Petani Bantul Bangun Bendung Sementara di Kali Progo

Redaksi Solopos
Redaksi Solopos Kamis, 09 Oktober 2014 21:20 WIB
Petani Bantul Bangun Bendung Sementara di Kali Progo

Pegawai PDAM Giri Tirta Sari, Wonogiri, bergotong-royong membendung Sungai Bengawan Solo agar air mengalir ke bak penampungan untuk diolah menjadi air bersih. Foto diambil Kamis (9/10/2014). (Trianto Hery Suryono/JIBI/Solopos)

Harianjogja.com, BANTUL- Petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air Pijenan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membangun bendungan sementara di sekitar Intake Kamijoro untuk membendung laju aliran sungai Progo yang terdapat di bendungan tersebut.

"Bendungan sementara ini dibuat untuk menaikkan permukaan air sungai Progo sehingga air dapat masuk ke intake dan dapat mengairi saluran irigasi untuk lahan pertanian," Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Pijenan, Bantul, Sutardi di sela pembuatan bendungan sementara di daerah itu, Rabu (8/10/2014).

Menurut dia, pembuatan bendungan sementara di intake yang terdapat di wilayah Sendangsari Pajangan ini dilakukan untuk mempersiapkan suplai air atau irigasi pada musim tanam pertama yang diperkirakan mulai akhir Oktober nanti, sehingga petani bisa melakukan persemaian padi.

Ia mengatakan, gotong royong pembuatan bendungan sementara ini dikerjakan oleh sekitar seratusan petani yang ada di sebelas desa di empat kecamatan Bantul, karena lahan pertanian yang ada di sebelas desa tersebut menggantungkan irigasi dari DAM Kamijoro.

Adapun sebelas desa tersebut, yakni Desa Trimurti dan Poncosari (Srandakan), Caturharjo (Pandak), kemudian Murtigading, Gadingsari, Gadingharjo, Srigading (Kecamatan Sanden), serta Tirtomulyo, Donotirto, Tirtohargo dan Tirtosari (Kretek).

"Kami kerahkan petani dari sebelas desa, masing-masing desa sepuluh orang, sehingga kira-kira ada sekitar 110 petani yang ikut. Kegiatan ini sudah dilakukan sudah sejak tiga hari lalu atau mulai Senin [6/10/2014], kami perkirakan pada 15 Oktober selesai," katanya.

Ia mengatakan, bendungan sementara dibuat dengan tumpukan batu pondasi warna putih yang diikat kawat besi semacam bronjong melintang hingga kanan kiri tepi sungai sepanjang sekitar 60 meter dengan lebar sekitar satu sampai dua meter.

"Pembuatan bendungan sementara menyesuaikan dengan kedalaman sungai yang pada saat ini sekitar dua sampai 3,7 meter, kegiatan ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp100 juta dari swadaya masyarakat 11 desa dan bantuan dari instansi terkait," katanya.

Menurut dia, pembuatan bendungan sementara ini rutin dikerjakan setiap tahun menjelang musim tanam pertama, dan tidak akan dilepas meskipun memasuki musim hujan, karena ketika aliran sungai Progo besar, maka akan hanyut terbawa arus sungai.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis