Jogja Kota Batik, Tapi Perajin Kesulitan Akses Perbankan

Selasa, 04 November 2014 23:20 WIB
Jogja Kota Batik, Tapi Perajin Kesulitan Akses Perbankan

KERAJINAN BATIK PRODO Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan batik prodo di Desa Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, Jumat (28/2). Kerajinan batik prodo yang merupakan salah satu dari cabang jenis kesenian batik yang dikhususkan untuk memperindah kain batik dengan warna emas tersebut dijual seharga Rp 100.000,00 hingga Rp 1.500.000,00 tergantung ukuran dan jenis kain, dan dipasarkan ke sejumlah kota besar di Indonesia. ANTARA FOTO/Noveradika

Harianjogja.com, JOGJA - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Jogja menilai masih ada pekerjaan rumah setelah penetapan Kota Jogja, umumnya Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai Kota Batik Dunia oleh Dewan Kerajian Dunia atau World Craft Council (WCC).

Ketua Dekranasda Kota Jogja Tri Kirana Hariyadi mengakui masih ada kelemahan yang perlu diperbaiki dari perajin batik di Jogja. Kelemahan itu, ujarnya, tidak terkait dengan kreativitas melainkan dari sisi aksesibilitas terhadap pembiayaan, manajemen keuangan, dan pemasaran.

Dari sisi kreativitas, ujarnya, perajin batik Jogja dapat dibilang unggul. Menurut dia para perajin batik Jogja tergolong kreatif dalam menghasilkan desain, kreasi motif, maupun aplikasi batik dalam berbagai jenis material.

"Saya sering mengajak bank bertemu dengan para perajin, tapi tidak semua perajin mampu meng-arange pembiayaan bank. Ada saja kesulitan yang tidak mampu diatasi oleh perajin. Misalnya bunganya lah atau agunannya. Ada saja," ujarnya, baru-baru ini.

Program Dekranasda, ujarnya, adalah memberikan pelatihan, pendampingan, dan pembinaan kepada para perajin, termasuk perajin batik, untuk mengembangkan usaha dan skala usaha.

Salah satu jenis pendampingan yang dilakukan adalah pelatihan manajemen keuangan. Di sisi lain pelatihan pengolahan limbah, pelatihan produksi yang bersih, pelatihan marketing, pelatihan SDM, dan manajemen usaha juga.

Salah satu misi utama Dekranasda, ujarnya, menciptakan pembatik-pembatik baru setiap tahun. Pihaknya membina mereka yang tidak bisa agar bisa membatik dan memulai usaha. Kemudian, membina pembatik kelas usaha mikro menjadi kelas kecil, dari kelas kecil menjadi kelas menengah, dari kelas menengah menjadi besar.

"Dana keistimewaan untuk DIY kan jumlahnya besar sekali. Jadi tugas kami adalah menciptakan perajin-perajin yang layak jual baik secara produk, gambar, kualitas, dan kuantitas. Dalam setahun kami lakukan sekitar tiga hingga empat kali pelatihan untuk menciptakan pembatik baru. Kalau pembinaan dan pembinaan untuk pembatik eksisting lebih sering lagi."

Dia memaparkan dari sekitar 200 anggota Dekranasda Kota Jogja, sebanyak 65% adalah pembatik. Hanya, tidak semua perajin batik adalah pengusaha besar.

Justru, lanjutnya, sebagian besar perajin batik berada di segmen mikro, kecil, dan menengah. Usia perajin pun terentang jauh mulai dari belasan hingga berusia 90 tahun.

Anna menilai penetapan Jogja sebagai Kota Batik oleh WCC merupakan pengukuhan ulang atas pengakuan UNESCO pada 2009 lalu. Menurut dia, pengukuhan tersebut merupakan promosi tersendiri bagi batik Jogja.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online