Tak Hanya Pameran, Alumni Gen Z Batik Preneur Sleman Didorong Tembus Pasar
Sembilan alumni Gen Z Batik Preneur Sleman didorong menguji produk ke pasar dan mengembangkan usaha setelah mengikuti pelatihan.
Ilustrasi perumahan/magnific.com
Harianjogja.com, SLEMAN—Persoalan kepemilikan hunian di Sleman berpotensi semakin berat dalam sepuluh hingga 20 tahun mendatang. Masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah kini mulai banyak yang memilih menumpang di rumah orang tua karena belum mampu membeli rumah maupun tanah sendiri.
Ketua Tim Kerja Perumahan Formal DPUPKP Sleman, Agung Yuntoro, mengatakan kondisi tersebut berpotensi menjadi masalah baru saat anak-anak dari keluarga tersebut tumbuh dewasa dan membentuk keluarga sendiri.
Generasi berikutnya diprediksi menghadapi keterbatasan pilihan tempat tinggal akibat tidak memiliki rumah sendiri maupun tanah warisan. Kondisi ini dikhawatirkan mendorong munculnya permukiman yang tidak tertata hingga kawasan kumuh liar.
“Ke depan sepuluh tahun lagi, 20 tahun lagi ketika anak-anak sudah besar, anak-anak sudah butuh membentuk keluarga baru sedangkan rumah juga tidak punya, tanah warisan juga tidak punya. Itu mereka mau ke mana?” kata Agung ditemui di kantornya, Kamis (17/9/2026).
Edukasi dan Solusi Hunian Vertikal
Agung menilai pengembangan hunian vertikal perlu mulai dipersiapkan sejak dini sebagai alternatif jangka panjang. Persiapan tersebut tidak hanya mencakup pembangunan fisik semata, tetapi juga kesiapan mental masyarakat untuk terbiasa tinggal di hunian vertikal.
Edukasi mengenai konsep hunian vertikal dapat disisipkan dalam penyuluhan keluarga melalui berbagai kegiatan kemasyarakatan, seperti Posyandu dan PKK. Edukasi ini penting agar warga memahami alternatif tempat tinggal ketika kepemilikan rumah tapak makin sulit dijangkau di wilayah Jogja dan sekitarnya.
Kepastian Masa Sewa bagi MBR
Selain masalah keterjangkauan, pemerintah dituntut memberikan kepastian hukum dan jaminan bagi masyarakat yang menempati hunian vertikal berkonsep sewa. Ketidakpastian masa tinggal kerap membuat masyarakat enggan beralih ke hunian vertikal.
Agung mencontohkan penghuni rumah susun yang anak-anaknya sudah bersekolah dan orang tuanya bekerja di sekitar kawasan tersebut. Saat masa sewa berakhir, mereka terpaksa memutar otak mencari tempat tinggal baru meski sudah membangun kehidupan sosial di lokasi itu.
“Kalau kita menawarkan skema hunian vertikal dengan sistem sewa misalnya, itu tetap kita harus memberikan jaminan bahwa memang mereka bisa melangsungkan sewa itu sampai dengan terpenuhinya kebutuhan mereka,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan nyata pada Rusunawa MBR yang memberlakukan batas maksimal masa tinggal selama enam tahun. Penghuni kerap berada dalam dilema saat masa tinggal berakhir, sementara aktivitas ekonomi dan pendidikan anak sudah terikat di sekitar rusun.
Pemerintah dipandang perlu merumuskan konsep hunian vertikal terpadu yang menjamin keterjangkauan sekaligus kepastian masa tinggal. Langkah ini penting agar hunian vertikal di Sleman dapat menjadi alternatif solusi permanen bagi keluarga kurang mampu, bukan sekadar tempat bernaung sementara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sembilan alumni Gen Z Batik Preneur Sleman didorong menguji produk ke pasar dan mengembangkan usaha setelah mengikuti pelatihan.
Juventus mengawali Liga Europa 2026/2027 dengan kemenangan 5-0 atas NEC Nijmegen. Lima pemain berbeda mencetak gol, sementara Milan kalah dari Benfica.
Harga rumah kian mahal, Pemda DIY petakan kebutuhan rusun dan hunian vertikal bergaya tradisional Jawa untuk masyarakat di kawasan Kartamantul.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk 1001 Tanya untuk Wakil Rakyat di Terban, Kemantren Gondokusuman.
Jadwal layanan SIM Station Terminal Dhaksinarga Gunungkidul Jumat 18 September 2026. Lengkap dengan syarat BPJS Kesehatan dan lokasi SIM Keliling.
DPUPKP Sleman memperingatkan ancaman krisis hunian 10-20 tahun mendatang dan mendorong pengembangan hunian vertikal bagi warga berpenghasilan rendah.