Gunungkidul Belum Tetapkan Siaga Kekeringan, Ini Alasannya
BPBD Gunungkidul belum menetapkan siaga darurat kekeringan meski musim kemarau 2026 sudah dimulai sejak akhir April.
Ilustrasi lowongan kerja (JIBI/Solopos/Dok)
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Pegawai PDAM Tirta Handayani, Triyanto merasa kecewa dengan proses rekuitmen pegawai baru instansi tersebut. Sebab proses rekuitmen tidak dibuka secara transparan, sedangkan instansi tersebut memiliki empat pegawai lepas yang seharusnya diprioritaskan.
Seorang pegawai lepas PDAM Triyanto mengatakan, di unit Wonosari terdapat empat pegawai lepas dan semuanya memiliki masalah yang sama. Mereka meminta kejelasan berkaitan dengan rekrutmen honorer.
“Kami sudah memendam masalah ini sejak lama. Kami juga sudah berkoordinasi dengan atasan, namun hasilnya tidak memuaskan. Untuk itu, kami sepakat untuk mengadu ke SPSI,” ungkap dia saat ditermui di ruang tunggu Terminal Dhaksinarga, kemarin.
Menurut dia, PDAM harus lebih transparan dalam rekrutmen honorer. Pasalnya, selama ini perekrutan cenderung tertutup dan tanpa ada kejelasan informasi.
“Tahu-tahu langsung menerima pegawai baru. Jujur, saya dan teman-teman ingin bisa menjadi tenaga honorer. Tapi, itu tidak bisa kesampaian karena informasi tak pernah disebutkan,” keluh pria yang bekerja sebagai pencatat meteran di PDAM sejak 2009 lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul belum menetapkan siaga darurat kekeringan meski musim kemarau 2026 sudah dimulai sejak akhir April.
Pemda DIY siapkan satgas khusus atasi kejahatan jalanan. Libatkan polisi, TNI, BIN hingga BNN.
Kebakaran berulang terjadi di rumah pemotongan ayam di wilayah Mriyan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, dalam dua hari terakhir.
Persis Solo terdegradasi ke Liga 2. Dirut Ginda Ferachtriawan minta maaf dan siapkan restrukturisasi besar demi kebangkitan tim.
76 Indonesian Downhill 2026 di Bantul berlangsung ekstrem. Andy juara tipis, kelas junior justru catat waktu tercepat.
Warga Boyolali menemukan batu diduga stupa dan prasada. Diduga peninggalan Mataram Kuno abad 8-9, kini diteliti Disdikbud.