Elpiji Bersubsidi Rawan Disalahgunakan, Bantul Razia Restoran

Redaksi Solopos
Redaksi Solopos Selasa, 21 Oktober 2014 21:40 WIB
Elpiji Bersubsidi Rawan Disalahgunakan, Bantul Razia Restoran

Bisnis/Rachman PERKETAT PENYALURAN Pekerja menata tabung gas elpiji 3 kg di pangkalan elpiji Jalan Ahmad Yani Bandung, Jawa Barat, Jumat (3/1). Khawatir terjadi peralihan konsumen elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg akibat kenaikan elpiji 12 kg, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memperketat pengawasan perdagangan dan penyaluran elpiji 3 kg.

Harianjogja.com, BANTUL- Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengintensifkan razia penggunaan elpiji bersubsidi ke sejumlah restoran di wilayah setempat untuk mencegah penyimpangan.

"Terakhir kami mendatangi 10 restoran di sejumlah kecamatan, namun tidak ditemukan yang menggunakan elpiji tiga kilogram, karena semuanya memakai elpiji ukuran 12 kilogram," kata Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul, Sulistyanto, Senin (20/10/2014).

Menurut dia, sejumlah restoran yang didatangi tersebut kemungkinan pemiliknya sudah menyadari bahwa elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram hanya boleh digunakan konsumen dari kalangan rumah tangga dan usaha mikro dengan modal di bawah Rp50 juta.

Ia mengatakan meski pekan lalu razia yang digelar bersama aparat gabungan dengan melibatkan pihak-pihak terkait tidak mendapati adanya pelanggaran, namun ke depan pantauan tetap akan dilakukan secara rutin dengan menyasar wilayah berbeda.

"Karena penggunaan elpiji bersubsidi memang harus terus diawasi, apalagi dalam peraturan sudah ditegaskan peruntukannya untuk siapa," kata Sulistyanto.

Menurut dia, pengawasan penggunaan elpiji secara intensif dilakukan juga menyusul kenaikan harga elpiji nonsubsidi 12 kilogram yang menimbulkan migrasi atau perpindahan konsumen dari ukuran 12 kilogram ke konsumen elpiji tiga kilogram.

"Peningkatan permintaan elpiji tiga kilogram tidak sampai satu persen, akan tetapi tetap saja, hal ini dibuktikan dengan stok elpiji bersubsidi di pangkalan yang biasanya cukup untuk tiga hari, sudah habis dalam waktu dua hari," katanya.

Ia juga mengatakan untuk memenuhi kebutuhan elpiji tiga kilogram pihaknya akan mengajukan tambahan kuota elpiji bersubsidi ke Pertamina pada 2015, atau lebih banyak dari kuota harian tahun 2014 sekitar 22.500 tabung.

"Tambahan kuota diajukan untuk memenuhi kebutuhan elpiji karena adanya pertumbuhan usaha mikro yang sekitar 10 persen per tahun, kemudian ada migrasi, kami ajukan sekitar Desember nanti, namun berapa pastinya masih dihitung," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis