28 UMKM Kuliner Jogja Ikuti Kurasi, Bidik Pasar Ritel dan Hotel
Sebanyak 28 UMKM kuliner binaan Pemkot Jogja mengikuti kurasi produk untuk meningkatkan kualitas dan membuka akses pasar lebih luas.
Suasana ramai di Pasar Beringharjo, Selasa (25/4/2023). Anisatul Umah/Harian Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta untuk menerapkan kawasan Malioboro sebagai area full pedestrian pada akhir 2026 menuai kekhawatiran dari para pedagang Pasar Beringharjo. Mereka menilai pembatasan akses kendaraan berpotensi menurunkan jumlah pengunjung dan berdampak langsung pada omzet penjualan.
Perwakilan pedagang Pasar Beringharjo, Bintoro, mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut dapat menyulitkan wisatawan, khususnya yang datang menggunakan kendaraan pribadi. Dengan sistem pedestrian penuh, pengunjung harus memutar dan mencari lokasi parkir yang jaraknya relatif jauh dari pusat aktivitas.
“Kalau harus memutar dan parkirnya jauh, belum tentu wisatawan sampai ke Beringharjo. Ini yang kami khawatirkan bisa memengaruhi penjualan,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, meskipun Kota Yogyakarta telah memiliki sejumlah kantong parkir yang cukup luas, seperti di kawasan Abu Bakar Ali atau sekitar barat Hotel Melia Purosani, keberadaan fasilitas tersebut belum sepenuhnya diketahui oleh wisatawan.
Kurangnya informasi ini dinilai menjadi salah satu kendala utama. Banyak pengunjung yang akhirnya kesulitan menemukan tempat parkir yang strategis dan memilih tidak melanjutkan perjalanan ke kawasan Malioboro maupun Beringharjo.
“Tempat parkir sebenarnya tersedia, tetapi belum banyak yang tahu. Sosialisasi dari pemerintah masih perlu ditingkatkan agar wisatawan lebih mudah mengakses informasi,” kata Bintoro.
Para pedagang pun berharap Pemkot Jogja tidak terburu-buru menerapkan kebijakan full pedestrian secara permanen. Mereka mengusulkan agar kebijakan tersebut dilakukan secara bertahap, diawali dengan uji coba yang lebih panjang dan evaluasi menyeluruh.
Kekhawatiran utama pedagang adalah potensi pergeseran perilaku wisatawan. Jika akses menuju Malioboro dinilai semakin sulit, bukan tidak mungkin pengunjung akan beralih ke pusat perbelanjaan lain yang lebih mudah dijangkau.
Padahal, kawasan Malioboro dan Pasar Beringharjo selama ini dikenal sebagai jantung ekonomi sekaligus ikon wisata Kota Yogyakarta yang menjadi tujuan utama wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Harapan kami tetap dilakukan uji coba terlebih dahulu. Kalau langsung diterapkan penuh, kami khawatir wisatawan justru memilih belanja di tempat lain,” tambahnya.
Rencana penataan Malioboro menjadi kawasan pedestrian memang bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan dan kualitas ruang publik. Namun, para pedagang berharap kebijakan tersebut tetap mempertimbangkan aspek aksesibilitas dan keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal.
Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan penataan kawasan Malioboro tidak hanya memperindah wajah kota, tetapi juga tetap menjaga denyut ekonomi para pelaku usaha di sekitarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 28 UMKM kuliner binaan Pemkot Jogja mengikuti kurasi produk untuk meningkatkan kualitas dan membuka akses pasar lebih luas.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya Selasa 25 Agustus 2026 berdasarkan data resmi KAI Access.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo 25 Agustus 2026 dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 25 Agustus 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
BPS DIY menjelaskan penyebab perubahan desil DTSEN, mekanisme pemeringkatan, serta cara warga mengajukan pemutakhiran data.
Okupansi hotel DIY naik 5%-15% selama libur Maulid Nabi 2026. Asita juga mencatat permintaan perjalanan wisata naik sekitar 5%.