PLN Siapkan PPA 30 Tahun untuk Serap Listrik Proyek PSEL
PLN menyiapkan kontrak jual beli listrik hingga 30 tahun untuk proyek PSEL guna menarik investasi dan mempercepat transisi energi.
Harian Jogja/Gigih M. Hanafi Sejumlah warga mencari pernak-pernik untuk menyambut Tahun baru Imlek 2565 di salah satu toko di Jl. Pajeksan, Jogja, selasa (28/1). Beragam pernak pernik serta makanan khas Imlek seperti dodol, kue keranjang, kue kering, dan lainnya mulai diburu warga keturunan Tionghoa untuk menyambut Imlek 2565.
Harianjogja.com, JOGJA-Mengapa orang Tionghoa tidak suka disebut Cina? Hal ini dikupas habis lewat radio milik publik RRI pro 1 Minggu (16/11/2014) pukul 12.00-13.00 WIB. Penyebutan China yang terlanjur mendiskriminasi orang Tionghoa ini telah dicabut lewat Keppres No12/2014.
Arif Budiwijaya, Dewan Penasehat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) ditemani Jimmy Sutanto dari perhimpunan FUQING mengupas tema tersebut.
“Masih banyak yang belum tahu jika istilah China sudah dicabut,” ujar Arif pada Harianjogja.com, Jumat(14/11/2014).
Perjuangan PSMTI untuk memperjuangkan pencabutan istilah Cina itu berlangsung ketika Melani Leimena Suharli menjadi Wakil Ketua MPR. Dan sewaktu Sidarto, Ketua MPR yang mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI periode 2014-2019 di Jogja, perihal permintaan pencabutan itu dipertanyakan oleh Arif.
Kala itu kampanye tersebut berlangsung dengan menghadirkan anggota Rotary Club. Saat Arif menanyakan itu, Sidarta tak mengetahui memo dari Leimena tentang perjuangan PSMTI untuk mencabut istilah Cina tersebut. Sidarta meminta Arif mempertunjukan surat resmi permintaan itu.
“Tapi sayang, saya enggak siap apa- apa. Saya sendiri agak kecewa,” katanya.
Namun sekitar sebulan kemudian, pertemuan dengan Sidarta lebi komplit. Banyak perwakilan tokoh Tionghoa yang diundang. Arif hanya menunjukan surat kabar Haluan Riau yang memuat desakan agar MPR bahas Cina jadi Tionghoa.
Malahan, Arif dalam pertemuan itu diminta untuk membuat surat resminya. Konsepnya kemudian ia buat. Dan oleh oleh PSMTI pusat
kemudian dikirimkan kepada presiden.
Surat itu akhirnya berbuah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala tersebut mengeluarkan Keppres 12/2014 tentang pencabutan Surat Edaran Presidium Kab Ampera No SE-06/Preskab/6/1967 tentang penggantian kata Tionghoa/Tiongkok menjadi Cina yang diterbitkan masa kepemimpinan Soeharto pada 28 Juni 1967.
Herannya, surat itu diantarkan langsung oleh sekretaris kabinet ke PSMTI.
“Ini menunjukan PSMTI diperhatikan betul oleh SBY,” ujarnya.
Bukan kepalang senangnya warga Tionghoa menerima itu. Bak kembali mengulang kegembiraan yang diterima ketika Presiden Abdurahman Wahid atau Gusdur membolehkan keturunan Tionghoa mengekpresikan adat istiadat di tanah air ini.
Bagi warga Tionghoa seumuran Arif penyebutan Cina itu menimbulkan traumatik yang berlebih. Memanggil Cina politisnya adalah merendahkan orang Tionghoa.
“Dasar orang Cina,” Arif mengingat cemoohan yang kerap membuatnya jengkel sekaligus trauma itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PLN menyiapkan kontrak jual beli listrik hingga 30 tahun untuk proyek PSEL guna menarik investasi dan mempercepat transisi energi.
Neraca dagang Indonesia defisit US$450 juta pada Juni 2026. BPS mencatat impor melampaui ekspor, terutama akibat defisit komoditas migas.
TNI AL mengerahkan dua KRI dan satu pesawat untuk mengevakuasi korban kebakaran KM Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep.
Lansia asal Gunungkidul meninggal dunia setelah tertemper KA Bengawan di jalur rel timur Fly Over Janti, Sleman, Minggu sore.
Pelajar asal Tangerang Selatan terluka setelah diduga ditembak airsoft gun di Jalan Laksda Adisucipto, Sleman. Polisi masih memburu pelaku.
Bank Dunia menyarankan Indonesia menghapus tax holiday dan menggantinya dengan insentif yang lebih efektif untuk mendorong investasi.