BATU BATA DARI ARANG : Alternatif Bahan Bangunan yang Terjangkau (Bagian 2-Habis)

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Kamis, 07 Agustus 2014 15:20 WIB
BATU BATA DARI ARANG : Alternatif Bahan Bangunan yang Terjangkau (Bagian 2-Habis)

Salah seorang karyawan menunjukan bata press yang dinakamakan bain alias bata inovasi Rabu (6/8/2014). Bata ini dibuat menggunakan limbah arang dari pabrik gula. (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja)

Harianjogja.com, BANTUL-Batu bata dari arang memiliki kualitas yang sama dengan batu bata merah umumnya. Adapun produk ini lebih terjangkau dan lebih ramah lingkungan.

Pemilik bisnis ini, Agus Sucahyono mengatakan bata inovasi atau bain dijual seharga Rp650 per buah, lebih murah Rp50 dibanding bata merah yang dijual seharga Rp700. Selain harganya murah, penggunaan bata ini juga lebih sedikit dibanding bata merah.

“Per meter hanya butuh 50 biji, kalau bata merah bisa sampai 65 hingga 75 biji, yang jelas lebih hemat,” sambung Agus.

Bain diklaim tahan hingga puluhan tahun layaknya bata merah. Bahkan kini sejumlah gedung terkenal menggunakan bahan bangunan bata press.

“Gedung Dagadu di Gedong Kuning pakai bata ini juga, sudah banyak yang menggunakan,” ujarnya.

Sayangnya, belum banyak orang yang memanfaatkan limbah arang untuk pembuatan bata press. Padahal potensi bahan bakunya masih melimpah dibanding bata merah. Agus mengklaim, di Jogja, rumah produksi miliknya yang terletak Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul menjadi satu-satunya tempat yang mengolah arang menjadi bata.

Kintoko, 30, anak buah Agus menuturkan, bain dapat menjadi alternatif bahan bangunan selain bata merah. Apalagi saat ini, tanah liat sebagai bahan baku bata merah sudah mulai sulit didapat. Harganya pun semakin mahal.

Sementara bata press, tiddak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk mendapatkan bahan baku. “Kalau kami butuh, dari pabrik gula siap mengantar, tidak bayar. Hanya bayar jasa angkut saja. Di sana kan banyak arang ber-ton-ton setiap hari diproduksi,” kata Kintoko ditemui di tempat pembuatan bata press di Dusun Kembaran.

Selama ini, limbah arang dari pabrik gula tersebut banyak dibuang sia-sia. Otoritas pabrik gula bahkan sampai menyewa lahan di daerah Gunungkidul sebagai tempat pembuangan limbah arang. Kini sebagian limbah itu justru membawa manfaat. Tidak sedikit pengembang di Bantul maupun konsumen perorangan menggunakan bain.

“Trennya terus naik, sebulan bisa diproduksi 20.000 bain,” tuturnya lagi.

Salah seorang karyawan menunjukan bata press yang dinakamakan bain alias bata inovasi Rabu (6/8/2014). Bata ini dibuat menggunakan limbah arang dari pabrik gula.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis