Upacara Tedhak Siten, Harapan Kebaikan untuk Sang Anak

Uli Febriarni
Uli Febriarni Senin, 08 September 2014 02:20 WIB
Upacara Tedhak Siten, Harapan Kebaikan untuk Sang Anak

Tedhak siten, atau yang bermakna turun ke tanah, merupakan sebuah cara memaknai satu tahapan dalam kehidupan. Seperti apa gambaran upacara tedhak siten, yang kini diuri-uri kembali oleh orang Jawa di Kota Jogja?

Alaric Zeround Verellino Kuncoroyekti dan Maria Josephine Gisella Marchiata Pratama, masing –masing masih berada digendongan ayahandanya, dengan didampingi ibunda.

Pada Sabtu (6/9/2014) pagi, mereka rapi dan unik dengan balutan kebaya dan kain khas Jogja. Mereka berkumpul di pelataran Pendopo Sor Sawo, Joyonegaran, Mergangsan. Suasana semakin ramai dengan pengunjung dan warga sekitar pendopo, ketika waktu mulai hampir menunjukkan pukul 09.30 WIB.

Pembawa acara menyatakan upacara telah dimulai. Gisella dibimbing orang tua, menginjak jadah yang berjumlah tujuh buah, yang masing-masing memiliki warna berbeda. Gisella masih tenang dalam pegangan ayahnya, ketika menginjak ketujuh jadah warna-warni tersebut.

Ketujuh warna yang diinjak Giselle, memiliki maknanya masing-masing. Dalam upacara tedhak siten, jadah dihadirkan sebagai lambang doa, agar seorang anak memiliki sikap dan sikap, seperti apa yang dimaksud pada makna warna jadah.

Secara berurutan, berikut makna masing-masing warna jadah. Jadah berwarna putih mewakili doa agar anak menjadi orang yang selalu menyimpan niat suci dalam diri, jadah merah bermakna agar anak berani membela kebenaran.

“Tapi juga agar anak berani karena ia benar. Warna hijau melambangkan kebijaksanaan dan kesuburan, semoga cita-cita anak kelak tercapai,” ujar Tati Sutadi, pelaku budaya yang bertindak sebagai pembawa acara.

Warna kuning, lanjut Tati, mewakili ketaqwaan dan kewaspadaan. Biru sebagai perlambang kesetiaan, ungu berarti kharisma. Jadah urutan terakhir berwarna coklat, melambangkan doa, agar anak mencintai dan setia, serta memperjuangkan nusa dan bangsa, dalam hidup bermasyarakat.

Usai menginjak jadah, tangis si cantik Giselle pecah. Pengunjung yang hadir dalam upacara semakin antusias merekam momen-momen tersebut lewat gadget mereka. Tak hanya Giselle yang melewati tahap-tahap tadi. Melainkan Alaric, juga mengikuti tahap urutan upacara, sama seperti yang dilalui Giselle.

Suara tangis Alaric, bahkan tambah keras ketika ia dibantu ayah dan bundanya menaikki tujuh anak tangga yang terbuat dari batang tebu.

“Ketujuh anak tangga tadi, mewakili jumlah hari dalam kalender, yang dilalui oleh mereka. Senin hingga Minggu, sudah mengikuti perputaran zaman, karena pada awalnya, anak tangga seharusnya hanya lima, mengikuti hari dalam kalender hitungan Jawa,” tutur Tati lagi.

Tebu yang menjadi bahan anak tangga, imbuh Tati, dimaksudkan agar seorang anak, bisa merasakan manisnya kehidupan. Upacara tedhak siten, sesungguhnya pelaksanaannya tak menjadi sebuah kewajiban. Hanya saja memang, pada awalnya, bagi orang-orang dengan status sosial tinggi, merasa tidak mantap, apabila tidak melaksanakan upacara tedhak siten bagi putra-putri mereka.

Tahap upacara selanjutnya, yang paling ditunggu-tunggu. Giselle dan Alaric, didampingi ibunda masing-masing, masuk ke dalam kurungan ayam yang berukuruan besar. Di dalamnya telah ada segala bentuk mainan dan benda-benda yang bisa mereka pilih. Nantinya, ada harapan yang akan tersirat dari benda yang mereka pilih.

Suasana semakin riuh, ketika Giselle, meraih selembar uang kertas nominal Rp100.000. Kemudian, ia mengambil lagi uang kertas Rp50.000, Rp20.000, dan Rp5.000.

“Saya berharap, semoga Giselle menjadi anak yang bisa menata keuangan. Memiliki teknik pegelolaan uang yang baik, dan tidak boros,” ungkap Yessica Devi Septani, ibunda Giselle.

Adapun Alaric, sedikit rewel di dalam kurungan. Hal itu membuat Nanik Mustika Dewi, ibunda Alaric harus sedikit berupaya agar ia mau memilih salah satu atau lebih mainan, dari kumpulan benda-benda di hadapannya.

Selama beberapa menit, Alaric hanya menangis sambil menatap pengunjung, dan wartawan yang berada di luar kurungan, yang tak henti-hentinya menyorot dirinya. Tak lama kemudian, ia meraih stetoskop biru dan beberapa lembar uang kertas.

“Harapannya agar Alaric, bisa menjadi orang yang pintar mencari uang. Namun, bukan sekedar mencari uang, melainkan bisa menyejahterakan sesamanya dan keluarga,” ucap Henry Kuncoroyekti, ayahanda Alaric.

Meski mungkin kelak Alaric tak menjadi seorang dokter, bisa dimungkinkan, Alaric menjadi orang yang memiliki perhatian pada kesehatan masyarakat.

Kurungan yang ‘mengurung’ Alaric dan Giselle saat memilih ubarampe tadi, juga lekat dengan filosofi. Bahwa dalam kehidupan, mereka akan selalu hidup dalam aturan yang berlaku. Tahapan-tahapan berikutnya, diikuti kedua anak dengan berurutan hingga selesai.

Salah satunya, Sebar udhik-udhik adalah mengajarkan kepada sang anak agar mau berbagi rejeki yang dimilikinya dan membantu sesama yang kesulitan. Juga siraman dengan banyu gege yang dicampur kembang setaman adalah agar sang anak bisa mengharumkan nama bangsa dan negaranya.

Tedhak siten ini diikuti oleh anak berusia tujuh 'lapan’, yang dihitung bukan berdasarkan kalender bulanan masehi, melainkan selapanan. Hitungan lebih mudahnya, anak tersebut telah berusia minimal delapan bulan.

Trisminingsih, Kepala Seksi Pembinaan Pelestarian Nilai-nilai Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja, mengatakan, pelaksanaan upacara tedhak siten ini merupakan bentuk pelestarian, dan pembinaan budaya.

“Tedhak siten masih ada di masyarakat, tapi selama ini banyak juga yang belum pernah melihat langsung upacaranya, bahkan memahami makna dan filosofinya,” ucap Ismi, panggilan akrab Trisminingsih, usai upacara.

Acara yang terselenggara atas kerjasama antara Paguyuban Kesenian Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja ini, lanjut Ismi, juga mengundang guru-guru bahasa dan budaya Jawa, dengan harapan agar mereka bisa menyebarluaskan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online