapi di Ruang Merbabu Kantor Bupati Boyolali, Kamis (16/7/2026). (Solopos/Ni’matul Faizah)

Harianjogja.com, BOYOLALI— Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) belum memberikan rekomendasi pembukaan jalur pendakian Gunung Merapi. Aktivitas erupsi yang masih berlangsung, disertai ancaman awan panas dan lontaran material vulkanik, dinilai masih membahayakan keselamatan pendaki.

Penegasan tersebut disampaikan Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, dalam Rapat Koordinasi Penanganan Pendakian Ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) yang digelar di Kantor Bupati Boyolali, Kamis (16/7/2026).

Aktivitas Erupsi Merapi Masih Tinggi

Agus menegaskan status Gunung Merapi yang masih berada pada level Siaga menjadi alasan utama pendakian belum dapat dibuka.

"Status siaga, apalagi erupsi, artinya tidak boleh mendekati puncak. Yang artinya juga tidak boleh adanya pendakian. Jadi Merapi sedang ada erupsi, awan panas dan guguran setiap hari," kata Agus.

Ia menjelaskan karakter erupsi Gunung Merapi sangat dinamis sehingga arah maupun tipe erupsi dapat berubah sewaktu-waktu. Kondisi tersebut membuat tingkat risiko terhadap pendaki tetap tinggi meski aktivitas gunung tampak relatif tenang.

Berdasarkan catatan BPPTKG, erupsi besar Gunung Merapi pada 2010 mengakibatkan hampir 400 orang meninggal dunia dengan nilai kerugian mencapai triliunan rupiah. Sementara itu, dalam kurun dua abad terakhir, jumlah korban jiwa akibat erupsi Merapi tercatat mendekati 2.000 orang.

Frekuensi Gempa Vulkanik Masih Tinggi

BPPTKG juga mencatat suplai magma dari dalam Gunung Merapi hingga kini masih berlangsung intensif.

Hal itu ditunjukkan oleh frekuensi gempa vulkanik yang mencapai lebih dari 50 kali per hari atau jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang berkisar lima kali setiap hari.

Selain aktivitas kegempaan, deformasi atau pengembangan tubuh Gunung Merapi juga masih terus terjadi. Kondisi tersebut menjadi indikator adanya tekanan magma dari dalam bumi yang belum mereda.

Ancaman Awan Panas dan Material Vulkanik

Agus mengatakan potensi bahaya terbesar saat ini berasal dari runtuhan kubah lava yang dapat memicu awan panas guguran.

BPPTKG memperkirakan awan panas berpotensi meluncur hingga sejauh 7 kilometer ke arah barat daya dan sekitar 5 kilometer ke arah tenggara.

Selain itu, potensi erupsi eksplosif juga masih diwaspadai karena mampu melontarkan material vulkanik hingga radius sekitar 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Belajar dari Erupsi Freatik 2018

Sebagai gambaran risiko yang masih ada, Agus mengingatkan peristiwa erupsi freatik pada 11 Mei 2018 ketika sekitar 150 pendaki berada di kawasan Pasar Bubrah.

Saat itu seluruh pendaki berhasil selamat karena kolom erupsi bergerak ke arah selatan.

"Kebetulan kolom erupsi freatik menuju ke arah selatan. Sehingga para pendaki selamat. Namun, kita tidak bisa selalu mengandalkan keberuntungan. Tidak selalu kolom erupsi mengarah ke selatan," ujarnya.

Menurut Agus, erupsi freatik merupakan salah satu jenis erupsi yang sulit diprediksi sehingga keselamatan pendaki harus menjadi prioritas utama dalam pengambilan kebijakan.

"Kesimpulannya, kami belum bisa merekomendasikan pendakian sampai puncak Gunung Merapi karena masih ada potensi bahaya lontaran dari erupsi eksplosif," tegasnya.

Dengan kondisi aktivitas vulkanik yang masih tinggi, BPPTKG menegaskan pembukaan jalur pendakian menuju puncak Gunung Merapi belum dapat direkomendasikan hingga tingkat ancaman dinilai menurun.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Espos

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online