Siswa SR MA Sleman Acungkan Celurit di Prambanan, Ini Respons Sekolah
Sekolah Rakyat MA 20 Sleman memastikan PWA masih berstatus siswa dan membantah kabar kabur maupun putus sekolah usai kasus celurit.
Ilustrasi UMKM - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Kabupaten Sleman. Berdasarkan data Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dinkop-UKM) Sleman per 19 Mei 2026, total omzet UMKM di Bumi Sembada mencapai Rp3,39 triliun.
Nilai tersebut berasal dari 110.936 UMKM yang tersebar di 17 kapanewon di Kabupaten Sleman. Meski jumlah pelaku usaha tersebar di seluruh wilayah, perputaran ekonomi yang dihasilkan belum merata.
Kepala Dinkop-UKM Sleman, Sutiasih, menjelaskan total omzet UMKM yang tercatat dalam pendataan mencapai Rp3.390.765.876.776.
Dari keseluruhan nilai tersebut, lebih dari separuh terkonsentrasi di lima kapanewon, yakni Ngaglik, Sleman, Tempel, Depok, dan Kalasan.
Kapanewon Ngaglik menjadi wilayah dengan omzet UMKM tertinggi di Sleman. Total omzet yang dihasilkan pelaku usaha di wilayah tersebut mencapai Rp487,20 miliar.
Posisi berikutnya ditempati Kapanewon Sleman dengan omzet Rp361,86 miliar, disusul Tempel Rp325,64 miliar, Depok Rp280,55 miliar, dan Kalasan Rp275,26 miliar.
Jika digabungkan, kelima kapanewon tersebut menghasilkan omzet sekitar Rp1,73 triliun atau setara 51,04% dari total omzet UMKM di Kabupaten Sleman.
Sebaran UMKM Belum Merata
Menariknya, besaran omzet tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah pelaku usaha yang ada di suatu wilayah.
Kapanewon Depok tercatat sebagai wilayah dengan jumlah UMKM terbanyak, yakni 10.769 unit usaha. Namun, dari sisi omzet, Depok masih berada di bawah Ngaglik yang memiliki 8.388 UMKM.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kapasitas usaha, akses pasar, serta karakteristik ekonomi lokal turut memengaruhi besarnya omzet yang dihasilkan.
Menurut Sutiasih, aktivitas UMKM memang cenderung berkembang lebih cepat di kawasan perkotaan dan wilayah penyangga pusat ekonomi karena memiliki akses pasar yang lebih luas.
“Biasanya di perkotaan yang banyak karena memang peluangnya banyak. Supaya bisa merata, kami selalu memberikan pembinaan,” katanya, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan Dinkop-UKM Sleman terus berupaya mendorong pemerataan pertumbuhan UMKM melalui berbagai program pembinaan dan pendampingan usaha.
Selain memberikan pelatihan kepada pelaku usaha, pemerintah juga menggandeng kelompok-kelompok UMKM di tingkat kalurahan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan lokal.
Langkah tersebut diharapkan mampu memunculkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah yang selama ini masih tertinggal dari sisi omzet usaha.
Beberapa Wilayah Masih Tertinggal
Di sisi lain, sejumlah kapanewon masih mencatatkan omzet UMKM yang relatif rendah dibandingkan wilayah lain.
Kapanewon Minggir menjadi wilayah dengan omzet UMKM terendah, yakni Rp42,10 miliar. Angka tersebut jauh di bawah capaian Ngaglik yang mendekati Rp500 miliar.
Selanjutnya, omzet UMKM di Kapanewon Turi tercatat Rp83,30 miliar, Godean Rp105,02 miliar, Cangkringan Rp104,26 miliar, dan Pakem Rp132,54 miliar.
Jika dibandingkan secara langsung, omzet UMKM di Ngaglik hampir 12 kali lebih besar dibandingkan Minggir meski keduanya sama-sama memiliki ribuan pelaku usaha.
Data tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan kapasitas ekonomi antarwilayah yang menjadi tantangan dalam pengembangan UMKM di Sleman.
Aset UMKM Tembus Rp27 Triliun
Selain mencatat omzet yang mencapai triliunan rupiah, nilai aset UMKM di Kabupaten Sleman juga menunjukkan angka yang sangat besar.
Berdasarkan data Dinkop-UKM Sleman, total aset UMKM mencapai Rp27.098.060.510.802 atau sekitar Rp27,09 triliun.
Sama seperti omzet, Ngaglik kembali menjadi wilayah dengan nilai aset terbesar, yakni mencapai Rp16,30 triliun.
Di posisi berikutnya terdapat Depok dengan aset Rp6,10 triliun dan Kalasan sebesar Rp1,56 triliun.
Secara gabungan, tiga kapanewon tersebut menguasai sekitar Rp23,96 triliun atau setara 88,4% dari total aset UMKM di Kabupaten Sleman.
Sementara itu, aset UMKM terendah tercatat berada di Kapanewon Minggir sebesar Rp12,72 miliar. Setelahnya terdapat Moyudan dengan aset Rp27,06 miliar dan Tempel sebesar Rp31,41 miliar.
Besarnya nilai aset dan omzet yang dimiliki UMKM menunjukkan sektor ini tetap menjadi motor penting perekonomian Sleman. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut dapat menjangkau lebih banyak wilayah sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat di seluruh kapanewon.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sekolah Rakyat MA 20 Sleman memastikan PWA masih berstatus siswa dan membantah kabar kabur maupun putus sekolah usai kasus celurit.
Omzet UMKM di Kabupaten Sleman mencapai Rp3,39 triliun. Lebih dari separuh omzet terkonsentrasi di lima kapanewon, dengan Ngaglik menjadi penyumbang terbesar.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 7 Agustus 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak jam keberangkatan dan tarif terbaru Rp8.000.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 6 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
Polresta Sleman menangkap pelaku pembegalan bersenjata tajam yang merampas motor, ponsel, dan dompet milik pekerja di Pakem. Polisi segera menggelar rilis kasus
Memberi minum kepada korban kecelakaan ternyata bisa berbahaya. Simak penjelasan medis mengenai risiko tersedak, aspirasi, hingga gangguan penanganan darurat.