Viral Persahabatan Siswa SMK Bantul, Alif Dapat Laptop dari Alumni
Video siswa SMK Muhammadiyah 1 Bantul memberi sepatu kepada temannya viral. Seorang alumni kemudian memberikan laptop untuk mendukung belajar Alif.
Kolam tambak udang tampak berdekatan dengan jalur jalan lintas selatan di Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Rabu (7/1/2015). Keberadaan tambak nantinya tergusur proyek jalan karena lebar JJLS diperluas sampai 30 meter. (JIBI/Harian Jogja/Bhekti Suryani)
JJLS DIY di Kabupaten Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul terkendala dengan masalah pembebasan tanah.
Harianjogja.com, JOGJA-Proses pembebasan lahan masih menjadi kendala utama lambatnya pembangunan proyek Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di DIY. Bahkan harga tanah yang bakal dilalui JJLS meningkat berkali lipat, jauh dari harga perkiraan yang sudah dianggarkan Pemda
DIY.
"[Warga] minta harga lebih dari harga taksiran," kata Widarto, selaku Kasi Pembangunan Jalan dan Jembatan Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) saat dihubungi, Sabtu (17/1/2015)
Widarto mengungkapkan dari target pembangunan JJLS DIY sepanjang 125,8 Km yang melintasi Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul, baru 63 Km yang selesai pembebasan lahan.
Sepanjang JJLS DIY yang dibangun tersebut tersebar di tiga Kabupaten atau di titik-titik yang lahannya sudah berhasil dibebaskan dari warga. Tahun, ini Pemda DIY berhasil membebaskan tanah sepanjang 1,5 kilometer di wilayah Samas, Bantul dan sepanjang 2 kilometer di wilayah Legundi, Kecamatan Panggang Gunungkidul (arah Pantai Baron).
"Fisik jalan sedang dibangun," ucap Widarto.
Mengenai pembangunan fisik JJLS yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dinilai Widarto tidak jadi masalah. Sebab, dana telah tersedia dan menjadi program prioritas. Sementara Pemda DIY dan pemerintah kabupaten hanya bertanggung jawab dalam pembebasan lahan.
Widarto tidak menampik adanya makelar tanah di jalur yang dilalui JJLS berupaya mempengaruhi warga sehingga harga tinggi yang jauh dari harga taksiran. Misalnya di wilayah Pantai Parang Teritis menuju daerah Panggang Gunungkidul, harga taksiran tanah Rp400.000 per meter persegi, namun warga minta Rp1-1,5 juta per meter persegi.
"Kalau mau dikatakan kendala, ini salah satunya. Kita pun terpaksa menunda dulu dan memprioritaskan pembangunan di lokasi lain yang sudah selesai pembebasan lahannya," papar Widarto.
Hal lainnya yang membuat lambatnya pembangunan JJLS, diakui Widarto adalah proses pengumpulan data, sosialisasi, dan pasang patok. Sebab, jika tanah yang dibebaskan adalah tanah waris maka semua ahli waris harus ikut tanda tangan. Terkadang ada ahli waris pemilik tanah yang tinggal di luar kota.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jaecoo J5 EV mencatat penjualan 3.200 unit pada Juli 2026, naik 4,9% dan menjadi penjualan bulanan tertinggi sepanjang Januari-Juli 2026.
KAI Daop 6 Yogyakarta menangani 1.075 barang tertinggal senilai Rp1,16 miliar sepanjang semester I/2026, naik 69,03% dari tahun sebelumnya.
Basarnas menghentikan monitoring aktif KMP Mutiara Sentosa II setelah empat hari penyisiran. Sebanyak 238 korban dipastikan telah terdata dan dievakuasi.
Veda Ega Pratama finis kesembilan di Moto3 Inggris 2026 setelah start dari posisi ke-15 dan meraih tambahan 7 poin.
Van Gastel menyoroti fisik pemain PSIM Yogyakarta usai uji coba lawan UAD FC sebelum menghadapi tim-tim Super League.