MUSIM HUJAN : Prambanan Lebih Diwaspadai Ketimbang Cangkringan

Sunartono
Sunartono Senin, 15 Desember 2014 08:20 WIB
MUSIM HUJAN : Prambanan Lebih Diwaspadai Ketimbang Cangkringan

Ilustrasi (google.news)

Harianjogja.com, SLEMAN - Cuaca buruk dengan kondisi hujan yang menguyur berkepanjangan berpotensi menimbulkan bencana. Dua wilayah di Sleman yang diwaspadai yakni Prambanan dan Cangkringan. Kendati demikian kawasan perbukitan Prambanan paling diwaspadai untuk saat ini.

Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengakui untuk saat ini kawasan Prambanan yang identik dengan bencana longsor lebih diwaspadai daripada banjir lahar hujan di sungai Gendol Cangkringan. Karena hampir sebagian besar kawasan perbukitan Prambanan yang banyak dihuni pemukiman masuk dalam rawan longsor.

"Meskipun hujan tidak terlalu deras, tapi itu bisa membuat tanah menjadi jenuh sehingga rawan longsor kalau Prambanan. Kalau Cangkringan
ada potensi [banjir lahar hujan] tapi butuh hujan yang sangat deras. Jadi saat ini kami lebih mewaspadai Prambanan," ungkapnya melalui sambungan telepon, Minggu (14/12/2014).

Ia menambahkan dengan kondisi cuaca buruk pihaknya menyiapkan tim khusus yang bersiaga selama 24 jam untuk mengantisipasi bencana. Tim tersebut dilengkapi dengan peralatan komunikasi serta transportasi yang cukup lengkap. Terutama untuk menjangkau sejumlah titik rawan bencana. Sehingga siap diterjunkan dalam waktu dan kondisi apapun.

Selain itu untuk kawasan Prambanan, BPBD Sleman sudah tersalur komunikasi dengan komunitas relawan yang tersebar di kawasan perbukitan. Pihaknya berharap jika ada suatu kejadian dapat segera disampaikan kepada BPBD Sleman agar dapat segera ditindaklanjuti.

"Selain longsor tanah, kami mewaspadai longsoran batu. Karena masih ada beberapa titik batu di Prambanan yang masih diupayakan untuk
dipecah pada 2015 mendatang, karena anggaran 2014 sudah selesai [untuk pemecahan batu]. Sehingga [batu yang masih ada] rawan juga karena berada di atas pemukiman," imbuhnya.

Pihaknya mengimbau kepada seluruh warga Prambanan yang tinggal di kawasan perbukitan untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Kalau misalnya hujan, cobalah untuk melihat sekitar lingkungan dan saling berkomunikasi antar warga," ungkapnya.

Tak hanya BPBD, pemantauan juga dilakukan oleh pihak kepolisian. Kapolsek Prambanan Kompol Khundori menyatakan pemantauan terus dilakukan jika terjadi hujan deras atau hujan dalam waktu cukup lama. Tujuannya agar mendapatkan informasi lebih cepat jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Sampai saat ini termonitor terus dan masih aman terkendali," ujarnya.

Berbeda dengan Cangkringan, lanjut Makwan, potensi terjadinya banjir lahar hujan dari hulu sungai Gendol tergolong kecil. Mengingat butuh curah hujan yang tinggi. Selain itu terkait aturan para penambang sudah diterbitkan aturan larangan di dalam sungai.

"Tapi itu pun jika hujan di atas [Merapi] deras, kami juga mewaspadai. Untuk sementara saat ini masih aman, semoga aman semua," ujarnya.

Terpisah Kepala Desa Kepuharjo Cangkringan Heri Suprapto menambahkan setiap kali terjadi hujan atau mendung di kawasan lereng Merapi
pihaknya selalu melakukan pemantauan. Terutama memastikan bahwa sudah tidak ada lagi penambang manual yang masih bekerja di dalam
sungai Gendol. Meski hujan deras selama beberapa hari terakhir, kata dia, belum pernah terjadi lahar hujan sampai di kawasan seperti Jambon
maupun Kopeng, Kepuharjo.

"Kalau alat berat sudah tidak ada. Tapi untuk manual ada biasany di Jambon dan Kopeng. Kalau musim hujan ke Kaliadem sudah tidak berani
karena dekat dengan hulu," kata Heri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online