DPRD DIY Usul Balai Kampung Jadi Laboratorium Pendidikan Khas Jogja
DPRD DIY mengusulkan balai RW menjadi laboratorium Pendidikan Khas Kejogjaan untuk memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya Jogja.
Ilustrasi, Rusunawa Tegalrejo Kota Jogja/Istimewa-Pemkot Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mulai mengambil langkah strategis dengan memetakan kebutuhan hunian vertikal guna menyediakan tempat tinggal yang layak dan terjangkau bagi masyarakat. Kebijakan ini merespons lonjakan harga rumah yang kian mahal, terutama di wilayah aglomerasi perkotaan kawasan Kartamantul yang meliputi Kota Jogja, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) DIY, Danang Setiadi, mengungkapkan bahwa kebutuhan tempat tinggal diperkirakan melonjak tajam seiring pesatnya pertumbuhan penduduk. Berdasarkan proyeksi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) DIY 2025–2045, populasi penduduk DIY diprediksi meningkat dari 3.662.110 jiwa pada 2020 menjadi 4.077.700 jiwa pada 2045.
Selain lonjakan populasi, terbatasnya ketersediaan lahan permukiman turut menjadi perhatian serius. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DIY 2023–2043, luasan kawasan permukiman perdesaan di DIY tercatat sebesar 8.144,28 hektare, sementara kawasan permukiman perkotaan hanya menyisakan luasan 5.635,44 hektare.
Kawasan Kartamantul menjadi magnet utama pencari tempat tinggal karena ditunjang oleh kelengkapan fasilitas umum, pelayanan publik, serta aksesibilitas yang relatif mudah. Tingginya permintaan properti di kawasan tersebut memicu kenaikan harga rumah secara drastis, sehingga Pemda DIY bersama pemerintah kabupaten/kota berupaya memformulasi solusi hunian terjangkau.
“Pemda DIY bersama pemerintah kabupaten/kota tentu berusaha dalam pemenuhan hunian yang layak dan terjangkau untuk masyarakat,” kata Danang, Kamis (17/9/2026).
Salah satu solusi yang diakselerasi adalah pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) melalui kolaborasi pemerintah pusat dan daerah. Contoh nyata sinergi ini adalah Rusun Muja Muju di Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, yang dibangun pada 2025–2026 memanfaatkan dukungan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Dana Keistimewaan Pemkot Jogja.
Pemda DIY bahkan telah merampungkan kajian khusus mengenai rumah susun dengan konsep Gaya Tradisional Jawa pada 2024. Kajian tersebut memetakan calon lokasi potensial, profil calon penghuni, rincian tipologi bangunan, kelembagaan pengelolaan, skema pembiayaan, hingga aturan penghunian untuk menciptakan tata kawasan terpadu.
Meski demikian, proyek rusun bergaya tradisional Jawa ini belum memasuki tahapan fisik karena masih dalam taraf penataan logistik lahan. “Baru kami petakan kebutuhannya. Karena pasti juga terkait kebutuhan lahan,” ujar Danang.
Berdasarkan data hingga November 2025, ketersediaan rusunawa di wilayah DIY terbagi di beberapa daerah. Kota Jogja memiliki lima tower dengan 216 unit hunian, Sleman mengoperasikan 18 tower berisi 1.152 unit hunian, sedangkan Bantul ditopang oleh tujuh tower yang menyediakan 660 unit hunian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD DIY mengusulkan balai RW menjadi laboratorium Pendidikan Khas Kejogjaan untuk memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya Jogja.
PKB Bantul mengukuhkan seluruh pengurus DPAC dan menyiapkan enam fokus pembenahan organisasi. Pembentukan pengurus ranting ditargetkan rampung Desember 2026.
KAI menggelar Safety Hunting bersama 30 railfans di Kulonprogo untuk mengedukasi keselamatan saat berburu foto kereta api.
Lansia 89 tahun ditemukan meninggal dengan luka bakar di sawah Godean, Sleman. Polisi masih mendalami penyebab kejadian tersebut.
Timnas Indonesia U-17 menghadapi Filipina, Kamboja, Afghanistan, dan Myanmar di Kualifikasi Piala Asia U-17 2027. Simak jadwal lengkapnya.
Kompetisi tersebut diikuti lebih dari 60 peserta yang terbagi dalam dua kategori, yakni pelajar dan profesional. Pesertanya tidak hanya berasal dari Yogyakarta,