PERPUSTAKAAN KARTA PUSTAKA TUTUP : Misi Karta Pustaka Selesai

Arief Junianto
Arief Junianto Jum'at, 05 Desember 2014 14:40 WIB
PERPUSTAKAAN KARTA PUSTAKA TUTUP : Misi Karta Pustaka Selesai

Seorang pengunjung tengah sibuk memilih beberapa judul buku dari ribuan tumpuan buku yang diobral di Perpustakaan Karta Pustaka, Kamis (4/12/2014). (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto)

Harianjogja.com, JOGJA-Berakhirnya aktivitas kepustakaan Karta Pustaka itu, diakui Direktur Karta Pustaka, Anggi Minarni sudah merupakan keputusan dari yayasan yang sudah direcanakan sejak 2013 lalu.

Alasan pembubaran yayasan itu dikarenakan pengurus yayasan menganggap kerja perpustakaan yang bernama lengkap Indonesisch-
Nederlands Cultureel Centrum/Indonesian-Dutch Cultural Center (Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda) Karta Pustaka itu sudah usai. Ketiga
misi yayasan yang dirumuskan ulang pada 2003 lalu, yakni penguatan persahabatan antara Indonesia dengan Belanda melalui kebudayaan,
memfasilitasi kegiatan pendidikan masyarakat melalui kebudayaan dan kesenian, dan mendorong upaya upaya pelestarian warisan budaya
dianggapnya sudah tercapai.

Pada 2009 lalu, juga berbagai kursus bahasa Belanda untuk komunikasi aktif, adapun kelas reguler dan les privat digelar oleh Karta Pustaka.
Terdapat 198 peserta kursus yang terdiri dari para mahasiswa, pegawai biro perjalanan, atau orang orang yang telah menikah dengan orang
Belanda. Secara total ada 16 orang yang telah mengikuti ujian dari CnaVT dari Nederlandse Taalunie (Persatuan Bahasa Belanda).

Atas bantuan Erasmus Huis, maka bagi ketiga tenaga pengajar terdapat kemungkinan untuk mengikuti pendidikan lanjutan di Pusat Bahasa
Erasmus di Jakarta, di negeri Belanda atau di Belgia. Dengan begitu, pihak yayasan menganggap perjuangan mereka pun sudah selesai.
Berita obral koleksi Karta Pustaka itu jelas menjadi kabar gembira bagi para pecinta pustaka. Tak hanya di Jogja, beberapa pemburu buku
di luar kota pun segera memesan koleksi Karta Pustaka itu dalam jumlah banyak.

Sebut saja misalnya pihak Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memborong 300 lebih judul buku. Begitu juga
Indonesia Visual Arts Archive (IVAA) dan beberapa perpustakaan lainnya.

"Ada juga pihak perpustakaan OC Kaligis yang mengorder buku ke kami. Tapi ada beberapa buku yang memang tidak boleh dijual,
seperti misalnya buku-buku pemberian dari rekanan. Nantinya buku itu akan dihibahkan ke pihak-pihak terkait," imbuh Wijonarko.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online