Warga Jogja Ditantang Berani Gundul
Jajaran Pemerintah Kecamatan Kalasan dan Depok, serta Pemdes Maguwoharjo meninjau tempat pembuangan sampah liar di Dusun Sambilegi Lor, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Selasa (14/10/2014). (JIBI/Harian Jogja/Rima Sekarani I.N)
Harianjogja.com, SLEMAN—Aktivitas pembakaran sampah di Dusun Sambilegi, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, dihentikan mulai Selasa (14/10/2014) siang. Kepala Desa Maguwoharjo, Imindi, juga mengimbau warganya tidak membuang sampah di tempat pembuangan sampah liar tersebut.
“Setelah ini apinya akan langsung dimatikan. Sampah-sampah yang dibakar akan disemprot dengan air dari sungai agar bisa benar-benar mati,” kata Imindi saat meninjau lokasi pembuangan sampah liar di Sambilegi bersama Camat Depok, Budiharjo, dan Kepala Dusun Sambilegi Lor, Supalar, Selasa pagi.
Camat Kalasan, Samsul Bakri, dan Kepala Dusun Sorogenen II, Hartono, juga tampak hadir di lokasi. Kedua pihak kemudian sepakat bekerja sama mengatasi masalah sampah yang sudah mencemari lingkungan sekitar. Kerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (PU) akan dilanjutkan untuk mengangkut sampah di sini.
“Warga juga jangan buang sampah di sini lagi. Besok kalau ada orang luar yang buang di sini, akan kami tangkap,” tegas Imindi kemudian.
Kepala Dusun Sorogenen II, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Hartono, mengaku selama ini warganya terganggu dengan asap pembakaran dan bau sampah dari tempat pembuangan sampah liar di Sorogenen Lor. Dia menyambut baik koordinasi yang akhirnya terjalin antara Dusun Sorogenen II dan Dusun Sambilegi Lor. Hartono pun bersedia mengerahkan tenaga dan alat dari pihaknya untuk mematikan api yang membakar tumpukan sampah.
“Karena kami juga butuh agar pembakaran segera berhenti, jadi tidak keberatan kalau dari kami yang menyemprotkan air. Namanya juga kerja sama,” papar Hartono.
Sementara itu, Kepala Dusun Sambilegi Lor, Supalar mengungkapkan, warganya memang biasa membuang sampah di tanah kas desa Maguwoharjo tersebut. Namun, dia memastikan pembakaran bukan dilakukan warganya, melainkan pemulung.
Supalar menambahkan lokasi yang berada di tepi Kali Kuning tersebut memang merupakan tempat pembuangan sementara (TPS) sejak lima tahun silam. Akibat pengelolaan manajemen yang kurang baik, pengangkutan sampah dari TPS Sambilegi Lor ke TPA Piyungan lalu dihentikan sejak dua tahun lalu.
“Meski statusnya sudah liar, warga tetap membuang di sini. Saya akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyelesaikan masalah ini,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Makna Idul Adha 2026 ditegaskan PBNU: kurban bukan sekadar ritual, tapi wujud ketaatan, kepedulian sosial, dan kesiapan menerima kritik.
Skuad Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026 resmi diumumkan, dipimpin Christian Pulisic dan Mauricio Pochettino.
Bupati Bantul tegaskan pembubaran ibadah GMS melanggar konstitusi, polisi pastikan tidak ada ruang intoleransi.
Peluang kerja PMI di Kuwait makin terbuka 2026, pemerintah dorong perlindungan dan perluasan sektor kerja.
Pertamina tambah 1,5 juta tabung LPG 3 kg di Jateng dan DIY jelang Iduladha 2026, stok dipastikan aman.