Dari Sampah Kelapa, Temu Membuat Boneka yang Dijual Rp20.000
Buah kelapa gabuk alias buah yang gagal menjadi kelapa biasanya dibuang percuma karena dianggap sampah yang tidak bermanfaat. Tetapi di tangan Temu Wijarsih, buah kelapa gabuk dapat dijual seharga Rp20.000. Bagaimana caranya? Berikut laporan yang ditulis Wartawan Harianjogja.com Bhekti Suryani.
Ada wajah monyet, tuyul, jin dan setan yang tergantung di depan rumah Temu Wijarsih di Bakulan Kulon, Desa Patalan, Jetis, Bantul. Wajah dengan aneka rona itu diukir di buah kelapa gabuk yang digantung di atas teras rumah Temu.
Ada wajah dengan bibir berwarna merah dan gigi putih ada pula yang polos tanpa cat warna. Sudah setahun terakhir ini lelaki, 35 tahun itu menggantung wajah boneka berbahan kelapa gabuk itu di rumahnya.
Puluhan boneka itu sengaja dipajang di depan rumah untuk menarik perhatian warga yang ingin membeli barang tersebut. Hingga saat ini, sudah lebih dari 50 boneka atau 50 buah kelapa gabuk yang ia jual ke konsumen.
“Kebanyakan yang membeli itu pelanggan saya yang potong rambut di sini, ada juga warga yang lewat singgah,” ungkap tukang cukur rambut itu saat disambangi di rumahnya Selasa (9/12/2014) siang.
Konsumen biasanya tertarik membeli boneka gabuk untuk dipajang di rumahnya, terutama rumah dengan design klasik seperti rumah Joglo. Selain itu, ada pula yang menggantung boneka gabuk di bawah pohon besar.
“Kalau kata mereka yang membeli, boneka pajangan ini bisa menambah kesan angker rumah atau pohon di depan rumah,” kata bapak satu anak itu.
Satu boneka berbahan gabuk dijual mulai dari Rp15.000-Rp20.000. Jauh dari harga kelapa gabuk asli yang ia beli dari pengepul seharga Rp1.000 per buah.
Sebagian kelapa gabuk itu bahkan ia dapatkan cuma-cuma dari hasil memulung sampah kelapa di sekitar pekarangan rumahnya. Mendapatkan bahan baku kelapa gabuk bukan perkara sulit, sebab benda tersebut banyak dibuang oleh warga.
Ide membuat boneka itu muncul setelah Temu kerap menemukan kelapa gabuk yang dibuang sembarangan karena dianggap tak berguna. Temu lalu berselancar di internet mencari ide, apa yang
bisa ia manfaatkan dari barang tak berguna itu. Ia lalu menemukan ide membuat wajah boneka.
Namun ia tak sendiri, temannya bernama Roji yang pandai mengukir kayu ia libatkan. Di tangan pemahat itu, rupa wajah boneka dapat diukir dalam waktu hanya 20 menit.
Setelah selesai, Temu lalu melanjutkan finishing dengan memberi cat warna di mulut dan gigi boneka. Satu boneka rampung dikerjakan dalam waktu 30 menit. “Mengukir di kelapa lebih mudah dari pada mengukir di kayu, jadi setelah diukir, wajah boneka disikat dan dibersihkan baru dicat,” lanjutnya.
Ia berharap, kerajinan boneka gabuk ini dapat semakin dikenal luas oleh masyarakat. Sebab, menurut dia, terlalu banyak sampah kelapa yang bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomi tinggi
ketimbang di buang sembarangan dan mencemari lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share