PERPUSTAKAAN KARTA PUSTAKA TUTUP : Aset Dilego Habis, Termasuk Koleksi Buku Tua

Arief Junianto
Arief Junianto Jum'at, 05 Desember 2014 12:40 WIB
PERPUSTAKAAN KARTA PUSTAKA TUTUP : Aset Dilego Habis, Termasuk Koleksi Buku Tua

Seorang pengunjung tengah sibuk memilih beberapa judul buku dari ribuan tumpuan buku yang diobral di Perpustakaan Karta Pustaka, Kamis (4/12/2014). (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto)

Harianjogja.com, JOGJA-Tonggak penting perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Indonesia khususnya di Yogyakarta, kini sudah tinggal cerita. Karta Pustaka, sebuah perpustakaan tua yang berdiri sejak 1967 kini hanya menyisakan kenangan. Seperti apakah aktivitas di perpustakaan itu jelang penutupannya?

Perpustakaan yang memiliki koleksi lebih dari 9.000 eksemplar buku multi-disiplin, mulai dari ilmu alam, kedokteran, sastra, budaya, seni, hingga sosial-politik itu harus menutup lembar ceritanya, tepat ketika kebudayaan Indonesia kini tengah mengalami perkembangan pesat. Alhasil, sekitar 10 karyawan yang setia mengabdi lebih dari 10 tahun lamanya, pun harus bersiap mencari pekerjaan baru.

Saat disambangi Harianjogja.com, Kamis (4/12/2014) siang lalu, bangunan berarsitektur kolonial yang terletak di Jl.Suryodiningratan 37 B itu tampak riuh. Bukan dalam rangka kunjungan kepustakaan, bukan pula tengah membaca buku di rak-rak besar, puluhan pengunjung yang memadati bangunan itu tengah antre di hadapan seorang petugas yang bertindak sebagai kasir. Tumpukan buku tebal berbahasa Belanda yang mereka tenteng menjadi barang belanjaan yang menggiurkan siang itu.

Sejak sepekan lalu, Yayasan Karta Pustaka memang tak punya pilihan selain melego habis seluruh asetnya. Guna menyelesaikan
kewajibannya terhadap penyelesaian pembayaran gaji karyawan dan beberapa keperluan lainnya, mereka terpaksa harus melego ribuan buku-
buku tua yang sudah menjadi koleksi Karta Pustaka selama puluhan tahun itu.

Buku-buku berbahasa Belanda yang kini telah nyaris punah itu pun harus dijual dengan harga yang luar biasa murah. Buku-buku lama terbitan
era 1940-1980-an dijual dari harga Rp8.000 hingga tertinggi mencapai tak lebih dari Rp150.000.

"Bahkan ini ada buku sejarah terbitan 1930-an, berjudul Het Ieven (Kehidupan di Masa Krisis) dijual dengan harga Rp40.000 saja," ungkap Wijonarko, salah satu karyawan Karta Pustaka, Kamis (4/12/2014).

Dengan nada suara memelan, pria asal Sleman yang sudah 24 tahun mengabdi bersama Karya Pustaka itu menuturkan bahwa pihak yayasan
memberikan tenggat waktu hingga 6 Desember mendatang untuk segera membersihkan bangunan dari tumpukan ribuan buku tua itu. Pasalnya, tak hanya buku, aset yayasan yang mulanya didirikan oleh E. Th. Simadibrata-Piontek, Pater Theodore Geldorp (Dick Hartoko, SJ.), Drs. Soepojo Padmodiputro, MA., dan Pater H. M. L. Loeff, SJ itu juga terdiri dari ratusan perangkat kantor. Mulai dari meja, kursi, hingga aksesori juga harus terjual bersih sebelum libur Natal dan akhir tahun ini.

"Karena yayasan memberikan batas akhir sampai sebelum libur akhir tahun, kewajiban terhadap karyawan sudah harus diselesaikan," ucapnya tanpa bersedia menyebut nominal kewajiban yayasan yang harus diselesaikan tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis