Siswa SD Ini Pakai Seragam Batik Buatan Sendiri

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Kamis, 09 Oktober 2014 23:20 WIB
Siswa SD Ini Pakai Seragam Batik Buatan Sendiri

Membatik tidak hanya digeluti orang dewasa. Anak-anak Sekolah Dasar II Sanden Bantul juga bisa membatik kain, untuk seragam sekolah mereka. Berikut kisah yang dihimpun wartawan Harianjogja.com, Bhekti Suryani.

Di sudut sekolah di selatan Bantul, Rabu (8/10/2014), sejumlah anak sekolah dasar sibuk membatik. Anak laki-laki yang duduk di lantai, tampak terampil menggambar sebuah pola di atas kain putih. “Ini gambar burung,” tutur Muhamad Husein, anak kelas VI SD II Sanden, yang bertugas membuat pola di atas kain.

Burung dengan sayap terkembang itu merupakan ide murni Muhamad Husein yang gemar menggambar binatang.

Anak-anak perempuan lainnya bertugas menebalkan garis-garis pada gambar yang telah diciptakan Muhamad Husein. Lalu sejumlah anak lainnya yang duduk di dingklik mulai membatik dengan membubuhkan malam ke kain sesuai pola gambar.

Setelah dibatik, kain direndam di dalam air, diangkat dan diangin-anginkan untuk kembali direndam ke dalam cairan pewarna kain. Selanjutnya direbus di air mendidih, diangin-anginkan lagi sampai kering dan menjadi sehelai kain batik yang siap dijahit menjadi pakaian atau taplak meja.

“Biasanya dua atau tiga hari batik tulisnya sudah jadi,” ungkap Vina Nur Aisyah, 11, saat disambangi di SD II Sanden, kemarin.

Vina dan teman-temannya sudah biasa membatik sejak duduk di kelas IV SD. Kini dia sudah duduk di kelas VI. Awalnya mereka hanya ditugasi membatik di atas kain yang telah dijahit menjadi baju.

“Kainnya sudah jadi baju tinggal digambar dan dibatik,” paparnya.

Baju warna ungu gelap hasil karya tangan mungil anak-anak SD II Sanden itu kini mereka pakai sebagai salah satu seragam sekolah.

Di SD II Sanden, sedikitnya ada 90 anak didik yang sudah pandai membatik. Inisiatif membatik itu muncul 2011 lalu.

“Biasanya kan kalau anak-anak di sekolah itu tahunya membeli pakaian batik yang sudah jadi. Kenapa tidak buat sendiri, anak-anak pasti bisa. Jadi enggak cuma mengamati tapi juga praktik membuat batik,” kata Kepala SD II Sanden, Saryana. Bantul.

Membatik tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga melatih keterampilan dan kesabaran anak didiknya. Sejak 2011, anak-anak kelas IV sampai kelas VI mulai diajak praktik membatik.

“Membatik itu harus sabar, itu biasa dilakukan orangtua zaman dahulu. Jadi tidak cuma melestarikan budaya,” ujar Saryana.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Bantul Sulistyanta mengaku mengajari anak-anak membatik tidak hanya investasi budaya namun juga ekonomi. Batik kini menjadi salah satu komoditas yang paling laris diekspor ke luar negeri.

Bantul kata butuh regenerasi pembatik. Saat ini ada 2.500 perajin batik di Bantul yang kebanyakan telah lanjut usia. “Itu kenapa pendidikan batik ini harus sejak dini. Membatik akan menjadi salah satu muatan lokal di sekolah-sekolah,” paparnya.

Apa yang telah dilakukan di SD II Sanden diharapkan akan menular ke sekolah lain di Bantul. Anak-anak tidak melulu diajarkan untuk membeli pakaian batik tetapi membuat sendiri pakaian mereka, sesuai kreativitas masing-masing.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis